Senin, 27 Oktober 2014

Anti Anemia

KDK II

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Anemia adalah berkurangnya  jumlah eritrosit dalam darah atau kadar  hemoglobin yang kurang dari normal.
Di Negara Berkembang, anemia merupakan keadaan yang membahaya-kan ibu hamil. Wanita dewasa mempunyai kandungan zat besi sebesar 3500 – 4500 mg. 75% berada dalam eritrosit sebagai hemoglobin. 20% berada dalam tempat penyimpanan terutama dalam sumsum tulang dan RES (reticulo endohelial system) sebagai kompleks ferritin. 5% berada dalam otot.
Setiap hari seorang akan kehilangan 1 mg zat besi melalui lapisan epitel yang mati ; Pada wanita dewasa, melalui darah haid pasien akan kehilangan zat besi sekitar 1 mg perhari. Jadi kebutuhan seorang wanita tidak hamil untuk mempertahankankeseimbangan zat besi adalah 2 mg perhari. Makanan sehari-hari kira-kira mengandung 15 – 20 mg zat besi dan hanya 14 – 20% yang dapat diabsorbsi.
Usia eritrosit ± 120 hari dan setiap hari terdapat eritrosit yang mati dan mengeluarkan kandungan zat besinya yang diperlukan dalam proses pembentukan eritrosit baru.
Seseorang baik pria maupun wanita dinyatakan menderita anemia apabila kadar Hemoglobin dalam darahnya kurang dari12g/100mlAnemia lebih sering dijumpai dalam kehamilan.

1.2  Tujuan
1.      Mengetahui definisi anemia dan anti anemia.
2.      Mengetahui macam-macam anemia.
3.      Mengetahui macam-macam obat anti anemia.
4.      Mengetahui farmakokinetik, kebutuhan, indikasi, efek samping, dan dosis Fe.
5.      Mengetahui defisiensi, kebutuhan, sumber, farmakokinetik, dan dosis vitamin B12.
6.      Mengetahui kebutuhan, defisiensi, farmakokinetik, indikasi, dan dosis asam folat.

1.3 Rumusan Masalah
1.    Definisi anemia dan anti anemia.
2.    Macam-macam anemia.
3.    Macam-macam obat anti anemia.
4.    Farmakokinetik, kebutuhan, indikasi, efek samping, dan dosis  Fe.
5.    Defisiensi, kebutuhan, sumber, farmakokinetik, dan dosis vitamin B12.
6.    Kebutuhan, defisiensi, farmakokinetik, indikasi, dan dosis asam folat.




















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Anemia dan Anti Anemia

Menurut definisi, anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin, dan volume pada sel darah merah (hematokrit) per 100 ml darah. Dengan demikian, anemia bukan suatu diagnosis melainkan pencerminan dari dasar perubahan patofisiologis, yang diuraikan oleh anamnesa dan pemikiran fisik yang teliti, serta asi didukung oleh pemeriksaan laboratorium.
Anti anemia merupakan  suatu senyawa baik sintesis maupun alamiah yang bekerja untuk meningkatkan pasokan oksigen dalam darah baik dengan meningkatkan volume plasma darah ataupun dengan meningkatkan proses pembentukan SDM.  

2.2 Macam-macam anemia

1.      Anemia defisiensi (kekurangan) Zat besi
Anemia defisiensi (kekurangan) Zat besi adalah kondisi medis yang ditandai dengan berkurangnya sel darah merah di dalam tubuh akibat kekurangan zat besi.
2.      Anemia Pernisiosa (Anemia defisensi Vit. B12)
Anemia Pernisiosa (Anemia defisensi Vit. B12) adalah   penurunan sel darah merah yang terjadi ketika tubuh tidak dapat dengan baik menyerap vitamin B12 dari saluran pencernaan. Vitamin B12 diperlukan untuk pengembangan yang tepat dari sel darah merah. (Price &Sylvia, 1995).
3.      Anemia defisiensi Asam Folat (Anemia Megaloblastik)
Anemia defisiensi Asam Folat adalah kadar sel darah merah yang rendah di dalam darah akibat kekurangan asam folat di dalam tubuh, suatu vitamin yang biasanya diperlukan untuk produksi sel darah merah.
2.3 Obat Anti Anemia

Obat yang penting untuk  Eritropoesis  (faktor pertumbu-han sel darah merah) normal yaitu: zat besi (Fe), Vit B12, dan  asam  folat. Obat-obat ini digunakan untuk mengobati anemia dan dinamakan juga sebagai Hematinik.
1.      BESI (Fe) 
Zat besi merupakan mineral yg diperlukan oleh semua  sistem biologi di dalam tubuh. Besi merupakan unsur esensial untuk: sintesis hemoglobin, sintesis katekolamin, produksi panas dan sebagai komponen enzim-enzim tertentu yg diperlukan untuk produksi adenosin trifosfat yg terlibat dalam respirasi sel.

Sekitar 70% zat besi yg ada dalam tubuh merupakan Fe fungsional atau esensial (66% dlm hemoglobin, 3% dlm mioglobin sisanya pada enzim tertentu dan transferin), dan 30% merupakan Fe yg nonesensial. Cadangan Fe pada wanita hanya 200-400 mg, sedangkan pada pria kira-kira 1 gram.

Defisiensi zat besi akan mengakibatkan anemia yang menurunkan jumlah maksimal oksigen yang dapat dibawa oleh darah. Tanpa diobati penyakit anemia dapat berlanjut kepada keadaan gagal jantung.
a.      Farmakokinetik
Absorpsi:
Absorpsi  Fe melalui saluran cerna terutama berlangsung di duodenum dan jejunum proksimal. Transportnya melalui sel mukosa usus terjadi secara transfort aktif. Zat ini lebih mudah diabsorpsi dalam bentuk fero. Ion fero yg sudah diabsorpsi akan diubah menjadi ion feri dalam sel mukosa.. Selanjutnya ion feri akan masuk ke dalam plasma dengan perantara transferin, atau diubah menjadi feritin dan disimpan dalam sel mukosa usus. Bila cadangan rendah atau kebutuhan meningkat, maka Fe yang baru diserap akan segera diangkut dari sel mukosa ke sumsum tulang untuk eritropoesis.
Distribusi:
Setelah diabsorpsi, Fe dalam darah akan diikat oleh transferin untuk kemudian diangkut ke berbagai jaringan, terutama ke sumsum tulang.
Metabolisme:
Bila tidak digunakan dalam eritropoesis, Fe mengikat suatu protein yang disebut apoferitin dan membentuk feritin. Fe disimpan terutama pada sel mukosa usus halus dan dalam sel-sel retikuloendotelial (di hati, limpa dan sumsum tulang)
Ekskresi:
Jumlah Fe yang diekskresi setiap hari sedikit sekali          (sekitar  0,5 -1 mg sehari). Ekskresi terutama berlangsung melalui sel epitel kulit dan saluran cerna yg terkelupas, keringat, urin, feses serta kuku dan rambut yg dipotong.

b.   Kebutuhan Fe :
·         Laki-laki dewasa: 10 mg sehari
·         Wanita               :  12 mg sehari
·         Wanita hamil dan menyusui: tambahan asupan 5 mg sehari.
Bila kebutuhan ini tidak dipenuhi, Fe yang terdapat di dalam gudang akan digunakan dan gudang lambat laun menjadi kosong. Akibatnya timbul anemia defisiensi Fe.

c.       Indikasi :
Sediaan Fe hanya diindikasikan untuk pencegahan dan pengobatanAnemia defisiensi Fe. Penggunaan diluar indikasi ini, cenderung menyebabkan penyakit penimbunan besi dan keracunan besi.

d.   Efek samping:
·         Intoleransi terhadap sediaan oral
Gejalanya: mual dan nyeri lambung, konstipasi, diare dan  kolik.
Gangguan ini dapat dikurangi dengan mengurangi dosis atau dengan pemberian sesudah makan, walaupun dg cara ini  absorpsi dapat berkurang.
·      Pemberian secara IM dapat menyebabkan reaksi lokal pada tempat suntikan berupa rasa sakit, warna coklat pd tempat suntikan, peradangan lokal.
·      Pada pemberian IV, dapat terjadi reaksi sistemik. 
Reaksi yg dapat terjadi dlm 10 menit setelah suntikan adalah: sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hemolisis, takikardi, flushing, berkeringat, mual, muntah, bronkospasme, hipotensi, pusing dan kolaps sirkulasi.
Reaksi yg lebih sering timbul dalam ½ - 24 jam setelah suntikan: demam, menggigil, rash, urtikaria,nyeri dada,rasa sakit pada seluruh badan dan ensefalopatia, syok atau henti jantung.
e.    Dosis
Preparat
Tablet
Elemen besi tiap tablet
Dosis lazim untuk Dewasa/hari
Fero sukfat
(hidrat)
325 mg
65  mg
3 – 4
Fero glukonat
325  mg
36  mg
3 – 4
Fero fumarat
200   mg
66  mg
3 – 4
Fero fumarat
325  mg
106  mg
2 - 3




2.      VITAMIN B12
Vit B12  (Sianokobalamin) merupakan satu-satunya kelompok senyawa alam yg mengandung unsur Co dengan struktur yg mirip derivat porfirin alam lain. Umumnya senyawa dalam kelompok ini dinamakan kobalamin.

a.      Defisiensi Vit B12
Kekurangan vitamin B12   dapat disebabkan oleh:
·      kurangnya asupan
·      terganggunya absorpsi
·       terganggunya utilisasi
·      meningkatnya kebutuhan
·      destruksi yang berlebihan atau
·      ekskresi yang meningkat

Defisiensi kobalamin ditandai dengan gangguan hematopoesis, gangguan neurologi, kerusakan sel epitel terutama epitel sal cerna dan debilitas umum.
Defisiensi vitamin B12  dapat didiagnosa dengan mengukur kadar vit B12  dalam plasma.

b.      Kebutuhan vitamin B12
Orang sehat: kira-kira 1 mg sehari

c.       Sumber vit B12  alami:
Mikroorganisme/bakteri dalam kolon manusia (ini tdk berguna sebab absorpsi vit B12 terutama berlangsung dalam ileum), jadi sumber utk memenuhi kebutuhan manusia adalah : makanan hewani. Jeroan , kerang, kuning telur, susu kering bebas lemak dan makanan laut (ikan sardin, kepiting)

d.      Farmakokinetik
Absorpsi
Diabsorpsi dg baik dan cepat stlh pemberian IM dan SK.
Kadar puncak dalam plasma 1 jam setelah suntikan IM.
Absorpsi per oral berlangsung lambat di ileum.Kadar puncak dicapai 8-12 jam setelah pemberian 3 mg.
Distribusi
Setelah diabsorpsi, hampir semua vit B dalam darah terikat dengan protein plasma. Selanjutnya akan diangkut ke berbagai jaringan, terutama hati. (50-90%). Kadar normal vit B12  dlm plasma adalah 200-900 pg/mL dg simpanan 1-10 mg dalam hepar.
Metabolisme dan ekskresi
Di dalam hati Sianokobalamin maupun hidroksokobalamin akan diubah menjadi koenzim B12 .
Ekskresi melalui saluran empedu: 3 -7  mg sehari harus direabsorpsi dg perantaraan FIC.
Ekskresi bersama urin hanya terjadi pada bentuk yg tidak terikat protein. Bila kapasitas ikatan protein dari hati, jaringan dan darah telah jenuh, vit B   bebas akan dikeluarkan bersama urin.
Vit  B  dapat menembus sawar uri dan masuk ke dalam sirkulasi bayi..

e.       Dosis
Anemia pernisiosa: 1 -10  mg  sehari yg diberikan selama 190 hari.
Terapi awal: dosis 100 mg sehari parenteral selama 5 – 10 hari.
Terapi penunjang: dosis pemeliharaan 100-200 mg sebulan sekali sampai diperoleh remisi yg lengkap (jumlah eritrosit dalam darah  +4,5 juta/mm3) dan morfologi hematologik berada dalam batas-batas normal.

3.      ASAM  FOLAT
Asam folat (PmGA) terdiri atas bagian-bagian pteridin, asam paraaminobenzoat dan asam glutamat.
PmGA bersama-sama dengan konjugat yang mengandung lebih dari satu asam glutamat, membentuk suatu kelompok zat yang dikenal sebagai folat.

a.    Kebutuhan Folat
Rata-rata 50 g sehari, dalam bentuk PmGA

b.   Defisiensi Folat
Defisiensi folat sering merupakan komplikasi dari:
1.        gangguan di usus kecil
2.        alkoholisme yg menyebabkan asupan makanan buruk
3.        efek toksik alkohol pada sel hepar dan
4.        anemia hemolitik yg menyebabkan laju malih eritrosit tinggi.
5.        Obat-obat yang dapat menurunkan kadar folat dalam plasma:
Metotreksat, trimetoprim (yg dpt menhambat enzim dihidrofolat reduktase.
Fenitoin dan antikonvulsan lain, kontrasepsi oral (yg mengadakan interaksi pada absorpsi dan penyimpanan folat)

c.    Farmakokinetrik
Pada pemberian oral absorpsi folat baik sekali. Terutama di 1/3 bagian varoksimal usus halus.
2/3 dari asam folat yg terdapat dalam plasma darah terikat pada protein yang tidak difiltrasi ginjal. Distribusinya merata ke semua jaringan dan terjadi penumpukkan dalam cairan cerebrospinal. Ekresi berlangsung melalui ginjal, sebagian besar dlm bentuk metabolit.

d.   Indikasi
Penggunaan folat adalah pada pencegahan dan pengobatan defisiensi folat.
Kebutuhan asam folat meningkat pada wanita hamil, sekurang kurangnya 500 mg per hari.
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan kuat antara individu antara defisiensi asam folat pada ibu dengan insiden defek neural tuibe, spt spina bifida dan anensefalus pada bayi yg dilahirkan.

e.    Dosis
Tergantung dari beratnya anemia dan komplikasi yg ada.
Untuk diagnostik: 0,1 mg per oral selama 10 hari.

























BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Menurut definisi, anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin, dan volume pada sel darah merah (hematokrit) per 100 ml darah. Dengan demikian, anemia bukan suatu diagnosis melainkan pencerminan dari dasar perubahan patofisiologis, yang diuraikan oleh anamnesa dan pemikiran fisik yang teliti, serta asi didukung oleh pemeriksaan laboratorium.
Anti anemia merupakan  suatu senyawa baik sintesis maupun alamiah yang bekerja untuk meningkatkan pasokan oksigen dalam darah baik dengan meningkatkan volume plasma darah ataupun dengan meningkatkan proses pembentukan SDM.
  Obat yang penting untuk  Eritropoesis  (faktor pertumbu-han sel darah merah) normal yaitu: zat besi (Fe), Vit B12, dan  asam  folat. Obat-obat ini digunakan untuk mengobati anemia dan dinamakan juga sebagai Hematinik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar