MIKROBIOLOGI
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Bakteri merupakan salah satu makhluk hidup yang jumlahnya banyak
disekitar kita. Bakteri pun berada di mana-mana. Di tempat yang paling dekat
dengan kita pun juga terdapat bakteri contohnya saja tas, buku, pakaian, dan
banyak hal lainnya. Maka dari itu bakteri merupakan penyebab penyakit yang
cukup sering terjadi. Karena banyaknya manusia yang mengabaikan penyakit
tersebut karena terkadang gejala awal yang diberikan ada gelaja awal yang biasa
saja. Maka dari itu alangkah baiknya jika kita masyarakat dapat mengetahui
bagaimana cara bakteri itu menginfeksi dan gejala-gejala apa yang akan
dberikannya.
Banyaknya manusia yang mulai tidak begitu peduli dengan gejala awal
terjangkitnya bakteri salah satunya adalah pada saluran pencernaan. Saluran
pencernaan adalah saluran yang sangat berperan dalam tubuh. Jika saluran
pencernaan terganggu akan cukup mengganggu aktivitas tubuh saat itu. Tapi
banyak masyarakat yang tidak peduli dengan penyakit yang ditimbulkan.
Pada dasarnya dari seluruh mikroorganisme yang ada di alam, hanya
sebagian kecil saja yang merupakan patogen. Patogen adalah organism atau
mikroorganisme yang menyebabkan penyakit pada organism lain. Kemampuan pathogen
untuk menyebabkan penyakit disebut dengan patogenisitas. Dan patogenesis disini
adalah mekanisme infeksi dan mekanisme perkembangan penyakit. Infeksi adalah
invasi inang oleh mikroba yang memperbanyak dan berasosiasi dengan jaringan
inang. Infeksi berbeda dengan penyakit. Sebagaimana kita ketahui sebelumnya
mikroorganisme adalah organisme hidup yang berukuran mikroskopis sehingga tidak
dapat dilihat dengan mata telanjang. Mikroorganisme dapat ditemukan disemua
tempat yang memungkinkan terjadinya kehidupan, disegala lingkungan hidup
manusia. Mereka ada di dalam tanah, di lingkungan akuatik, dan atmosfer ( udara
) serta makanan, dan karena beberapa hal mikroorganisme tersebut dapat masuk
secara alami ke dalam tubuh manusia, tinggal menetap dalam tubuh manusia atau
hanya bertempat tinggal sementara. Mikroorganisme ini dapat menguntungkan
inangnya tetapi dalam kondisi tertentu dapat juga menimbulkan penyakit.
1.2
Tujuan
1. Mengetahui
macam-macam Bakteri yang menyebabkan penyakit.
2. Mengetahui
pengertian dari Bakteri yang menyebabkan penyakit.
3. Mnengetahui
cara infeksi Bakteri.
4. Mengetahui
patogenesis Bakteri.
5. Mengetahui
cara diagnosis Bakteri.
6. Mengetahui
cara pencegahan penyakit yang disebabkan oleh Bakteri.
7. Mengetahui
cara pengobatan penyakit yang disebabkan oleh Bakteri.
1.3
Rumusan
Masalah
1. Macam-macam
Bakteri yang menyebabkan penyakit.
2. Pengertian
dari Bakteri yang menyebabkan penyakit.
3. Cara
infeksi Bakteri,
4. Patogenesis
Bakteri.
5. Cara
diagnosis penyakit yang disebabkan Bakteri.
6. Cara
pencegahan penyakit yang disebabkan oleh Bakteri.
7. Mengetahui
cara pengobatan penyakit yang disebabkan oleh Bakteri.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Haemophylus influenzae
a. Pengertian
Haemophilus influenzae adalah kelompok bakteri yang dapat menyebabkan
berbagai jenis infeksi pada bayi dan anak-anak. Bakteri yang semula disebut
Bacillus Pfeiffer ini diartikan juga sebagai organisme yang hidup bebas pertama
yang memiliki seluruh genome sequencing. Haemophilus influenzae atau yang biasa
disingkat H. influenzae adalah bagian dari mikroflora normal pada bagian atas
saluran pernapasan pada manusia. Haemophilus influenzae bergerak di antara
sel-sel epitel pada saluran pernapasan untuk menginvasi dan menimbulkan
penyakit.
Haemophilus influenzaemempunyai ukuran 1 m x 0.3 m. Bakteri ini bebentuk
batang negative Gram dan merupakan bakteri yang tidak harus membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya.
Pada tahun 1930, bakeri ini dibagi menjadi 2 jenis yaitu koloni R yang dibentuk oleh kuman-kuman yang tidak
ramah lingkungan (tak bersimpai) dan koloni S yang dibentuk oleh sebaliknya,
yaitu oleh kuman-kuman yang bersimpai.
Haemophilus influenzae sangat peka terhadap desinfektan dan kekeringan.
Bakteri ini tumbuh optimum pada suhu 37oC dan pada pH 7.4 sampai 7.8 dalam
suasana CO2 10%. Tumbuh di media kultur
yang membutuhkan faktor X (hemin) suatu derivat haemoglobin yang termostabil,
dan faktor V (NAD atau NADP) yang termolabil. Media kultur yang digunakan untuk
membiakkan Haemophilus influenzae adalah agar coklat (karena mengandung faktor
X dan V). Haemophilus influenzae juga dapat dibiakkan di media agar darah jika
diinokulasikan bersama bakteri lain yang menghasilkan dan melepaskan NAD
(misal: Staphylococcus aureus), dan dikultur itu akan terlihat mengelilingi
bakteri penghasil NAD tersebut atau disebut fenomena satelit. Bakteri
Haemophilus influenzae mempunyai kapsul, dan
tidak bergerak. Bakteri ini dapat
ikut aliran darah atau terkadang menetap di sendi dan dapat menyebar melalui
droplet pernafasan atau melalui kontak langsung.
b. Cara
Infeksi
Infeksi oleh haemophilus
influenzae terjadi setelah mengisap droplet yang berasal dari penderita baru
sembuh, atau carrier, yang biasanya menyebar secara langsung saat bersin atau
batuk. Haemophilus influenzae menyebabkan sejumlah infeksi pada saluran
pernafasan bagian atas seperti faringitis, otitis media, dan sinusitis yang
terutama penting pada penyakit paru kronik. Meningitis karena haemophilus
influenzae jarang terjadi pada bayi berumur kurang dari 3 bulan dan tidak umum
dijumpai pada anak-anak diatas umur 6 tahun. Pada anak-anak, selain meningitis,
haemophilus influenzae tipe b juga menyebabkan penyakit bacterial epiglottitis
akut.
c. Gejala Klinis
Gejala-gejala klinis yang disebabkan penyakit ini cukup banyak, tergantung
letak infeksi dan jenis penyakit yang disebabkannya. Anak-anak mungkin memiliki
gejala klinis yang berbeda tiap pribadi, namun jika disimpulkan, gejala klinis
tersebut adalah Irritability (kekurangan makanan dan nutrisi saat bayi, demam
(pada bayi prematur temperaturnya dibawah normal), sakit kepala, muntah, sakit
di leher, sakit di punggung, posisi badan yang tidka biasa, kepekaan terhadap
cahaya, epiglottitis, dyspnoea (sulit bernafas), dysphagia (sulit menelan),
septic arthritis, cellulitis, pneumonia, sepicaemia, osteomyelitis, bacteramia,
dan empyema. Kasus Hib jarang terjadi pada bayi di bawah 3 bulan atau di atas 6
tahun. Biasanya terjadi pada umur 4-18 bulan.
d. Patogenesis
Haemophilus influenzae tidak menghasilkan eksotoksin dan peranan antigen
somatik toksiknya pada penyakit alamiah belum jelas. Organisme yang tidak
bersimpai termasuk anggota flora normal saluran pernapasan manusia. Simpai
bersifat antifagositik bila tidak terdapat antibodi antisimpai khusus.
Haemophilus influenzae yang memiliki simpai khususnya tipe b menyebabkan
infeksi pernapasan supuratif (sinusitis, laringotrakeitis, epiglotitis, otitis)
dan pada anak kecil meningitis. Darah dari orang dengan umur kira-kira 3-5
tahun memiliki daya bakterisidal kuat terhadap Haemophilus influenzae, dan
infeksi klinik lebih jarang terjadi pada orang itu. Namun sekarang antibodi
bakterisidal sudah jarang ditemukan pada 25% orang AS dan infeksi yang bersifat
klinik lebih sering terjadi pada orang dewasa. Haemophilus influenzae yang
dapat digolongkan atau tidak bersimpai tipe b umumnya menyebabkan otitis media
(mekanisme patogeniknya belum jelas). Bakteri ini dan pneumonia menjadi
penyebab utama otitis media bacterial dan sinusitis akut. Organisme ini dapat
ikut aliran darah atau terkadang menetap di sendi. Jika menetap di sendi maka
bakteri dapat menyebabkan Artritis Infeksiosa.
e. Diagnosa
Dalam mendiagnosis penyakit ini, dapat dipergunakan cairan serebrospinal,
sputum, dan cairan telinga sebagai bahah pemeriksaan. Dari bahan ini dibuat
preparat Gram, dan ditanam pada perbenihan agar coklat yang dieramkan dalam
suasana CO2 10%. Ada 3 cara untuk mendiagnosanya, yaitu dengan Staphylococcus
streak technique, untuk mengasingkan Haemophilus influenzae, terutama dari
bahan-bahan yang tidak terkontaminasi dengan kuman-kuman lain seperti cairan
serebrospinal dan darah. Cara lain adalah dengan reaksi Quellung yang khas
sangat membantu diagnosis, kecuali untuk kuman-kuman tak bersimpai. Sedangkan
untuk menegakkan diagnosis meningitis, digunakan deteksi antigen polisakarida
simpai di dalam cairan tubuh.
f. Pengobatan
Pemilihan antibiotika yang
akan digunakan dapat ditentukan dengan tes kepekaan secara in vitro. Kebanyakan
H. influenzae peka terhadap ampisilin, khloramfenikol, tetrasiklin, sulfonamida
dan kotrimoksasol, dan terapi dengan salah satu atau kombinasi obat-obat ini,
namun kepekaan kumannya sendiri dan hasil suatu terapi tidak dapat
diperkirakan. Terapi untuk anak atau bayi yang terinfeksi meningitis karena Hbi
dapat diberikan dexamethasone atau campuran dari cefotaxime sodium/ceftriaxone
sodium/ampicillin dengan chloramphenicol.
g. Pencegahan
Sementara untuk pencegahannya,
dapat digunakan vaksin khas polisakarida simpai (vaksin PRP). Disarankan juga
untuk menjaga pola hidup bersih di daerah yang padat penduduk.
2.2 Hameophilus ducreyi
a. Pengertian
Haemophilus
ducreyi merupakan sejenis bakteri yang berbentuk batang kecil, tidak bergerak,
termasuk golongan bakteri gram negative, dan bersifat parasit pada media yang
mengandung darah. Haemophilus ducreyi merupakan bakteri penyebab penyakit
“Chancroid” (soft chancre). Bakteri Haemophilus ducreyi ini disebut juga
“Bacilus Ducrey”. Haemophilus ducreyi ini merupakan bakteri fakultatif anaerob,
yang kadang-kadang memiliki kapsul tetapi juga terkadang tidak memiliki kapsul.
Suhu optimum untuk tumbuhnya adalah 37ºC, untuk tumbuhnya memerlukan hemin (X
faktor) atau nikotinamida-adenin difosfat (V faktor) atau kedua-duanya.
Haemophilus ini menyusun dirinya berupa rantai pendek maupun panjang atau
berpasangan secara parallel. Sifat bakteri ini hampir sama dengan Haemophilus
influenza hanya ukurannya agak lebih besar.
b. Cara infeksi
-
Cara bakteri
menginfeksi penyakit
Bakteri ini masuk ke
dalam tubuh melalui kulit yang lecet dan menimbulkan terjadinya ulcus pada alat
kelamin yang pinggirnya tidak rata dan terasa sakit bila dipijit dan biasanya
terdapat beberapa ulcus.
-
Penyebaran
Tempat infeksi yang
umum pada pria adalah sulkus koronanius, meatus atau glans penis, sedangkan
pada wanita adalah vulva, labia, uretra, paha, vagina atau serviks. Chancroid
merupakan faktor risiko untuk penyebaran heteroseksual dan HIV. Ulkus kelamin
menyebabkan wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV setelah hubungan
heteroseksual dengan pria yang terinfeksi dan sebaliknya adanya ulkus pada
wanita dengan infeksi HIV jauh lebih meningkatkan kemungkinan pasangannya
tertular.
-
Penularan.
Penularan penyakit
ini melalui hubungan seksual terutama pada kelompok social ekonomi rendah yang sering
melacur dengan insiden pada pria lebih tinggi dibandingkan dengan wanita.
c. Gejala
Pada
pria bagian ulkus terasa sangat nyeri, terutama bila dipijit. Masa inkubasi
antara 4-7 hari dan mulai muncul sebagai papula dengan eritema yang dalam waktu
2-4 hari menjadi pustule, tererosi, dan ulserasi. Selain itu juga gejala
lainnya adalah luka lebih dari satu yang sangat nyeri, tanpa radang jelas. Dan
juga terdapat benjolan di lipatan paha yang sangat sakit dan mudah pecah. Lesi
kebanyakan multiple, jarang soliter, biasanya pada daerah genital, jarang pada
ekstragenital.
d. Penyakit yang ditimbulkan
Ulkus mole adalah penyakit
infeksi pada alat kelamin yang akut, setempat dan disebabkan oleh
strptobacillus ducrey (Haemophillus ducreyi) dengan gejala klinis yang khas
berupa ulkus nekrotik yang nyeri pada tempat inokulasi, dan sering disertai
penanahan kelenjar getah bening regional. Limfadenitis tang terjadi pada
infeksi H.ducreyi diikuti dengan respon inflamasi sehingga terjadi supurasi.
Penyakit ini banyak terdapat pada dearah-daerah dengan tingkat sosio ekonomi
rendah. Sampai saat ini penyakitnya masih timbul hanya di daerah tropika.
e. Diagnosa
1. Pemeriksaan Sediaan Hapus
Bahan diambil dari
tepi ulkus yang tergaung, dibuat hapusan pada gelas alas, kemudian dibuat pewarnaan
gram, Unna-Pappenhein, Wright, atau Giemsa.
2. Biakan kuman
Bahan diambil dari
pus bubo atau lesi.
3. Tekhnik imunofluoresense untuk menemukan antibodi
4. Biopsi
Pada lesi, organisme
terdapat dalam makrofag netrofil atau bebas berkelompok dalam jaringan
interstitial.
5. Tes kulit ito-reenstierna
Sekarang tidak lagi
dipakai karena tidak spesifik
6. Autoinokulasi
Bahan diambil dari
lesi yang tersangka, diinokulasikan pada kulit sehat daerah lengan bawag atau
paha penderita yang digores lebih dahulu. Pada tempat tersebut akan timbul
ulkus mole. Sekarang cara ini tidak dipakai lagi.
f. Pengobatan
Obat
yang digunakan untuk mencegah dan mengobati penyakit ini adalah Sulfonamid.
Sulfonamid diketahui efektif untuk chancroid pada tahun 1938 dan sebelum
timbulnya strain yang menghasilkan beta laktamase, ampisilin juga efektif.
Resistensi melalui plasmid terjadi pada ampisilin, sulfonamid, kloramfenikol,
tetrasiklin, streptomisin dan kanamisin. Akhir-akhir ini obat yang lebih
efektif untuk mengobati penyakit ini adalah Azitromisin.
g. Pencegahan
Menghindari
atau tidak melakukan hubungan seksual (heteroseksual) secara sembarangan.
2.3
Bordetella pertussis
a.
Pengertian
Bordetella pertussis
itu adalah bakteri penyebab penyakit menular akut yang menyerang pernafasan
alias batuk rejan atau batuk seratus hari yang mengandung beberapa komponen
yaitu Peitusis Toxin (PT), Filamentous Hemagglutinin (FHA), Aglutinogen,
endotoksin, dan protein lainnya.
Ciri organisme ini :
pendek, gram negative, dan dengan pewarnaan toluidin biru dapat terlihat
granula bipolar metakromatik. Bakteri ini aerob murni dan membentuk asam tapi
tidak membentuk gas dari glukosa dan laktosa. Untuk biakan isolasi primer B pertussis
dapat digunakan Bordet Gengou 9agar kentang-darah-gliserol) yang mengandung
Penisilin 0,5 µg/mL.
Terdapat dua mekanisme
bagi B pertussis untuk berganti menjadi bentuk yang non hemolitik, dan bentuk
tidak virulen yang tidak menghasilkan toksin. Modulasi fenotipik yang
reversible terjadi bila B pertussis tumbuh dalam kondisi lingkungan tertentu.
(misalnya suhu 280 C melawan suhu 370 C, adanya MgSO4, dll.)
b. Cara Infeksi
Infeksi
berlangsung selama 6 minggu, dan berkembang melalui 3 tahapan:
1.
Tahap
kataral ( mulai terjadi secara bertahap dalam waktu 7-10 hari setelah
terinfeksi). Gejalanya menyerupai flu ringan :
o
bersin-bersin
o
mata
berair
o
nafsu
makan berkurang
o
lesu
o
batuk
(pada awalnya hanya timbul di malam hari kemudian terjadi sepanjang hari)
2.
Tahap
paroksismal (mulai timbul dalam waktu 10-14 hari setelah timbulnya gejala
awal). 5-15 kali batuk diikuti dengan menghirup nafas dalam dengan nada tinggi.
Batuk bisa disertai pengeluaran sejumlah besar lendir yang biasanya ditelan
oleh bayi/ anak-anak atau tampak sebagai gelembung udara di hidungnya. Batuk
atau lendir yang kental sering merangsang terjadinya muntah. Serangan batuk
bisa diakhiri oleh penurunan kesadaran yang bersifat sementara.
3.
Tahap
Konvalesen (mulai terjadi dalam waktu 4-6 minggu setelah gejala awal). Batuk
semakin berkurang, muntah juga berkurang, anak tampak merasa lenih baik. Kadang
batuk terjadi selama berbulan-bulan, biasanya akibat iritasi saluran
pernafasan.
c.
Penyakit
yang ditimbulkan
Batuk
rejan merupakan penyakit yang disebabkan oleh B pertussis.
Penyakit ini biasanya berlangsung selama 6 minggu atau
lebih, oleh karna itu biasa disebut batuk seratus hari. Batuk pertussis
ditandai dengan batuk hebat yang khas dan biasanya diakhiri dengan suara
pernafasan yang melengking. Penyakit ini menular melalui udara, yaitu
melalui percikan ludah dari pasien diwaktu bersin atau meludah yang dihirup orang yang sehat
dan kekebalan tubuhnya rendah. Gejala timbul dalam waktu 7-10 hari setelah
terinfeksi. Bakteri menginfeksi lapisan tenggorokan, trakea dan saluran udara sehingga pembentukan lendir semakin banyak. Pada
awalnya lendir encer, tetapi kemudian menjadi kental dan lengket.
d.
Pengobatan
Pemberian Eritromisin pada
stadium kataral akan membantu pencegahan dan pembasmian mikroorganisme.
Sedangkan pengobatan pada stadium paroksismal jarang mengubah gejala klinik. B
pertussis peka terhadap obat antimikroba in vitro. Jika penyakitnya berat, penderita
biasanya dirawat di Rumah Sakit dan ditempatkan di kamar yang tenang dan tidak
terlalu terang. Keributan juga bisa merangsang serangan batuk. Dapat pula
dilakukan pengisapan lendir dari tenggorokan. Pada kasus yang berat, oksigen
diberikan langsung ke paru-paru melalui selang yang dimasukkan ke trakea.
Diberikan cairan melalui infuse untuk menggantikan cairan yang hilang karena
muntah pada bayi dan karena biasanya tidak dapat makan akibat batuk. Gizi yang
baik sangat penting, dan sebaiknya makanan diberikan dalam porsi kecil tapi
sering.
e. Pencegahan
Pemberian 3 suntikan
vaksin pertussis ( biakan tidak murni) dalam konsentrasi tepat pada bayi sangat
perlu. Biasanya diberikan dengan kombinasi dengan toksoid difteria dan tetanus
(DPT). Eritromisin profilaktik dapat diberikan pada bayi yang belum divaksin
atau orang dewasa yang kontak dengan penyakit ini
2.4
Staphylococcus pyogenes
a.
Pengertian
Streptococcus
pyogenes adalah salah satu jenis bakteri Streptococcus
beta hemolitikus grup A, yaitu Streptococcus
yang dapat menyebabkan terjadinya hemolisis sel darah merah yang
disertai dengan pelepasan hemoglobin. Streptococcus
pyogenes adalah bakteri
Gram positif, non-spora, bersifat fakultatif anaerob, dan selnya berbentuk
bulat dengan diameter 0.6-1 μm. Biasanya struktur tersusun dalam bentuk rantai
yang panjangnya beragam atau pasangan sel.
Streptococcus pyogenes mudah tumbuh dalam media BAP.
Penambahan glukosa dalam konsentrasi 0.5% akan meningkatkan pertumbuhannya,
tetapi menyebabkan penurunan daya lisisnya terhadap sel darah merah. Dalam
lempeng agar yang diinkubasi pada suhu 37°C selama 18-24 jam akan membentuk
koloni kecil abu-abuan,bentuknya bulat, pinggir rata pada permukaan media,
koloni tampak seperti setitik cairan.
Streptococcus bersifat anaerob fakultatif, hanya
beberapa jenis yang bersifat anaerob obligat. Pada perbenihan biasa,
pertumbuhannya kurang subur jika ke dalamnya tidak ditambahkan darah atau
serum. Streptococcus
hemolyticus meragi glukosa dengan membentuk asam laktat yang
dapat menghambat pertumbuhannya.
Tumbuhnya akan subur bila diberi glukosa berlebih dan diberikan bahan yang
dapat menetralkan asam laktat yang terbentuk.Tes katalase negatif untuk
Streptococcus, ini dapat membedakan dengan Staphylococcus di mana tes katalase
positif.
Berdasarkan
sifat hemolitiknya pada lempeng agar darah,bakteri ini dibagi dalam:
-
hemolisis tipe alfa, membentuk warna kehijau-hijauan
dan hemolisis sebagian disekeliling koloninya, bila disimpan dalam peti es zona
yang paling luar akan berubah menjadi tidak berwarna.
-
Hemolisis tipe beta, membentuk zona bening di
sekeliling koloninya, tak ada sel darah merah yang masih utuh, zona tidak
bertambah lebar setelah disimpan dalam peti es.
-
Hemolisis tipe gamma, tidak menyebabkan
hemolisis.Untuk membedakan hemolisis yang jelas sehingga mudah dibeda-bedakan
maka dipergunakan darah kuda atau kelinci dan media tidak boleh mengandung
glukosa. Streptococcus yang memberikan hemolisis tipe alfa juga disebut Streptoccocus
viridans. Yang memberikan hemolisis tipe beta disebut Streptococcus
hemolyticus dan tipe gamma sering disebut sebagai Streptococcus
anhemolyticus.
b.
Patogenesis
Infeksi streptokokus timbulnya dapat dipengaruhi oleh
bermacam-macam faktor, antara lain sifat biologik kuman, cara host memberikan
respons, dan cara masuknya kuman kedalam tubuh. Penyakit yang ditimbulkan oleh
kuman streptokokus dapat dibagi dalam beberapa kategori.
1.
Penyakit yang terjadi karena invasi
Pada setiap kasus dapat terjadi selulitis yang cepat
meluas secara difus ke jaringan sekitarnya dan saluran getah bening, tetapi
peradangan setempatnya sendiri hanya terjadi secara ringan. Dari saluran getah
bening infeksinya cepat meluas ke dalam peredaran darah, sehingga terjadi
bakteremia
-
Erysipelas
Erysipelas merupakan suatu infeksi kulit akut dan saluran limfa
yang di sebabkan oleh bakteri Streptokokkus pyogenes . Erysipel biasanya
bermula dari luka kecil dan muncul di bagian wajah, tangan dan kaki. Penderita
nampak sakit berat dengan demam tinggi. Pada pemeriksaan ditemukan lekositosis,
lebih dari 15.000 lekosit. Titer ASO meningkat setelah 7-10 hari. Kuman tidak
ditemukan dalam pembuluh darah, tetapi di dalam cairan getah bening dari
pinggir lesi yang sedang meluas, terutama dalam jaringan subkutan.
Pada penyakit ini dapat terjadi bakteremia yamg menyebabkan
infeksi metastatik di lain organ. Dengan pemakaian antibiotika mortalitasnya
dapat ditekan, tetapi pada bayi, orang tua yang debil dan pada penderita yang
mendapat pengobatan dengan kortikosteroid, penyakit ini dapat berkembang
demikian cepat sehingga berakibat fatal.
Penyakit ini
cenderung untuk kambuh di tempat yang sama, sehingga terjadi sumbatan pada
saluran getah bening yang bersifat menahun. Kulit setempat tumbuh secara tidak
teratur, sehingga terjadi elephantiasis nostras verrucosa. Jika lokalisasinya
di bibir dapat terjadi macrocheilia, suatu pembengkakan bibir yang
bersifat persiten.
-
Sepsis puerpuralis
Kuman streptokokus masuk ke dalam uterus sehabis
persalinan. Septikimia terjadi karena luka yang terkena infeksi, yaitu berupa endometritis.
-
Sepsis
Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang
menyebar melalui darah dan jaringan lain. Sepsis terjadi karena luka bekas
operasi atau karena trauma, terkena infeksi oleh kuman streptokokus. Ada yang
menyebut penyakit ini sebagai surgical
scarlet fever.
2.
Penyakit yang terjadi karena infeksi
lokal
-Radang tenggorok
Disebabkan
oleh streptococcus beta hemolyticus. pada bayi dan anak kecil timbul
sebagai nasofaringitis subakut dengan sekret serosa dan sedikit demam dan infeksinya cenderung meluas ke telinga
tengah, prosesus mastoideus dan selaput otak. Kelenjar getah bening cervical
biasanya membesar. Penyakitnya dapat berlangsung berminggu-minggu. Pada
anak-anak yang lebih besar daripada orang dewasa, penyakitnya berlangsung lebih
akut dengan nasofaringitis dan tonsilitis yang hebat, selaput lendir hiperemis
dan membengkak dengan eksudat yang purulen. Kelenjar getah bening cervicalmembesar
dan nyeri, biasanya disertai demam tinggi. Duapuluh persen dari infeksi ini
tidak menimbulkan gejala (asimptomatik).
Jika kuman dapat membuat dapat membuat toksin
eritrogenik, dapat timbul scarlet fever rash. Pada scarlet fever rash kuman
terdapat dalam faring, tetapi toksin eritrogenik yang dihasilkannya menyebabkan
terjadinya kemerah-merahan yang difus. Eritema mulai timbul di leher, meluas ke
tubuh, kemudian menyebar ke ekstremitas.
-
Impetigo
Pada
impetigo lokalisasi infeksi sangat superfisial, dengan pembentukan
vesicopustulae di bawah stratum korneum. Terutama terdapat pada anak kecil,
penyebaran terjadi per continuitatum. Bagian kulit yang mengelupas diliputi
oleh crusta yang berwarna kuning madu. Penyakit ini sangat menular pada
anak-anak dan biasanya disebabkan oleh Streptococcus
dan Staphylococcus.
Infeksi kuman streptokokus tipe 49 dan 57 pada kulit sering menyebabkan
timbulnya nephritis post streptococcalis.
c.
Diagnosa
Biasanya, usap tenggorokan
dibawa ke laboratorium untuk diuji. Pewarnaan
Gram diperlukan untuk memperlihatkan Gram-positif, coccus,
dalam bentuk rantai. Kemudian, organisme di agar darah dikultur dengan
tambahan cakram antibiotik basitrasin untuk
memperlihatkan koloni beta-hemolisis
dan sensitivitas (zona inhibisi sekitar cakram) antibiotik. Lalu dilakukan uji katalase, yang harus
menunjukkan reaksi negatif untuk semua Streptococcus. Streptococcus
pyogenes bersifat negatif untuk uji cAMP dan hipurat. Identifikasi
serologi atas organisme itu melibatkan uji untuk adanya polisakarida spesifik
grup A dalam dinding sel bakteri menggunakan tes Phadebact. Karena uji tindak
pencegahan juga dilakukan untuk memeriksa penyakit penyakit seperti, namun tak
terbatas pada, sifilis, dan nekrosis avaskular,
dan kaki pekuk.
d. Pencegahan
Sejumlah
bakteri streptococcus misal, streptococcus viridians dan enterococcus,
merupakan sebagian dari flora normal pada tubuh manusia. bakteri ini hanya akan
menimbulkan penyakit jika terdapat diluar tempat-tempat di mana
mereka biasanya berada, misalnya pada katup jantung. Untuk mencegah
kemungkinan terjadinya hal itu, terutama pada sewaktu melakukan
tindakan-tindakan opratif pada traktus urinarius dimana sering menyebabkan
terjadinya bakteremia temporer, pemberian obat-obatan antibiotika sangat
diperlukan untuk mencegah atau untuk pengobatan dini terhadap infeksi
streptococcus beta hemolytikus grup A pada penderita yang diketahui mempunyai
kelainan katup jantung.
Sumber
infeksi kuman streptococcus dapat berasal dari penderita atau carrier.
Penularannya terjadi secara droplet dari traktus respiratorius atau dari kulit.
Cara control terpenting adalah
1.
Pada penderita dengan infeksi streptococcus grup A
pada traktus respiratorius ataupun kulit harus diberikan antibiotic secara
intensif.
2.
Pada penderita yang pernah mendapat serangan demam
rheuma harus diberikan antibiotikadalam dosis profilaksi
3.
Untuk mencegah penyebaran streptococcus dapat
dilakukan dengan cara mencegah pengotoran oleh debu, ventilasi yang baik,
ringan udara, sinar ultra violet, dan pemakaian aerosol.
e. Penanganan
Terapi pilihan
adalah penisilin, namun, bila tidak siap tersedia
penisilin, sayatan kecil pada daerah yang terinfeksi akan menghilangkan dan
bengkak dan rasa tak nyaman hingga bantuan medis yang cocok dapat dicari. Tidak
ada kejadian resistensi penisilin yang dilaporkan hingga hari ini, meski sejak
tahun 1985 sudah banyak laporan toleransi penisilin.
Makrolid, kloramfenikol, dan tetrasiklin bisa digunakan jika strain yang diisolasi nampak
sensitif, namun lebih umum terjadi resistensi.
2.5
Staphylococcus Aureus
f. Pengertian
Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram Positif, tidak bergerak,
tidak berspora dan mampu membentuk kapsul, berbentuk kokus dan tersusun seperti
buah anggur. Ukuran Staphylococcus berbeda-beda tergantung pada media
pertumbuhannya. Apabila ditumbuhkan pada media agar, Staphylococcusmemiliki
diameter 0,5-1,0 mm dengan koloni berwarna kuning. Dinding selnya mengandung
asam teikoat, yaitu sekitar 40% dari berat kering dinding selnya. Asam teikoat
adalah beberapa kelompok antigen dari Staphylococcus. Asam teikoat mengandung
aglutinogen dan N-asetilglukosamin.
Staphylococcus aureus adalah bakteri aerob dan anaerob, fakultatif
yang mampu menfermentasikan manitol dan menghasilkan enzim koagulase,
hyalurodinase, fosfatase, protease dan lipase. Staphylococcus
aureus mengandung lysostaphin yang dapat menyebabkan lisisnya sel darah
merah. Toksin yang dibentuk oleh Staphylococcus aureus adalah
haemolysin alfa, beta, gamma delta dan apsilon. Toksin lain ialah leukosidin,
enterotoksin dan eksfoliatin. Enterotosin dan eksoenzim dapat menyebabkan
keracunan makanan terutama yang mempengaruhi saluran pencernaan. Leukosidin
menyerang leukosit sehingga daya tahan tubuh akan menurun. Eksofoliatin
merupakan toksin yang menyerang kulit dengan tanda-tanda kulit terkena luka
bakar.
Staphylococcus aureus adalah bakteri bola
berpasang-pasangan atau berkelompok seperti buah anggur dengan diameter antara
0,8 mikron-1,0 mikron, non motil, tidak berspora dan bersifat gram positif.
Namun kadang-kadang ada yang bersifat gram negatif yaitu pada bakteri yang telah
difagositos atau pada biakan tua yang hampir mati.
Menurut SNI 01-3141-1998, jumlah cemaran mikroba total
yang diperbolehkan maksimal 1 x 106 CFU/ml susu dan sel somatik maksimal 4 x
104 sel/ml susu.
Menurut SNI 01-3553-1996 jumlah mikroba aerob maksimal
dalam air yang layak minum adalah 1,0 x 105 CFU/ml dan E.coli patogen
0 CFU/100 ml. SNI 01-6366-2000 mensyaratkan pemeriksaan TPC perlu
dilakukan untuk mengetahuikualitas susu. Jumlah TPC >106 cfu/ml
menyebabkan mikroba cepat berkembang dan toksin sudah terbentuk.
g. Cara Infeksi
Staphylococcus aureus banyak bakteri yang dapat
hidup di tubuh orang. Banyak orang yang sehat membawa Staphylococcus
aureus tanpa terinfeksi. Fakta, 25-30 % atau 1/3 bagian tubuh kita
terdapat bakteri Staphylococcus aureus. Yang terdapat pada permukaan
kulit, hidung, tanpa menyebabkan infeksi. menyebabkan infeksi. Ini dikenal
sebagai koloni bakteri. Jika sengaja dimasukan dalam tubuh melalui luka akan
menyebabkan infeksi. Biasanya sedikit dan tidak membutuhkan perawatan khusus, Kadang-kadang, Staphylococcus
aureus dapat menyebabkan masalah serius seperti luka atau pneumonia
(radang paru-paru)
Penularan terjadi karena mengkonsumsi produk makanan
yang mengandungenterotoksin staphylococcus. terutama yg diolah dengan tangan,
baik yang tidak segera dimasak dengan baik ataupun karena proses pemanasan atau
penyimpanan yang tidak tepat. Jenis makanan tersebut seperti
pastries, custard, saus salad, sandwhich, daging cincang dan produk
daging. Bila makanan tersebut dibiarkan pada suhu kamar untuk beberapa jam
sebelum dikonsumsi, maka staphylococcus yang memproduksi toksin akan
berkembang biak dan akan memproduksi toksin tahan panas.
Masa inkubasi mulai dari saat
mengkonsumsi makanan tercemar sampai dengan timbulnya gejala klinis yang
berlangsung antara 30 menit sampai dengan 8 jam, biasanya berkisar
antara 2-4 jam.
h. Gejala
Staphylococcus
aureus menginfeksi siapa saja tanpa
pandang bulu., terutama pada tubuh yang lemah sistem imunnya. Infeksi pada
kulit atau luka luar biasanya berakibat pada penahanan, misalnya bisul atau
luka bernanah lainnya. Area infeksi berwarna merah, bengkak dan terasa sakit
bila disentuh.
Dalam kondisi parah,
pembengkakan tersebut berkembang menjadi empetigo (pengerasan dari kulit) atau
cellitus (peradangan pada jaringan bawah kulit). Infeksi juga bisa terjadi pada
ibu menyusui berupa peradangan payudara, bisul dan nanah pada puting, yang
berpotensi menularkan bakteri kepada bayi.
Bakteri yang masuk ke
dalam aliran darah juga bisa bersarang di dalam paru-paru menyebabkan organ tersebut bernanah dan
infeksi klep jantung (endocarditis) yang bisa mengakibatkan gagal jantung.
Infeksi pada sel tulang berakibat peradangan berat osteomyletis.
Bakteri yang mengontaminasi makanan,
saat tertelan akan menimbulkan gangguan pencernaan dengan gejala mual, muntah,
(benar-benar muntah atau tampak seperti muntah
tetapi tidak mengeluarkan apapun), kram perut, lemas, diare, dan
dehidrasi. Gejala muncul sekitar 1-6 jam sejak tertelan. Gejala tersebut
berlangsung selama 1-3 hari. Pada kasus yang lebih berat, gejala tersebut
disertai dengan sakit kepala, kram otot, tekanan darah, dan denyut nadi tidak
teratur.
i.
Patogenesis
Infeksi S. aureus
diasosiasikan dengan beberapa kondisi patologi, diantaranya bisul, jerawat,
pneumonia,
meningitis,
dan arthritits.
Sebagian
besar penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini memproduksi nanah, oleh karena
itu bakteri ini disebut piogenik. S. aureus juga menghasilkan katalase,
yaitu enzim yang mengkonversi H2O2 menjadi H2O
dan O2, dan koagulase,
enzim yang menyebabkan fibrin
berkoagulasi dan menggumpal. Koagulase diasosiasikan dengan patogenitas karena
penggumpalan fibrin yang disebabkan oleh enzim ini terakumulasi di sekitar
bakteri sehingga agen pelindung inang kesulitan mencapai bakteri dan fagositosis
terhambat.
j. Diagnosa
Specimen ditanam pada media isolasi
Blood Agar Plate dan mannitol Salt Agar Plate
-
Masuk
incubator 370 C, selama 24 jam
Hari
2 :
-
Koloni yang tersangka
staphylococcus dari Blood Agar Platen dan Mannitol Salt Agar dibuat praeparat,
dilakukan pewarnaan gram
-
Kalau betul
staphylococcus Gram (+), kemudian ditanam pada media Loeffler Serum, Nutrien
agar, D-Nase agar dan mannitol.
-
Semuanya
masukan ke incubator 370 C, selama 24 jam
Hari
3 :
-
Diamati dan dicatat
pertumbuhan di media
-
Loeffler serum :
berwarna kuning
-
Nutrien agar
:dikerjakan Coagulase test atau staphylase test
-
D-Nase agar :
dikerjakan D-Nase test
-
Gula mannitol : asam,
dikerjakan catalase test
-
Kemudian hasil
pengamatan media dan test-test tersebut dibandingkan dibandingkan dengan
sifat-sifat cultural dan biochemisnya serta tabel, untuk ditemukan dignosa.
Hari 4
Amati hasil media
Muller Hinton agar untuk uji sensitivitas. Dan Inkubasi 370C, 24 jam
Uji Sensitivitas : Diameter zona hambat
- Sensitif : > 16mm
- Intermediet : > 13-15mm
- Resisten : > 13mm
Uji Sensitivitas : Diameter zona hambat
- Sensitif : > 16mm
- Intermediet : > 13-15mm
- Resisten : > 13mm
k. Pengobatan
Pengobatan
terhadap infeksi S. aureus dilakukan melalui pemberian
antibiotik, yang disertai dengan tindakan
bedah, baik berupa pengeringan abses maupun nekrotomi.
Pemberian antiseptik lokal sangat dibutuhkan
untuk menangani furunkulosis (bisul) yang
berulang. Pada infeksi yang cukup berat,
diperlukan pemberian antibiotik secara oral
atau intravena, seperti penisilin, metisillin, sefalosporin,
eritromisin, linkomisin, vankomisin, dan rifampisin.
Sebagian besar galur Stafilokokus sudah resisten
terhadap berbagai antibiotik tersebut, sehingga
perlu diberikan antibiotik berspektrum lebih
luas seperti kloramfenikol, amoksilin, dan tetrasiklin.
l. Pencegahan
Untuk
pengendalian Staphylococcus aureus ( mencakup MRSA) melalui
human-to-human, walaupun beberapa dokter hewan sudah menemukan yang dapat
menyebabkan infeksi ke host, dengan pencemaran lingkungan. Penekanan pada
cuci tangan basis dasar teknik kemudian efektif mencegah transmisi Staphylococcus
aureus. Penggunaan sarung tangan dapat sehingga mengurangi kontak skin-to-skin.
Penggunaan Alkohol telah terbukti
sanitizer melawan MRSA. Quaternary ammonium dapat digunakan bersama dengan
alkohol untuk membersihkan dan mencegahan infeksi nosocomial. Nonprotein amino
L-Homoarginine asam adalah suatu penghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus
seperti halnya Candida albicans, hal ini diasumsikan untuk;menjadi suatu
antimetabolite arginine. BBC melaporkan bahwa suatu penyemprotan alat penguap
beberapa kotoran minyak ( mencakup pohon teh oil) ke dalam atmospir mengurangi
90% peningkatan bakteri di udara dan mengendalikan MRSA yang dapat menyebabkan
infeksi/peradangan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bakteri
merupakan salah satu makhluk hidup yang jumlahnya banyak disekitar kita.
Bakteri pun berada di mana-mana. Di tempat yang paling dekat dengan kita pun
juga terdapat bakteri contohnya saja tas, buku, pakaian, dan banyak hal
lainnya. Maka dari itu bakteri merupakan penyebab penyakit yang cukup sering
terjadi. Karena banyaknya manusia yang mengabaikan penyakit tersebut karena
terkadang gejala awal yang diberikan ada gelaja awal yang biasa saja. Maka dari
itu alangkah baiknya jika kita masyarakat dapat mengetahui bagaimana cara
bakteri itu menginfeksi dan gejala-gejala apa yang akan dberikannya.
Beberapa contoh bakteri yang menyebabkan penyakit adalah Hameophylus
influenza, Hameophylus ducreyi, Bordetella pertussis, Staphylococcus pyogenes,
Staphylococcus aureus.
DAFTAR
PUSTAKA
http://www.berbagimanfaat.com/2010/11/penyakit-menular-seksual.html
http://indahdjumati95.blogspot.com/2013/01/makalah-tentang-staphylococcus-aureus_5518.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Staphylococcus_aureus
http://kevinrudhy.blogspot.com/2013/01/streptococcus-pyogenes_13.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar