KDK II
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Anemia
adalah
berkurangnya jumlah eritrosit dalam darah atau kadar hemoglobin
yang kurang dari normal.
Di Negara Berkembang, anemia
merupakan keadaan yang membahaya-kan ibu hamil. Wanita dewasa mempunyai
kandungan zat besi sebesar 3500 – 4500 mg. 75% berada dalam eritrosit sebagai
hemoglobin. 20% berada dalam tempat penyimpanan terutama dalam sumsum tulang
dan RES (reticulo endohelial system) sebagai kompleks ferritin. 5% berada dalam otot.
Setiap hari seorang akan
kehilangan 1 mg zat besi melalui lapisan epitel yang mati ; Pada wanita dewasa,
melalui darah haid pasien akan kehilangan zat besi sekitar 1 mg perhari. Jadi kebutuhan seorang wanita
tidak hamil untuk mempertahankankeseimbangan zat besi adalah 2 mg perhari.
Makanan sehari-hari kira-kira mengandung 15 – 20 mg zat besi dan hanya 14 – 20%
yang dapat diabsorbsi.
Usia eritrosit ± 120 hari dan
setiap hari terdapat eritrosit yang mati dan mengeluarkan kandungan zat besinya
yang diperlukan dalam proses pembentukan eritrosit baru.
Seseorang baik pria maupun wanita
dinyatakan menderita anemia apabila kadar Hemoglobin dalam darahnya kurang dari12g/100ml. Anemia lebih sering dijumpai
dalam kehamilan.
1.2 Tujuan
1.
Mengetahui definisi
anemia dan anti anemia.
2.
Mengetahui macam-macam
anemia.
3.
Mengetahui macam-macam
obat anti anemia.
4.
Mengetahui
farmakokinetik, kebutuhan, indikasi, efek samping, dan dosis Fe.
5.
Mengetahui
defisiensi, kebutuhan, sumber, farmakokinetik, dan dosis vitamin B12.
6.
Mengetahui kebutuhan,
defisiensi, farmakokinetik, indikasi, dan dosis asam folat.
1.3
Rumusan Masalah
1. Definisi anemia dan anti anemia.
2. Macam-macam anemia.
3. Macam-macam obat anti anemia.
4. Farmakokinetik, kebutuhan, indikasi, efek samping, dan
dosis Fe.
5. Defisiensi, kebutuhan, sumber, farmakokinetik, dan
dosis vitamin B12.
6. Kebutuhan, defisiensi, farmakokinetik, indikasi, dan dosis
asam folat.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Anemia
dan Anti Anemia
Menurut definisi, anemia adalah pengurangan jumlah sel
darah merah, kuantitas hemoglobin, dan volume pada sel darah merah (hematokrit)
per 100 ml darah. Dengan demikian, anemia bukan suatu diagnosis melainkan
pencerminan dari dasar perubahan patofisiologis, yang diuraikan oleh anamnesa
dan pemikiran fisik yang teliti, serta asi didukung oleh pemeriksaan laboratorium.
Anti anemia merupakan suatu
senyawa baik sintesis maupun alamiah yang bekerja untuk meningkatkan pasokan oksigen
dalam darah baik dengan meningkatkan volume plasma darah ataupun dengan
meningkatkan proses pembentukan SDM.
2.2 Macam-macam anemia
1.
Anemia defisiensi (kekurangan) Zat
besi
Anemia defisiensi (kekurangan) Zat besi adalah kondisi medis yang
ditandai dengan berkurangnya sel darah merah di dalam tubuh akibat kekurangan
zat besi.
2.
Anemia Pernisiosa (Anemia defisensi
Vit. B12)
Anemia Pernisiosa (Anemia defisensi Vit. B12) adalah penurunan sel darah merah yang terjadi ketika
tubuh tidak dapat dengan baik menyerap vitamin
B12 dari saluran pencernaan. Vitamin B12
diperlukan untuk pengembangan yang tepat dari sel darah merah. (Price
&Sylvia, 1995).
3. Anemia defisiensi Asam Folat (Anemia
Megaloblastik)
Anemia
defisiensi Asam Folat adalah kadar sel darah merah yang rendah di dalam darah
akibat kekurangan asam folat di dalam tubuh, suatu vitamin yang biasanya
diperlukan untuk produksi sel darah merah.
2.3 Obat Anti Anemia
Obat yang penting
untuk Eritropoesis (faktor pertumbu-han sel darah
merah) normal yaitu: zat besi (Fe), Vit B12, dan asam folat.
Obat-obat ini digunakan untuk mengobati anemia dan dinamakan juga sebagai Hematinik.
1.
BESI
(Fe)
Zat besi merupakan
mineral yg diperlukan oleh semua sistem biologi di dalam tubuh. Besi
merupakan unsur esensial untuk: sintesis hemoglobin, sintesis katekolamin, produksi panas dan
sebagai komponen enzim-enzim tertentu yg diperlukan untuk produksi adenosin
trifosfat yg terlibat dalam respirasi sel.
Sekitar 70% zat besi
yg ada dalam tubuh merupakan Fe fungsional atau esensial (66% dlm hemoglobin,
3% dlm mioglobin sisanya pada enzim tertentu dan transferin), dan 30% merupakan
Fe yg nonesensial. Cadangan Fe pada wanita hanya 200-400 mg, sedangkan pada
pria kira-kira 1 gram.
Defisiensi zat besi
akan mengakibatkan anemia yang menurunkan jumlah maksimal oksigen yang dapat
dibawa oleh darah. Tanpa
diobati penyakit anemia dapat berlanjut kepada keadaan gagal jantung.
a. Farmakokinetik
Absorpsi:
Absorpsi Fe
melalui saluran cerna terutama berlangsung di duodenum dan jejunum proksimal. Transportnya
melalui sel mukosa usus terjadi secara transfort aktif. Zat ini lebih mudah
diabsorpsi dalam bentuk fero. Ion fero yg sudah diabsorpsi akan diubah menjadi
ion feri dalam sel mukosa.. Selanjutnya ion feri akan masuk ke dalam plasma
dengan perantara transferin, atau diubah menjadi feritin dan disimpan dalam sel
mukosa usus. Bila cadangan rendah atau kebutuhan meningkat, maka Fe yang baru
diserap akan segera diangkut dari sel mukosa ke sumsum tulang untuk
eritropoesis.
Distribusi:
Setelah diabsorpsi,
Fe dalam darah akan diikat oleh transferin untuk kemudian diangkut ke berbagai
jaringan, terutama ke sumsum tulang.
Metabolisme:
Bila tidak digunakan
dalam eritropoesis, Fe mengikat suatu protein yang disebut apoferitin dan
membentuk feritin. Fe disimpan terutama pada sel mukosa usus halus dan dalam
sel-sel retikuloendotelial (di hati, limpa dan sumsum tulang)
Ekskresi:
Jumlah Fe yang
diekskresi setiap hari sedikit
sekali (sekitar 0,5
-1 mg sehari). Ekskresi terutama
berlangsung melalui sel epitel kulit dan saluran cerna yg terkelupas, keringat,
urin, feses serta kuku dan rambut yg dipotong.
b. Kebutuhan Fe :
·
Laki-laki
dewasa: 10 mg sehari
·
Wanita
: 12 mg sehari
·
Wanita
hamil dan menyusui: tambahan asupan 5 mg sehari.
Bila kebutuhan ini tidak dipenuhi, Fe yang terdapat di
dalam gudang akan digunakan dan gudang lambat laun menjadi kosong. Akibatnya
timbul anemia defisiensi Fe.
c. Indikasi :
Sediaan Fe hanya
diindikasikan untuk pencegahan dan pengobatanAnemia defisiensi Fe.
Penggunaan diluar indikasi ini, cenderung menyebabkan penyakit penimbunan besi
dan keracunan besi.
d. Efek samping:
·
Intoleransi terhadap sediaan oral
Gejalanya:
mual dan nyeri lambung, konstipasi, diare dan kolik.
Gangguan
ini dapat dikurangi dengan mengurangi dosis atau dengan pemberian sesudah makan, walaupun dg cara ini
absorpsi dapat berkurang.
·
Pemberian
secara IM dapat menyebabkan reaksi lokal pada tempat
suntikan berupa rasa sakit, warna coklat pd tempat suntikan, peradangan lokal.
·
Pada
pemberian IV, dapat terjadi
reaksi sistemik.
Reaksi yg dapat
terjadi dlm 10 menit setelah suntikan adalah: sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hemolisis, takikardi, flushing,
berkeringat, mual, muntah, bronkospasme, hipotensi, pusing dan kolaps sirkulasi.
Reaksi yg lebih sering timbul dalam ½ - 24 jam setelah
suntikan: demam, menggigil,
rash, urtikaria,nyeri dada,rasa sakit pada seluruh badan dan ensefalopatia, syok atau henti
jantung.
e. Dosis
Preparat
|
Tablet
|
Elemen
besi tiap tablet
|
Dosis
lazim untuk Dewasa/hari
|
Fero
sukfat
(hidrat)
|
325 mg
|
65 mg
|
3 – 4
|
Fero glukonat
|
325 mg
|
36 mg
|
3 – 4
|
Fero fumarat
|
200 mg
|
66 mg
|
3 – 4
|
Fero fumarat
|
325 mg
|
106 mg
|
2 - 3
|
2. VITAMIN B12
Vit B12
(Sianokobalamin) merupakan satu-satunya kelompok senyawa alam yg mengandung
unsur Co dengan struktur yg mirip derivat porfirin alam lain. Umumnya senyawa
dalam kelompok ini dinamakan kobalamin.
a. Defisiensi Vit B12
Kekurangan vitamin
B12 dapat disebabkan oleh:
·
kurangnya asupan
·
terganggunya absorpsi
·
terganggunya utilisasi
·
meningkatnya kebutuhan
·
destruksi yang berlebihan atau
·
ekskresi yang meningkat
Defisiensi
kobalamin ditandai dengan gangguan hematopoesis, gangguan neurologi, kerusakan
sel epitel terutama epitel sal cerna dan debilitas umum.
Defisiensi vitamin
B12 dapat didiagnosa dengan mengukur kadar vit B12 dalam plasma.
b. Kebutuhan vitamin B12
Orang sehat: kira-kira 1 mg sehari
c. Sumber vit B12 alami:
Mikroorganisme/bakteri
dalam kolon manusia (ini tdk berguna sebab absorpsi vit B12 terutama
berlangsung dalam ileum), jadi sumber utk memenuhi kebutuhan manusia adalah :
makanan hewani. Jeroan , kerang, kuning telur, susu kering bebas lemak dan
makanan laut (ikan sardin, kepiting)
d. Farmakokinetik
Absorpsi
Diabsorpsi dg baik
dan cepat stlh pemberian IM dan SK.
Kadar puncak dalam plasma 1 jam setelah suntikan IM.
Absorpsi per oral berlangsung lambat di ileum.Kadar
puncak dicapai 8-12 jam setelah pemberian 3 mg.
Distribusi
Setelah diabsorpsi, hampir semua vit B dalam darah
terikat dengan protein plasma. Selanjutnya akan diangkut ke berbagai jaringan,
terutama hati. (50-90%). Kadar normal vit B12 dlm plasma adalah 200-900
pg/mL dg simpanan 1-10 mg dalam hepar.
Metabolisme dan
ekskresi
Di dalam hati Sianokobalamin maupun hidroksokobalamin
akan diubah menjadi koenzim B12 .
Ekskresi melalui saluran empedu: 3 -7 mg sehari
harus direabsorpsi dg perantaraan FIC.
Ekskresi bersama urin hanya terjadi pada bentuk yg
tidak terikat protein. Bila kapasitas ikatan protein dari hati, jaringan dan
darah telah jenuh, vit B bebas akan dikeluarkan bersama urin.
Vit B dapat menembus sawar uri dan masuk
ke dalam sirkulasi bayi..
e. Dosis
Anemia pernisiosa:
1 -10 mg sehari yg diberikan selama 190 hari.
Terapi awal: dosis
100 mg sehari parenteral selama 5 – 10 hari.
Terapi penunjang: dosis pemeliharaan 100-200 mg
sebulan sekali sampai diperoleh remisi yg lengkap (jumlah eritrosit dalam
darah +4,5 juta/mm3) dan morfologi hematologik berada dalam batas-batas
normal.
3.
ASAM FOLAT
Asam folat (PmGA)
terdiri atas bagian-bagian pteridin, asam paraaminobenzoat dan asam glutamat.
PmGA bersama-sama
dengan konjugat yang mengandung lebih dari satu asam glutamat, membentuk suatu
kelompok zat yang dikenal sebagai folat.
a. Kebutuhan Folat
Rata-rata 50 g
sehari, dalam bentuk PmGA
b. Defisiensi Folat
Defisiensi folat sering
merupakan komplikasi dari:
1.
gangguan di usus kecil
2.
alkoholisme
yg menyebabkan asupan makanan buruk
3.
efek toksik alkohol pada sel hepar dan
4.
anemia hemolitik yg menyebabkan laju malih eritrosit tinggi.
5.
Obat-obat yang dapat menurunkan kadar folat dalam plasma:
Metotreksat, trimetoprim (yg dpt menhambat enzim
dihidrofolat reduktase.
Fenitoin dan antikonvulsan lain, kontrasepsi oral (yg
mengadakan interaksi
pada absorpsi dan penyimpanan folat)
c. Farmakokinetrik
Pada pemberian oral absorpsi folat baik sekali.
Terutama di 1/3 bagian varoksimal usus halus.
2/3 dari asam folat yg terdapat dalam plasma darah
terikat pada protein yang tidak difiltrasi ginjal. Distribusinya merata ke
semua jaringan dan terjadi penumpukkan dalam cairan cerebrospinal. Ekresi berlangsung
melalui ginjal, sebagian besar dlm bentuk metabolit.
d. Indikasi
Penggunaan folat adalah pada pencegahan dan pengobatan
defisiensi folat.
Kebutuhan asam folat meningkat pada wanita hamil,
sekurang kurangnya 500 mg per hari.
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan kuat
antara individu antara defisiensi asam folat pada ibu dengan insiden defek
neural tuibe, spt spina bifida dan anensefalus pada bayi yg dilahirkan.
e. Dosis
Tergantung dari
beratnya anemia dan komplikasi yg ada.
Untuk diagnostik:
0,1 mg per oral selama 10 hari.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Menurut
definisi, anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas
hemoglobin, dan volume pada sel darah merah (hematokrit) per 100 ml darah.
Dengan demikian, anemia bukan suatu diagnosis melainkan pencerminan dari dasar
perubahan patofisiologis, yang diuraikan oleh anamnesa dan pemikiran fisik yang
teliti, serta asi didukung oleh pemeriksaan laboratorium.
Anti anemia merupakan suatu
senyawa baik sintesis maupun alamiah yang bekerja untuk meningkatkan pasokan
oksigen dalam darah baik dengan meningkatkan volume plasma darah ataupun dengan
meningkatkan proses pembentukan SDM.
Obat yang penting untuk Eritropoesis (faktor
pertumbu-han sel darah merah) normal yaitu: zat besi (Fe), Vit B12, dan
asam folat. Obat-obat ini digunakan untuk mengobati anemia dan dinamakan
juga sebagai Hematinik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar