Kesehatan Masyarakat
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan
pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau
perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Salah satu tujuan nasional adalah
memajukan kesejahteraan bangsa, yang berarti memenuhi kebutuhan dasar
manusia, yaitu pangan, sandang, pangan, pendidikan,
kesehatan, lapangan kerja dan ketenteraman
hidup.Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup
sehat bagi setiap penduduk, jadi tanggung jawab untuk terwujudnya derajat kesehatan
yang
optimal berada di tangan seluruh rakyat masyarakat Indonesia, pemerintag dan
swasta bersama – sama. Salah satu usaha pemerintah dalam menyadarkan masyarakat
tentang hidup sehat dan pelaksanaanya bagaimana cara hidup sehat adalah dengan
cara melakukan pendidikan kesehatan yang tidak hanya didapat dibangku sekolah
tapi juga bisa dilakukan dengan cara penyuluhan oleh tim medis. Yang biasa
disebut dengan promosi kesehatan ataupun penyuluhan kesehatan.
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional.
Dalam konstitusi Organisasi Kesehatan Dunia tahun 1948 disepakati antara lain
bahwa diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya adalah hak yang
fundamental bagi setiap orang tanpa membedakan ras, agama, politik yang dianut dan
tingkat sosial ekonominya.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa itu promosi
kesehatan?
2.
Apa itu etika dalam
promosi kesehatan?
3. Bagaimana Analisis Masalah Kesehatan
dan Perilaku dalam promosi kesehatan?
4. Bagaimana Menetapkan Sasaran dalam promosi kesehatan?
5. Bagaimana Menetapkan Tujuan dalam
promosi kesehatan?
6. Bagaimana Menetapkan Pesan Pokok dalam
promosi kesehatan?
7. Bagaimana
Menetapkan Metode dan Saluran Komunikasi dalam promosi kesehatan?
8. Menetapkan
Kegiatan Operasional dalam promosi kesehatan?
9. Bagaimana
Menetapkan Pemantauan dan Evaluasi dalam promosi kesehatan?
10. Pertimbangan-pertimbangan
Etis dalam promosi kesehatan?
11. Bagaimana hubungan
dengan klien dalam etika promosi kesehatan?
12. Bagaimana kepedulian
dengan determinan sosial dan hubungan terhadap kesehatan dalam etika promosi
kesehatan?
1.3
Tujuan
Penulisan
1.
Untuk
mengetahui promosi kesehatan.
2.
Untuk
mengetahui etika dalam promosi kesehatan.
3. Untuk mengetahui Analisis
Masalah Kesehatan dan Perilaku dalam promosi kesehatan.
4. Untuk mengetahui Menetapkan Sasaran dalam promosi
kesehatan.
5. Untuk mengetahui Tujuan dalam
promosi kesehatan.
6. Untuk mengetahui Pesan Pokok dalam
promosi kesehatan.
7. Untuk mengetahui Metode
dan Saluran Komunikasi dalam promosi kesehatan.
8. Untuk mengetahui Kegiatan Operasional dalam
promosi kesehatan.
9. Untuk mengetahui Pemantauan dan Evaluasi dalam
promosi kesehatan.
10. Untuk mengetahui Pertimbangan-pertimbangan
Etis dalam promosi kesehatan.
11. Untuk mengetahui hubungan dengan klien dalam etika promosi kesehatan.
12. Untuk mengetahui kepedulian dengan determinan sosial
dan hubungan terhadap kesehatan dalam etika promosi
kesehatan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Menurut para ahli, etika tidak lain
adalah aturan perilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya
dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Etika berasal dari bahasa
Yunani yaitu”Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan
(custom). Etika biasanyaberkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan
istilah dari bahasa latin, yaitu”Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang
berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan
perbuatan yang baik (kesusilaan) dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.
Etika dan moral kurang lebih sama pengertiaannya, tetapi dalam kegiatan
sehari-hari terdapat perbedaan. Moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan
yang dilakukan, sedangkan etika adalah
untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku. Dengan kata lain, pengertian
etika sebagai pandangan manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai yang
terbaik .
Terdapat dua macam etika (Keraf,1991)
yaitu etika deskriptif dan etika normative. Etika deskriptif yaitu etika yang
menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia serta
apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang
bernilai. Artinya etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa
adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang
terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya. Dapat disimpulkan bahwa
tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa dinilai dalam suatu
masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia dapat
bertindak secara etis. Etika normativ, etika yang menetapkan berbagai sikap dan
perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang
seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup
ini. Jadi, etika normativ merupakan norma-norma yang dapat menuntun agar
manusia bertindak secara baik dan menghindarkan hal-hal yang buruk, sesuai
dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat.
Paradigma pembangunan kesehatan yang
baru yaitu paradigma sehat yang merupakan upaya untuk lebih meningkatkan
kesehatan masyarakat yang bersifat proaktif. Paradigma sehat sebagai model
pembangunan kesehatan yang dalam jangka panjang diharapkan mampu mendorong
masyarakat untuk mandiri dalam menjaga kesehatan melalui kesadaran yang lebih
tinggi pada pentingnya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan
preventive.
Dalam Indonesia sehat 2010, lingkungan
yang diharapkan adalah yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat yaitu
lingkungan yang bebas dari polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan
yang memadai, pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan
kesehatan, serta terwujudnya kehidupan masyarakat yang saling tolong menolong.
Perilaku masyarakat Indonesia serta 2010 yang diharapkan adalah yang bersifat
proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah risiko
terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta
berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat.
2.2 Analisis
Masalah Kesehatan dan Perilaku
Masalah adalah ketidaksesuaian antara
harapan dan kenyataan. Suatu masalah adalah suatu masalah atau kendala yang
membuatnya sulit untuk mencapai tujuan yang diinginkan, objektif atau tujuan.
Ini mengacu pada situasi, kondisi, atau masalah yang belum terselesaikan. Dalam
arti luas, sebuah masalah ada ketika seorang individu menjadi sadar akan
perbedaan yang signifikan antara apa yang sebenarnya dan apa yang diinginkan.
Dalam melakukan upaya promkes masalah yang ada perlu dianalisis secara cermat
agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Analisis masalah kesehatan
merupakan upaya sistematis untuk mengidentifikasi masalah yang hendak
ditanggulangi, dengan mengumpulkan data dasar, membuat rumusan masalah, mencari
“akar” masalah dan prioritas masalah sehingga hasil analisis harus dapat dirumuskan
secara jelas. Perilaku, promosi kesehatan sebagai proses perubahan perilaku.
Tujuan promosi kesehatan adalah mengubah perilaku individu, kelompok, dan
masyarakat menuju hal-hal positif secara terencana melalui proses belajar. Perubahan
perilaku mencakup tiga ranah perilaku, yaitu pengetahuan, sikap, dan
keterampilan. Melalui promosi kesehatan (perilaku sehat) akan terjadi emosi
yang positif, pengetahuan yang baik, pikiran sehat, keinginan yang realistis,
dan lain sebagainya yang selanjutnya perilaku tersebut di aplikasikan secara
nyata oleh tiap-tiap individu dalam lingkungan keluarga, kelompok dan
masyarakat.
2.3 Menetapkan
Sasaran
Sasaran perlu ditetapkan agar promosi
kesehatan dapat tercapai sesuai dengan yang diinginkan. Missal sasaran pada ibu
hamil, balita, lansia, penyakit khusus dengan resiko tinggi. Juga menyangkut
strategi individu, kelompok, dan masyarakat. Kelompok sasaran: jelas,realistis,dan
bisa diukur. Telah di sebutkan di atas bahwa tujuan akhir atau visi promosi
kesehatan adalah kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan mereka sendiri. Dari visi ini jelas bahwa yang menjadi sasaran utama
promosi kesehatan adalah masyarakat, khususnya lagi perilaku masyarakat. Namun
demikian, karena terbatasnya sumber daya, akan tidak efektif apabila upaya atau
kegiatan promosi kesehatan, baik yang di selenggarakan oleh pemerintah maupun
swasta itu, langsung di alamatkan kepada masyarakat. Oleh sebab itu perlu di
lakukan pentahapan sasaran promosi kesehatan. Berdasarkan pentahapan upaya
promosi kesehatan ini, maka sasaran di bagi dalam 3 kelompok sasaran yaitu
sasaran primer, sekunder dan tersier.
2.4 Menetapkan
Tujuan
Begitu juga tujuan yang diharapkan harus
dirumuskan pula secara jelas. Apa akan dicapai dalam jangka pendek,menengah
atau jangka panjang. Tujuan utama promosi kesehatan adalah menetapkan masalah
dan kebutuhan mereka sendiri,memahami apa yang dapat mereka lakukan terhadap
masalahnya dengan sumber daya yang ada pada mereka ditambah dengan dukungan
dari luar, serta memutuskan kegiatan yang paling tepat guna meningkatkan taraf
hidup sehat dan kesejahtaraan masyarakat. Sedangkan tujuan pembangunan
kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat
bagi setiap orang agar terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang optimal
melalui terciptanya masyarakat ,bangsa,dan Negara Indonesia yang ditandai oleh
penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat memiliki
kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu,adil,dan merata serta
memiliki derajat kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Indonesia. Tujuan
biasanya merupakan hal yang paling penting dalam proses dan produk. “Proses”
promosi kesehatan mencakup cara individu mendapatkan informasi dan wawasannya,
serta bagaimana kemampuan pengambilan keputusan mengalami kemajuan sejak
menggunakan atau membuang informasi yang ia anggap tepat. “Produk” promosi
kesehatan atau hasil akhir, seringkali tidak dapat dihitung sehingga sulit
untuk di ukur, tanpa memerhatikan secara signifikan jumlah sampel, dan jutaan
faktor lain yang dapat menyebabkan efek yang tidak diperhitungkan (Crafter,
1997).
Kehamilan remaja adalah contoh yang baik
untuk menformulasikan tujuan aktifitas promosi kesehatan. Dalam konteks proses,
bidan dapat memutuskan mengarahkan tujuan yang di tetapkan untuk meningkatkan
kesadaran masalah seksual di antara ibu remaja pertama kali, dan memfasilitasi
suatu forum tempat membahas dan menggali secara terbuka metode kontrasepsi,
nilai personal, dan menjalin hubungan. Tujuan produk setelah aktivitas seperti
ini mungkin meningkatkan jarak waktu antara bayi pertama dan bayi kedua.
Tujuan dari aktivitas atau proyek promosi
kesehatan sebaiknya mencerminkan kebutuhan pengguna, bukan kebutuhan bidan.
Dengan semakin meningkatnya kesadaran tentang masalah seksual pada remaja,
beberapa di antaranya memilih untuk merencanakan kehamilan mereka yang tampak
menjadi momok kondisi sosialnya, meskipun dapat di perdebatkan bahwa hal ini
mengenai faktor pendidikan dan sosioekonomi yang buruk, bukan pada pilihan yang
sesungguhnya (Teenage Pregnancy Unit [TPU] 2003). Mungkin sulit bagi bidan
untuk menerima keputusan individu mengenai hidupnya, tetapi ini bukan berarti
tidak memperbolehkan bidan untuk menentukan apa yang baik lagi wanita muda
tersebut. Ibu usia remaja sendiri juga harus menentukan masalah karena mereka
yang mengetahui dengan baik tekanan, masalah dan realitas dalam kehidupan
mereka, dan mereka menjadi kunci bagaimana area ini dapat menjadi target yang
baik (Social Exclucion Unit [SEU], Health Develompment Agency, 2004).
Bidan yang baik menyadari bahwa hanya
dengan perempuan orang per orang atau satu orang dengan kelompok kecil akan
member dampak yang lebih sedikit terhadap alasan mengapa ibu usia remaja yang
hamil pertama kali akan cepat mengandung anak yang ke dua. Berbagai kasus dalam
contoh ini akan lebih baik di bahas pada tingkat komunitas dibandingkan per
individu mengarah pada masalah pendidikan dan sosioekonomi yang memengaruhi ibu
baru usia remaja (SEU 1999, TPU 2003). Oleh sebab itu, aktivitas promosi
kesehatan kebidanan akan bekerja sama dengan lembaga lain, sebagai contoh Sure
Start. The Sure Start dan program Sure Start Plus, merupakan lembaga tempat
banyak bidan Inggris Raya berkecimpung di dalamnya, dan menggambarkan dengan
sangat baik bagaimana contoh – contoh di atas dapat diterapkan dalam praktik
melalui kerja mandiri dan bekerja sama dengan lembaga lain. Sure Start telah
memberikan peggunanya pedoman yang sama dalam setiap proyeknya, telah membawa
bidan menjadi salah satu praktisi yang terlibat dan memperlihatkan kemampuan
bidan untuk bekerja sama (Doh 1999b, Wiggins et al. 2003).
2.5 Menetapkan
Pesan Pokok
Pesan adalah informasi yang dikirimkan.
Dapat berupa kata-kata, gerakan tubuh atau ekspresi wajah. Pesan yang akan
disampaikan dalam promosi kesehatan adalah pesan yang terus diingat, dapat juga
digunakan sewaktu-waktu oleh sasaran, cara penyampaian menarik, menggunakan
kata-kata yang baik serta ekspresi wajah dan intonasi yang membuat klien
nyaman. Penyebab alasan sasaran lupa pesan yang disampaikan meliputi alasan
psikologis, merasa kurang tertarik dengan pesan yang disampaikan, ingatan (fading),
pesan tidak dipergunakan dalam waktu yang lama, blocking, serta banyak
pesan-pesan baru, sedangkan pesan lama belu melekat secara mantap. Pesan dalam
program pembangunan dikelompokkan dalam pokok-pokok program yang pelaksanaannya
dilakukan secara terpadu dengan pembangunan sector lain yang memerlukan
dukungan dan peran serta masyarakat. Ada tujuh program pembangunan kesehatan
yaitu (Depkes, 1999):
1. Program
perilaku dan pemberdayaan masyarakat;
2. Program
lingkungan sehat;
3. Program
upaya kesehatan;
4. Program
pembangunan sumber daya kesehatan;
5. Program
pengawasan obat, makanan dan obat berbahaya;
6. Program
kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan;
7. Program
pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan.
Untuk
meningkatkan percepatan perbaikan derajat kesehatan masyarakat yang dinilai
penting untuk mendukung keberhasilan program pembangunan nasional ditetapkan
sepuluh program unggulan kesehatan (Depkes,1999):
1. Program
kebijakan kesehatan,pembiayaan kesehatan dan hukum kesehatan;
2. Program
perbaikan gizi;
3. Program
pencegahan penyakit menular termasuk imunisasi;
4. Program
peningkatan perilaku hidup sehat dan kesehatan mental;
5. Program
lingkungan pemukiman, air da sehat;
6. Program
kesehatan keluarga, kesehatan reproduksi, dan keluarga berencana;
7. Program
kesehatan dan kesehatan kerja;
8. Program
anti tembakau, alcohol dan madat;
9. Program
pengawasan obat,bahan berbahaya, makanan dan minuman;
10. Program
pencegahan kecelakaan dan keselamatan lalu lintas.
2.6 Menetapkan
Metode dan Saluran Komunikasi
Metode dan teknik promosi kesehatan
adalah suatu kombinasi antara cara – cara atai metode alat – alat bantu atau
media yang di gunakan dalam setiap pelaksanaan promosi kesehatan. Dengan
perkataan lain, metode dan teknik promosi kesehatan, adalah dengan cara dan
alat apa yang di gunakan oleh pelaku promosi kesehatan untuk menyampaikan pesan
– pesan kesehatan atau mentransformasikan perilaku kesehatan kepada sasaran
atau masyarakat. Berdasarkan sasarannya, metode dan teknik promosi kesehatan di
bagi menjadi 3 yaitu :
a. Metode
promosi kesehatan individual
Metode
ini di gunakan apabila promoter kesehatan dan sasaran atau kliennya dapat
berkomunikasi langsung, baik bertatap muka (face
to face) maupun melalui sasaran komunikasi lainnya, misalnya telepon. Cara
ini paling efektif, karena antara petugas kesehatan dengan klien dapat saling
dialog, saling merespons dalam waktu yang bersamaan. Dalam menjelaskan masalah
kesehatan bagi kliennya petugas kesehatan dapat menggunakan alat bantu peraga
yang relevan dengan masalahnya. Metode dan teknik promosi kesehatan, antara
lain:
1.
Bimbingan
dan penyuluhan (Guidance and Councelling)
Dengan cara ini kontak antara klien dan
petugas lebih intensif. Setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat diteliti
dan dibantu penyelesaiannya. Akhirnya klien tersebut dengan sukarela, berdasarkan
kesadaran, dan penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut (mengubah
perilaku).
2.
Wawancara
(interview)
Wawancara
antara petugas kesehatan dengan klien untuk menggali informasi mengapa ia tidak
atau belum menerima perubahan, apakah ia tertarik atau tidak terhadap
perubahan, untuk mengetahui apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi
itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat. Apabila belum maka
perlu penyuluhan yang lebih mendalam lagi.
b. Metode
promosi kesehatan kelompok
Teknik dan metode promosi kesehatan kelompok ini di
gunakan untuk sasara kelompok. Sasaran kelompok di bedakan menjadi dua, yakni
kelompok kecil dan kelompok besar. Disebut kelompok kecil kalau kelompok
sasaram terdiri antara 6 – 15 orang, sedang kelompok besar bila sasaran di atas
15 sampai dengan 50 orang. Oleh sebab itu, metode promosi kesehatan kelompok
juga di bedakan menjadi 2 yaitu :
1) Metode
dan teknik promosi kesehatan untuk kelompok kecil, misalnya : diskusi kelompok,
metode curah pendapat (brain storming),
bola salju (snow ball), bermain peran
(role play), kelompok kecil (buzz group) metode permainan simulasi (simulation game), dan sebagainya. Untuk
mengefektifkan metode ini perlu di bantu dengan alat bantu atau media, misalnya
: lembar balik (flip chart), alat
peraga, slide, dan sebagainya.
2) Metode
dan teknik promosi kesehatan untuk kelompok besar, misalnya : metode ceramah
yang di ikuti atau tanpa di ikuti dengan Tanya jawab, seminar, loka karya, dan
sebagainya. Untuk memperkuat metode ini perlu di bantu pula dengan alat bantu
misalnya, overhead projector, slide
projector, film, sound system, dan sebagainya.
c. Metode
promosi kesehatan massa
Apabila sasaran promosi kesehatan adalah
massal atau public, maka metode – metode dan teknik promosi kesehatan tersebut
tidak akan efektif, karena itu harus di gunakan metode promosi kesehatan massa.
Merancang metode promosi kesehatan massal memang paling sulit, sebab sasaran
publik sangat hiterogen, baik di lihat dari kelompok umur, tingkat pendidikan,
tingkat sosial ekonomi, sosio – budaya dan sebagainya. Kita memahami masing –
masing kelompok sasaran sangat variatif tersebut berpengaruh terhadap cara
merespons, cara mempersepsikan dan pemahaman terhadap pesan – pesan kesehatan.
Padahal kita harus merancang dan meluncurkan pesan – pesan kesehatan tersebut
kepada massa tersebut dengan metode, teknik, dan isi yang sama. Metode dan
teknik promosi kesehatan untuk massa yang sering di gunakan adalah :
1) Ceramah
umum (public speaking), misalnya di
lapangan terbuka dan tempat – tempat umum (public
place).
2) Penggunaan
media massa elektronik, seperti radio dan televise. Penyampaian pesan melalui
radio dan TV ini dapat di rancang dengan berbagai bentuk, misalnya : sandiwara
(drama), talk show, dialog
interaktif, simulasi, spot dan sebagainya.
3) Penggunaan
media cetak, seperti Koran, majalah, buku, leaflet,
selebaran, poster, dan sebagainya. Bentuk sajian dalam media cetak ini juga
bermacam – macam, antara lain : artikel, Tanya jawab, komik, dan sebagainya.
4) Penggunaan
media di luar ruangan, misalnya : billboard,
spanduk, umbul – umbul dan sebagainya.
Selanjutnya Saluran Komunikasi atau
Media promosi kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk menampilkan pesan
atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media
cetak, elektronik, dan media luar ruang sehingga sasaran dapat meningkat
pengetahuannya yang akhirnya diharapkan dapat berubah perilakunya kearah
positif terhadap kesehatan.
1. Tujuan
media promosi kesehatan
Adapun
beberapa tujuan atau alasan mengapa media sangat diperlukan di dalam
pelaksanaan Promosi Kesehatan antara lain:
a. Media
dapat mempermudah penyampaian informasi
b. Media
dapat menghindari kesalahan persepsi
c. Dapat
memperjelas informasi
d. Media
dapat mempermudah pengertian
e. Mengurangi
komunikasi yang verbalistik
f. Dapat
menampilkan objek yang tidak bisa ditangkap dengan mata
g. Memperlancar
komunikasi, dll
2. Penggolongan
media promosi kesehatan berdasarkan cara produksinya, yaitu:
a. Media
cetak, yaitu media yang mengutamakan pesan-pesan visual umumnya terdiri dari
gambaran sejumlah kata, gambar atau foto dalam tata warna. Macam-macam dari
media cetak antara lain: poster, leaflet, brosur, majalah, surat kabar, lembar
balik, sticker, dan pamflet.
b. Media
elektronika, yaitu suatu media bergerak dan dinamis, dapat dilihat dan didengar
dalam menyampaikan pesannya melalui alat bantu elektonika. Adapun macamnya
antara lain televise, radio, video, slide, flim, cassette, CD dan VCD.
c. Media
luar ruang yaitu media yang menyampaikan pesannya diluar ruang secara umum, misalnya
papan reklame, spanduk, banner dan TV layar lebar.
2.7 Menetapkan
Kegiatan Operasional
Penetapan
kegiatan operasional menyangkut waktu,tempat,dan jadwal pelaksanaan. Untuk
mencapai taraf kesehatan bagi semua,yang terpenting adalah menetapkan kegiatan
operasional yang harus tercakup dalam pelayanan kesehatan dasar:
1. Pendidikan
tentang masalah kesehatan umum,cara pencegahan,dan pemberantasannya;
2. Peningkatan
persediaan pangan dan kecukupan gizi;
3. Penyediaan
air minum dan sanitasi dasar;
4. Pelayanan
kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana;
5. Imunisasi;
6. Pengobatan
dan pengadaan obat.
Pelayanan
kesehatan dasar merupakan kunci untuk mencapai derajat kesehatan yang layak
bagi semua, maka perencanaan, pengorganisasian, dan penyelenggaraan yang efisien
mutlak diperlukan di samping harus berdasarkan hal-hal berikut:
1. Perikemanusiaan,
kesehatan sebagai hak asasi, pemberdayaan, dan emandirian masyarakat.
2. Pengutamaan
upaya kesehatan promotif dan upaya kesehatan preventive.
3. Pelayanan
kesehatan perorangan yang sesuai kebutuhan.
4. Dukungan
sumber daya kesehatan.
5. Misi
pembangunan kesehatan.
6. Strategi
pembangunan kesehatan.
2.8 Menetapkan
Pemantauan dan Evaluasi
Kamus Oxford Concise Dictionary of
Current English (Allen 1993) mendefinisikan evaluasi sebagai “suatu proses
pengkajian dan penilaian”. Evaluasi merupakan proses yang kita lakukan setiap
hari, baik oleh profesional maupun individu. Jika evaluasi dikaitkan dengan
pengkajian dan penilaian kelayakan suatu aktivitas, berarti kita melakukan
proses tersebut untuk merefleksikan tindakan kita dan kemudian memperbaiki
tindakan tersebut atau melanjutkannya (Katz dan Perberdy 2001).
Dalam promosi kesehatan evaluasi
diselenggarakan dalam praktik dan ditujukan untuk merefleksikan atau membentuk
praktik promosi kesehatan secara eksplisit. Tones dan Tilford (1994, hlm. 49)
menyatakan bahwa:
Evaluasi
berfokus pada pengkajian suatu aktivitas terhadap nilai dan tujuan dalam beberapa cara yang hasilnya
dapat berkontribusi dalam pembuatan keputusan dan/ suatu kebijakan di masa
datang....
Pemantauan
dan evaluasi yang dilakukan mencakup hal-hal berikut:
1. Memperkenalkan
kepada masyarakat gagasan dan teknik perilaku program promosi kesehatan melelui
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). PHBS merupakan pendekatan terencana untuk
mencegah penyakit menular melalui perubahan perilaku masyarakat secara luas.
Program ini dimulai dari apa yang diketahui,diinginkan dan dilakukan
masyarakat. Perencanaan suatu program promosi hygiene untuk masyarakat
dilakukan berdasarkan jawaban atau pertanyaan di atasa atau bekerja sama dengan
pihak yang terlibat, untuk diperlukan pesan-pesan sederhana,positif,dan menarik
yang dirancang untuk dikomunikasikan lewat sarana local seperti poster, leaflet.
2. Mengidentifikasikan
perubahan perilaku masyarakat. Identifikasi perilaku beresiko dilakukan pada
tahap ini melalui pengamatan terstruktur. Dengan demikian, cara pendekatan baru
terhadap perbaikan hygiene dapat ditemukan.
3. Memotivasi
perubahan perilaku masyarakat. Langkah-langkah memotivasi orang untuk menerapkan
perilaku hygiene, termasuk memilih beberapa perubahan perilaku yang diharapkan.
4. Mencari
tahu apa yang dirasakan oleh kelompok sasaran mengenai perilaku tersebut
melalui diskusi terfokus,wawancara dan uji coba perilaku
5. Membuat
pesan yang tepat sehingga sasaran mau melakukan perubahan perilaku.
6. Menciptakan
sebuah pesan sederhana, positif, menarik berdasarkan apa yang disukai kelompok
sasaran.
2.9 Hubungan
Dengan Klien
Pendidikan pasien merupakan hubungan
terapeutik yang harus difokuskan terhadap kebutuhan spesifik klien. Klien
memiliki nilai yang unik, kepercayaan atau agama, kemampuan kognitif, dan
pilihan cara untuk belajar yang memengaruhi hasil akhir dari proses pendidikan
pasien. Oleh karena itu, seorang bidan haruslah mengizinkan klien untuk berbagi
(sharing) mengenai apa yang menjadi kepercayaannya dan apa yang menjadi
pilihannya. Dengan begitu, bidan akan mengerti lebih baik lagi tentang keunikan
setiap individu dan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh klien pada saat proses
belajar berlangsung. Tenaga kesehatan masyarakat berhubungan erat dengan
klien/masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan pentingnya peran tenaga kesehatan
masyarakat dalam mengubah perilaku masyarakat menuju hidup bersih dan sehat.
PHBS atau promosi hygiene merupakan pendekatan terencana untuk mencegah
penyakit menular melalui pengabdosian perubahan perilaku oleh masyarakat luas.
Program ini dimulai dengan apa yang diketahui,diinginkan,dan dilakukan
masyarakat setempat dan mengembangkan program berdasarkan informasi tersebut (Curtis
V,dkk.1997;UNICEF,WHO). Program promosi PHBS harus dilakukan secara profesional
oleh individu dan kelompok yang mempunyai kemampuan dan komitmen terhadap
kesehatan masyarakat serta memahami tentang lingkungan dan mampu melaksanakan
komunikasi, edukasi, dan menyampaikan informasi secara tepat dan benar yang
sekarang disebut dengn promosi kesehatan. Tenaga kesehatan masyarakat
diharapkan mampu mengambil bagian dalam promosi PHBS sehingga dapat melakukan
perubahan perilaku masyarakat untuk hidup berdasarkan PHBS. Tenaga kesehatan
masyarakat telah mempunyai bekal yang cukup untuk dikembangkan dan pada
waktunya disumbangkan kepada masyarakat dimana mereka bekerja.
2.10 Kepedulian
terhadap Determinan Sosial dan Hubungannya dengan Kesehatan
Bagi
orang yang berbeda,
kesehatan adalah hasil interaksi berbagai faktor,baik faktor internal (fisik
dan psikis) maupun faktor eksternal (sosial, budaya, lingkungan fisik, politik,
ekonomi, pendidikan, dan sebagainya). Faktor-faktor tersebut saling berkaitan
dengan masalah-masalah lain diluar masalah kesehatan itu sendiri. Menurut
Henrik L.Blum (1974)seperti dikutip Azwar (1983), terdapat empat faktor yang
memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan, yaitu faktor lingkungan, faktor
perilaku, faktor pelayanan kesehatan dan faktor keturunan yang saling
memengaruhi. Perilaku adalah resultan antarstimulus (faktor eksternal) dengan
respons (faktor internal) dalam subjek atau orang yang berperilaku tersebut.
Perilaku seseorang atau subjek dipengaruhi atau ditentukan oleh faktor-faktor
baik dari dalam maupun dari luar subjek. Faktor yang menentukan atau membentuk
perilaku ini disebut determinan. Dalam bidang perilaku
kesehatan ada tiga teori yang sering menjadi acuan dalam penelitian kesehatan.
1. Teori
Lawrence Green
Ada
dua determinan masalah kesehatan tersebut yaitu faktor perilaku (behavioural
factor) dan faktor nonperilaku (non behavioural
factor). Faktor-faktor tersebut ditentukan oleh tiga faktor utama.
Pertama, faktor-faktor
predisposisi yaitu faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisi
terjadinya perilaku seseorang, antara
lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi, dan sebagainya. Kedua, faktor-faktor
pemungkin, yaitu
faktor-faktor yang memungkinkan atau yang memungkinkan atau yang memfasilitasi
perilaku serta tindakan. Ketiga faktor-faktor penguat,yaitu faktor-faktor yang
mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku.
2. Teori
Snehandu B.Karr
Mengidentifikasikan
adanya lima determinan perilaku, yaitu
adanya niat (intention) seseorang untuk bertindak sehubungan dengan objek atau
stimulus diluar dirinya, adanya
dukungan dari masyarakt sekitar (social support), terjangkaunya informasi
yaitu tersediannya informasi-informasi terkait dengan tindakan yang akan
diambil oleh seseorang., adanya
otonomi atau kebebasan pribadi untuk mengambil keputusan, dan adanya kondisi dan
situasi yang memungkinkan.
3. Teori
perilaku menurut WHO
Ada
empat determinan yaitu pemikiran dan perasaan yang merupakan modal awal untuk
bertindak atau berperilaku, adanya
acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang dipercaya, sumber daya yang
tersedia merupakan pendukung untuk terjadinya perilaku seseorang atau
masyarakat, dan
sosiobudaya yang merupakan faktor eksternal untuk terbentuknya perilaku
seseorang.
2.11 Determinan
Sosial Berkaitan dengan Kesehatan
Kini
makin disadari kesehatan dipengaruhi oleh determinan sosial dan lingkungan, fisik dan biologi. Ada
sepuluh determinan sosial yang dapat memengaruhi kesehatan.
1.
Kesenjangan
Sosial
Masyarakat dengan kelas
sosial ekonomi lemah, biasanya
sangat rentan dan beresiko terhadap penyakit, serta memiliki harapan
hidup yang rendah.
2.
Stress
Stress merupakan
keadaan psikologis/jiwa yang labil. Kegagalan menanggulangi stress, baik dalam
kehidupan sehari-hari di rumah dan di lingkungan kerja, akan memengaruhi
kesehatan seseorang.
3.
Pengucilan
Sosial
Kehidupan di
pengasingan atau perasaan terkucil akan menghasilkan perasaan tidak nyaman, tidak
berharga, kehilangan harga diri,akan memengaruhi kesehatan,fisik,dan mental.
4.
Kehidupan
dini
Kesehatan masa dewasa
ditentukan oleh kondisi kesehatan di awal kehidupan. Pertumbuhan fisik yang
lambat, serta dukungan emosi yang kurang baik pada awal kehidupan akan memberi
dampak pada kesehatan fisik,mental dan kemampuan intelektual masa dewasa.
5.
Pekerjaan
Stress ditempat kerja
meningkatkan resiko terhadap penyakit dan kematian. Syarat-syarat kesehatan
ditempat kerja akan membantu meningkatkan derajat kesehatan.
6. Pengangguran
Pekerjaan merupak
penopang biaya kehidupan. Jaminan pekerjaan yang mantap akan meningkatkan
kesehatan dan kesejahteraan, bagi diri dan keluarganya.
7.
Dukungan
Sosial
Hubungan sosial
termasuk diantaranya adalah persahabatan serta kekerabatan yang baik dalam
keluarga dan juga ditempat kerja.
8.
Penyalahgunaan
Napza
Pemakaian napza merupakan
faktor memperburuk kondisi kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan. Napza atau
pemakaian narkoba, alcohol, dan merokok akan memberikan dampak buruk terhadap
kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
9.
Pangan
Ketersediaan pangan, pendayagunaan
penghasilan keluarga untuk pangan, serta cara makan berpengaruh terhadap
kesehatan individu, keluarga dan masyarakat. Kekurangan gizi maupun kelebihan
gizi berdampak terhadap kesehatan dan penyakit.
10.
Transportasi
Transportasi yang
sehat, mengurangi waktu berkendara,dan meningkatkan aktivitas fisik yang
memadai akan baik bagi kebugaran dan kesehatan. Selain itu, mengurangi waktu
berkendara dan jumlah kendaraan akan mengurangi polusi pada manusia.
2.12 Pertimbangan-pertimbangan
Etis
Etika
pada umunya mengajarkan bahwa setiap pribadi manusia mempunyai otonomi moral.
Manusia mempunyai hak kewajiban untuk menentukan sendiri
tindakan-tindakannya, serta mempertanggungjawabkannya
di hadapan Tuhan. Keberadaan etika dalam strata kehidupan sosial tidak terlepas
dari system kemasyarakatan. Manusia terdiri atas aspek jasmaniah dan aspek
rohaniah. Etika bertujuan sebagai alat bantu utnuk mengukur perilaku dan moral,
menciptakan dan mempertahankan kepercayaan klien kepada perawat dan profesi
bidan. Menurut Americans Ethic Commission Bureau on Teaching, tujuan etika
profesi adalah:
1. Mampu
mengenal dan mengidentifikasi unsure moral dalam praktek kebidanan;
2. Manganalisis
masalah moral dalam praktik kebidanan;
3. Dapat
dipertanggungjawabkan kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan Tuhan
Pertimbangan-pertimbangan
etis yang perlu kita lakukan dan pikirkan yaitu petugas kesehatan tidak boleh
secara sengaja menunda pelayanan atau informasi peningkatan status pengetahuan
klien dapat bermanfaat terhadap pengembangan promosi kesehatan kepada klien
tersebut;petugas kesehatan menghargai kerahasiaan informasi klien kecuali atas
permintaan hukum atau demi kepentingan klien;dan petugas kesehatan yang tidak
kompeten tidak boleh mengerjakan kegiatan promosi kesehatan.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Etika
merupakan bagian dari filosofi yang berhubungan erat dengan nilai manusia dalam
menghargai suatu tindakan, apakah benar atau salah dan apakah penyelesaian baik
atau buruk (Jones,1994). Moral merupakan pengetahuan atau keyakinan tentang adanya
hal yang baik dan buruk serta mempengaruhi sikap seseorang. Kesadaran tentang
adanya baik dan buruk berkembang pada diri seseorang seiring dengan pengaruh
lingkungan, pendidikan, sosial budaya, agama dsb, hal inilah yang disebut
kesadaran moral atau kesadaran etik. Moral juga merupakan keyakinan individu
bahwa sesuatu adalah mutlak baik atau buruk walaupun situasi berada.
3.2
Saran
1. Seorang
bidan perlu mengetahui tentang isu etika maupun moral dalam lingkungan
kebidanannya.
2.
Bidan perlu mengetahui bagaimana mengambil
keputusan yang sulit berkaitan dengan etika.
3.
Bidan juga harus mengetahui bahwa
dalam layananan kebidanan seringkali muncul masalah atau isu di masyarakat
berkaitan dengan etik dan moral, dilema serta konflik yang dihadapi bidan
sebagai praktisi kebidanan.
DAFTAR
PUSTAKA
Bowden, Jan. 2011. Promosi Kesehatan Dalam Kebidanan:Prinsip
&
Praktik.Jakarta :
EGC
Mubarak, Wahit Iqbal. 2012. Promosi Kesehatan untuk Kebidanan. Jakarta :
Salemba Medika
Notoatmojo, Soekidjo.
2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta :
Rineka Cipta
Notoatmojo, Soekidjo. 2010. Promosi
Kesehatan dan Teori
& Aplikasi. Jakarta :
Rineka Cipta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar