Senin, 27 Oktober 2014

Komplikasi Kala III dan IV


Obstetri

Komplikasi Kala III dan IV
1.        Atonia Uteri
a.      Pengertian
Yaitu uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah persalinan
b.      Penyebab
·         Partus lama
·         Pembesaran uterus yang berlebihan pada waktu hamil seperti pada kehamilan kembar, hidramnion atau janin besar
·         Multiparitas
·         Anastesi yang dalam
·         Anastesi lumbal
c.       Gejala
·         Perdarahan pervaginam
Perdarahan yang terjadi pada kasus atonia uteri sangat banyak dan darah tidak merembes. Yang sering terjadi adalah darah keluar disertai gumpalan. Hal ini terjadi karena tromboplastin sudah tidak lagi sebagai anti pembeku darah.
·         Konsistensi rahim lunak
Gejala ini merupakan gejala terpenting atau khas atonia uteri dan yang membedakan atonia dengan penyebab perdarahan yang lainnya.
·         Fundus uteri naik
Disebabkan adanya darah yang terperangkap dalam cavum uteri dan menggumpal
·         Terdapat tanda – tanda syok
Tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ektremitas dingin, gelisah, mual dan lain-lain.
d.      Penanganan
·         Bersihkan semua gumpalan darah atau membran yang mungkin berada di dalam mulut uterus atau di dalam uterus
·         Segera mlai melakukan kompresi bimanual interna.
·         Jika uterus sudam mulai berkontraksi secara perlahan di tarik tangan penolong. Jika uterus sudah berkontraksi, lanjutkan memantau ibu secara ketat
·         Jika uterus tidak berkontraksi setelah 5 menit, minta anggota keluarga melakukan bimanual interna sementara penolong memeberikan metergin 0,2 mg IM dan mulai memberikan IV (RL dengan 20 UI oksitosin/500 cc dengan tetesan cepat).
·         Jika uterus masih juga belum berkontraksi mulai lagi kompresi bimanual interna setelah anda memberikan injeksi metergin dan sudah mulai IV
·         Jika uterus masih juga belum berkontraksi dalam 5-7 menit, bersiaplah untuk melakukan rujukan dengan IV terpasang pada 500 cc/jam hingga tiba di tempat r ujukan atau sebanyak 1,5 L seluruhnya diinfuskan kemudian teruskan dengan laju infus 125 cc/jam.

2.      Retensio Plasenta
a.       Pengertian
Retensio placenta adalah tertahannya placenta atau belum lahirnya placenta hingga atau melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir ( Pelayanan  Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002:178 ).
b.       Penyebab
·      Plasenta belum lepas dari didnding uterus
·      Plasenta sudah lepas tetapi belum dilahirkan (disebabkan karena tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III)
·      Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta
·      Plasenta melekat  erat pada dinding uterus oleh sebab vili korealis menembus desidua sampai miometrium-sampai dibawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta)


c.        Jenis – jenis retensio placenta :
1)      Placenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion placenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.
2)      Placenta akreta adalah implantasi jonjot korion placenta hingga memasuki sebagian lapisan miometrium.
3)      Placenta inkreta adalah implantasi jonjot korion placenta hingga mencapai / memasuki miometrium.
4)      Placenta perkreta adalah implantasi jonjot korion placenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus .
5)      Placenta inkarserata adalah tertahannya placenta di dalam kavum uteri, disebabkan oleh konstruksi ostium uteri.
d.       Gejala
·      Gejala yang selalu ada adalah plasenta belum lahir dalam 30 menit
·      Perdarahan segera kontraksi uterus baik.
·      Gejala yang kadang-kadang timbul yaitu tali pusat putus akibat traksi berlebihan
·       Inversi uteri akibat tarikan, perdarahan lanjutan.
·      Gejala yang selalu ada yaitu plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap dan perdarahan segera.
·      Gejala yang kadang-kadang timbul uterus berkontraksi baik tetapi tetapi tinggi fundus tidak berkurang.

Gambaran dan dugaan penyebab retensio placenta
Gejala
Separasi / akreta parsial
Plasenta inkarserata
Plasenta akreta
Konsistensi uterus
Kenyal
Keras
Cukup
Tinggi fundus
Sepusat
2 jari bawah pusat
Sepusat
Bentuk fundus
Diskoid
Agak globuler
Diskoid
Perdarahan
Sedang-banyak
Sedang
Sedikit / tidak ada
Tali pusat
Terjulur sebagian
Terjulur
Tidak terjulur
Ostium uteri
Terbuka
Konstriksi
Terbuka
Separasi plasenta
Lepas sebagian
Sudah lepas
Melekat seluruhnya
Syok
Sering
Jarang
Jarang sekali

e.        Penanganan
1)      Penanganan Retensio Plasenta Secara Umum
·         Jika placenta terlihat dalam vagina, mintalah ibu untuk mengedan dan jika merasakan placenta dalam vagina, keluarkan placenta tersebut.
·         Pastikan kandung kemih sudah kosong. Jika diperlukan lakukan kateterisasi kandung kemih.
·         Jika placenta belum keluar, berikan oksitosin 10 unit 1 M, jika belum dilakukan pada kala III
·         Jangan berikan ergometrin karena dapat menyebabkan kontraksi uterus yang tonik yang bisa memperalmbat pengeluaran placenta
·         Jika placenta belum dilahirkan setelah 30 menit pemberian oksitosin dan uterus terasa berkontraksi lakukan penarikan tali pusat terkendali
·         Jika traksi pusat terkendali belum berhasil, cobalah untuk mengeluarkan plasenta secara manual. Jika perdarahan terus berlangsung, lakukan uji pembekuan darah sederhana. Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukan koagulapati
·         Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam, secret vagina yang berbau), berikan antibiotik untuk metritis.
2)      Penanganan Retensio Plasenta
·         Tentukan jenis retensio yang terjaid karena berkaitan dengan tindakan yang di ambil.
·         Regangkan tali pusat dan minta pasien untuk mengedan. Bila ekspulsi plasenta tidak terjadi coba traksi terkontrol tali pusat.
·         Pasang infus oksitosin 20 IU dalam 500 mL NS/RL dengan 40 tetes permenit. Bila perlu kombinasikan dengan misoprostol 400 mg per rektal (sebaiknya tidak menggunakan ergometrin karena kontraksi tonik yang timbul dapat menyebabkan plasenta terperangkap dalam kavum uteri).
·         Bila traksi terkontrol gagal untuk melahirkan plasenta, lakukan manual palsenta secara hati-hati dan halus untuk menghindari terjadinya perforasi dan perdarahan.
·         Lakukan tranfusi darah apabila diperlukan.
·         Berikan antibiotika profilaksis (ampisislin 2 g IV / oral + metronidazole 1 g supositoria/oral).
·         Segera atasi bila terjadi komplikasi perdarahan hebat, infeksi, syok neurogenik.

3.      Inversio Uteri
a.      Pengertian
Pada inversio uteri, uterus berputar balik, sehingga fundus uteri terdapat di dalam vagina dengan selaput lendirnya sebelah luar. Keadaan ini disebut Inversio Uteri Completa.
Kalau hanya fundus menekuk ke dalam dan tidak keluar ostium uteri, disebut Inversio Unteri Incompleta.
Kalau uterus yang berputar balik itu keluar dari vulva, disebut Inversio Prolaps.
Inversio uteri jarang terjadi, tetapi jika terjadi dapat menimbulkan Shock yang berat.
b.      Penyebab
1.    Penatalaksanaan yang salah pada kala tiga persalinan termasuk penarikan tali pusat yang berlebihan untuk pelahiran plasenta secara aktif.
Akibat traksi tali pusat dengan plasenta yang berimplantasi di bagian fundus uteri dan di lakukan dengan tenaga berlebihandi luar kontraksi uteru yang menyebabkan inversion uteri.
2.      Kombinasi tekanan fundus dan penarikan tali pusat untuk melahirkan plasenta
3.      Penggunaan tekanan fundus untuk melahirkan plasenta saat uterus atonik
4.      Perlekatan plasenta yang patologis
5.      Terjadinya secara spontan tidak diketahui penyebabnya
6.      Primiparitas
7.      Makrosomia janin
8.      Tali pusat pendek
9.      Pengosongan yang tiba-tiba saat uterus mengalami distensi
c.       Gejala
·         Shock
·         Fundus uteri sama sekali tidak teraba atau teraba lakukan pada fundus.
·         Kadang-kadang tampak sebuah tumor yang merah di luar vulva ialah fundus uteri yang terbalik atau teraba tumor dalam vagina.
·         Perdarahan.
d.      Penanganan
1.      Memanggil bantuan anestesi dan memasang infus untuk cairan/darah penggantian dan pemberian obat
2.      Beberapa senter memberikan tokolitik/ MgSO4 untuk melemaskan uterus yang ter balik sebelum dilakukan reposisi manual yaitu mendorong endometrium ke atas masuk ke dalam vagina dan terus melewati serviks sampai tangan masuk ke dalam uterus pada posisi normalnya. Hal itu dapat dilakukan sewaktu plasenta sudah terlepas atau tidak.
3.      Didalam uterus plasenta dilepaskan secara manual dan bila berhasil di keluarkan dari rahim dan sambil memberikan uterotonika lewat infuse atau intra muscular tangan tetap di pertahankan agar konfigurasi uterus kembali normal dan tangan operator baru dilepaskan.
4.      Pemberian antibiotika dan tranfusi darah sesuai dengan keperluannya
5.      Intervensi bedah dilakukan bila karena jepitan serviks yang keras menyebabkan maneuver di atas tidak bisa dikerjakan, maka dilakukan laparotomi untuk reposisi dan kalau terpaksa dilakukan histerektomibila uterus sudah mengalami infeksi dan nekrosis.
4.       Emboli Air Ketuban
a.      Pengertian
Emboli air ketuban adalah syok yang berat sewaktu persalinan selain oleh plasenta previa dapat disebabkan pula oleh emboli air ketuban.(Obstetri Patologi. 1981:128).
Emboli air ketuban adalah merupakan salah satu penyebab syok disebabkan karena perdarahan.(Ilmu Kebidanan. 2002:672).
b.      Penyebab
Masuknya air ketuban ke vena endosentrik/sinus yang terbuka didaerah tempat perlekatan plasenta.
c.       Gejala
·         Gelisah
·         Mual muntah disertai takikardu dan dispnea.
·         Sianosis
·         TD menurun.
·         Nadi cepat dan lemah.
·         Kesadaran menurun.
·         Nistasmus dan kadang timbul kejang tonik klonik.
·         Syok.
d.      Penanganan
1)      Tindakan umum.
·         Segera memasang infuse dua tempat sehingga cairan segera dapat diberikan untuk mengatasi syok. Berikan O2 dengan tekanan tinggi ssehingga dapat menambah O2 dalam darah.
·         Untuk jantung dapat diberikan: Resusitasi jantung
2)      Pengobatan
·      Pemberian transfuse darah segar.
·      Fibrinogen.
·       Oxygen.
·      Heparin/trasylor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar