Senin, 27 Oktober 2014

Penyakit Yang Disebabkan Oleh Bakteri


MIKROBIOLOGI

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Bakteri merupakan salah satu makhluk hidup yang jumlahnya banyak disekitar kita. Bakteri pun berada di mana-mana. Di tempat yang paling dekat dengan kita pun juga terdapat bakteri contohnya saja tas, buku, pakaian, dan banyak hal lainnya. Maka dari itu bakteri merupakan penyebab penyakit yang cukup sering terjadi. Karena banyaknya manusia yang mengabaikan penyakit tersebut karena terkadang gejala awal yang diberikan ada gelaja awal yang biasa saja. Maka dari itu alangkah baiknya jika kita masyarakat dapat mengetahui bagaimana cara bakteri itu menginfeksi dan gejala-gejala apa yang akan dberikannya.
Banyaknya manusia yang mulai tidak begitu peduli dengan gejala awal terjangkitnya bakteri salah satunya adalah pada saluran pencernaan. Saluran pencernaan adalah saluran yang sangat berperan dalam tubuh. Jika saluran pencernaan terganggu akan cukup mengganggu aktivitas tubuh saat itu. Tapi banyak masyarakat yang tidak peduli dengan penyakit yang ditimbulkan.
Pada dasarnya dari seluruh mikroorganisme yang ada di alam, hanya sebagian kecil saja yang merupakan patogen. Patogen adalah organism atau mikroorganisme yang menyebabkan penyakit pada organism lain. Kemampuan pathogen untuk menyebabkan penyakit disebut dengan patogenisitas. Dan patogenesis disini adalah mekanisme infeksi dan mekanisme perkembangan penyakit. Infeksi adalah invasi inang oleh mikroba yang memperbanyak dan berasosiasi dengan jaringan inang. Infeksi berbeda dengan penyakit. Sebagaimana kita ketahui sebelumnya mikroorganisme adalah organisme hidup yang berukuran mikroskopis sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Mikroorganisme dapat ditemukan disemua tempat yang memungkinkan terjadinya kehidupan, disegala lingkungan hidup manusia. Mereka ada di dalam tanah, di lingkungan akuatik, dan atmosfer ( udara ) serta makanan, dan karena beberapa hal mikroorganisme tersebut dapat masuk secara alami ke dalam tubuh manusia, tinggal menetap dalam tubuh manusia atau hanya bertempat tinggal sementara. Mikroorganisme ini dapat menguntungkan inangnya tetapi dalam kondisi tertentu dapat juga menimbulkan penyakit.
1.2  Tujuan
1.      Mengetahui macam-macam Bakteri yang menyebabkan penyakit.
2.      Mengetahui pengertian dari Bakteri yang menyebabkan penyakit.
3.      Mnengetahui cara infeksi Bakteri.
4.      Mengetahui patogenesis Bakteri.
5.      Mengetahui cara diagnosis Bakteri.
6.      Mengetahui cara pencegahan penyakit yang disebabkan oleh Bakteri.
7.      Mengetahui cara pengobatan penyakit yang disebabkan oleh Bakteri.
1.3  Rumusan Masalah
1.      Macam-macam Bakteri yang menyebabkan penyakit.
2.      Pengertian dari Bakteri yang menyebabkan penyakit.
3.      Cara infeksi Bakteri,
4.      Patogenesis Bakteri.
5.      Cara diagnosis penyakit yang disebabkan Bakteri.
6.      Cara pencegahan penyakit yang disebabkan oleh Bakteri.
7.      Mengetahui cara pengobatan penyakit yang disebabkan oleh Bakteri.






BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Haemophylus influenzae
a.    Pengertian
Haemophilus influenzae adalah kelompok bakteri yang dapat menyebabkan berbagai jenis infeksi pada bayi dan anak-anak. Bakteri yang semula disebut Bacillus Pfeiffer ini diartikan juga sebagai organisme yang hidup bebas pertama yang memiliki seluruh genome sequencing. Haemophilus influenzae atau yang biasa disingkat H. influenzae adalah bagian dari mikroflora normal pada bagian atas saluran pernapasan pada manusia. Haemophilus influenzae bergerak di antara sel-sel epitel pada saluran pernapasan untuk menginvasi dan menimbulkan penyakit.
Haemophilus influenzaemempunyai ukuran 1 m x 0.3 m. Bakteri ini bebentuk batang negative Gram dan merupakan bakteri yang tidak harus  membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya. Pada tahun 1930, bakeri ini dibagi menjadi 2 jenis yaitu koloni R  yang dibentuk oleh kuman-kuman yang tidak ramah lingkungan (tak bersimpai) dan koloni S yang dibentuk oleh sebaliknya, yaitu oleh kuman-kuman yang bersimpai.
Haemophilus influenzae sangat peka terhadap desinfektan dan kekeringan. Bakteri ini tumbuh optimum pada suhu 37oC dan pada pH 7.4 sampai 7.8 dalam suasana CO2 10%. Tumbuh  di media kultur yang membutuhkan faktor X (hemin) suatu derivat haemoglobin yang termostabil, dan faktor V (NAD atau NADP) yang termolabil. Media kultur yang digunakan untuk membiakkan Haemophilus influenzae adalah agar coklat (karena mengandung faktor X dan V). Haemophilus influenzae juga dapat dibiakkan di media agar darah jika diinokulasikan bersama bakteri lain yang menghasilkan dan melepaskan NAD (misal: Staphylococcus aureus), dan dikultur itu akan terlihat mengelilingi bakteri penghasil NAD tersebut atau disebut fenomena satelit. Bakteri Haemophilus influenzae mempunyai kapsul, dan  tidak bergerak. Bakteri  ini dapat ikut aliran darah atau terkadang menetap di sendi dan dapat menyebar melalui droplet pernafasan atau melalui kontak langsung.
b.    Cara Infeksi
Infeksi oleh haemophilus influenzae terjadi setelah mengisap droplet yang berasal dari penderita baru sembuh, atau carrier, yang biasanya menyebar secara langsung saat bersin atau batuk. Haemophilus influenzae menyebabkan sejumlah infeksi pada saluran pernafasan bagian atas seperti faringitis, otitis media, dan sinusitis yang terutama penting pada penyakit paru kronik. Meningitis karena haemophilus influenzae jarang terjadi pada bayi berumur kurang dari 3 bulan dan tidak umum dijumpai pada anak-anak diatas umur 6 tahun. Pada anak-anak, selain meningitis, haemophilus influenzae tipe b juga menyebabkan penyakit bacterial epiglottitis akut.

c.       Gejala Klinis
Gejala-gejala klinis yang disebabkan penyakit ini cukup banyak, tergantung letak infeksi dan jenis penyakit yang disebabkannya. Anak-anak mungkin memiliki gejala klinis yang berbeda tiap pribadi, namun jika disimpulkan, gejala klinis tersebut adalah Irritability (kekurangan makanan dan nutrisi saat bayi, demam (pada bayi prematur temperaturnya dibawah normal), sakit kepala, muntah, sakit di leher, sakit di punggung, posisi badan yang tidka biasa, kepekaan terhadap cahaya, epiglottitis, dyspnoea (sulit bernafas), dysphagia (sulit menelan), septic arthritis, cellulitis, pneumonia, sepicaemia, osteomyelitis, bacteramia, dan empyema. Kasus Hib jarang terjadi pada bayi di bawah 3 bulan atau di atas 6 tahun. Biasanya terjadi pada umur 4-18 bulan.

d.      Patogenesis
Haemophilus influenzae tidak menghasilkan eksotoksin dan peranan antigen somatik toksiknya pada penyakit alamiah belum jelas. Organisme yang tidak bersimpai termasuk anggota flora normal saluran pernapasan manusia. Simpai bersifat antifagositik bila tidak terdapat antibodi antisimpai khusus. Haemophilus influenzae yang memiliki simpai khususnya tipe b menyebabkan infeksi pernapasan supuratif (sinusitis, laringotrakeitis, epiglotitis, otitis) dan pada anak kecil meningitis. Darah dari orang dengan umur kira-kira 3-5 tahun memiliki daya bakterisidal kuat terhadap Haemophilus influenzae, dan infeksi klinik lebih jarang terjadi pada orang itu. Namun sekarang antibodi bakterisidal sudah jarang ditemukan pada 25% orang AS dan infeksi yang bersifat klinik lebih sering terjadi pada orang dewasa. Haemophilus influenzae yang dapat digolongkan atau tidak bersimpai tipe b umumnya menyebabkan otitis media (mekanisme patogeniknya belum jelas). Bakteri ini dan pneumonia menjadi penyebab utama otitis media bacterial dan sinusitis akut. Organisme ini dapat ikut aliran darah atau terkadang menetap di sendi. Jika menetap di sendi maka bakteri dapat menyebabkan Artritis Infeksiosa.

e.       Diagnosa
Dalam mendiagnosis penyakit ini, dapat dipergunakan cairan serebrospinal, sputum, dan cairan telinga sebagai bahah pemeriksaan. Dari bahan ini dibuat preparat Gram, dan ditanam pada perbenihan agar coklat yang dieramkan dalam suasana CO2 10%. Ada 3 cara untuk mendiagnosanya, yaitu dengan Staphylococcus streak technique, untuk mengasingkan Haemophilus influenzae, terutama dari bahan-bahan yang tidak terkontaminasi dengan kuman-kuman lain seperti cairan serebrospinal dan darah. Cara lain adalah dengan reaksi Quellung yang khas sangat membantu diagnosis, kecuali untuk kuman-kuman tak bersimpai. Sedangkan untuk menegakkan diagnosis meningitis, digunakan deteksi antigen polisakarida simpai di dalam cairan tubuh.

f.       Pengobatan
Pemilihan antibiotika yang akan digunakan dapat ditentukan dengan tes kepekaan secara in vitro. Kebanyakan H. influenzae peka terhadap ampisilin, khloramfenikol, tetrasiklin, sulfonamida dan kotrimoksasol, dan terapi dengan salah satu atau kombinasi obat-obat ini, namun kepekaan kumannya sendiri dan hasil suatu terapi tidak dapat diperkirakan. Terapi untuk anak atau bayi yang terinfeksi meningitis karena Hbi dapat diberikan dexamethasone atau campuran dari cefotaxime sodium/ceftriaxone sodium/ampicillin dengan chloramphenicol.
g.      Pencegahan
Sementara untuk pencegahannya, dapat digunakan vaksin khas polisakarida simpai (vaksin PRP). Disarankan juga untuk menjaga pola hidup bersih di daerah yang padat penduduk.

2.2    Hameophilus ducreyi
a.       Pengertian
Haemophilus ducreyi merupakan sejenis bakteri yang berbentuk batang kecil, tidak bergerak, termasuk golongan bakteri gram negative, dan bersifat parasit pada media yang mengandung darah. Haemophilus ducreyi merupakan bakteri penyebab penyakit “Chancroid” (soft chancre). Bakteri Haemophilus ducreyi ini disebut juga “Bacilus Ducrey”. Haemophilus ducreyi ini merupakan bakteri fakultatif anaerob, yang kadang-kadang memiliki kapsul tetapi juga terkadang tidak memiliki kapsul. Suhu optimum untuk tumbuhnya adalah 37ºC, untuk tumbuhnya memerlukan hemin (X faktor) atau nikotinamida-adenin difosfat (V faktor) atau kedua-duanya. Haemophilus ini menyusun dirinya berupa rantai pendek maupun panjang atau berpasangan secara parallel. Sifat bakteri ini hampir sama dengan Haemophilus influenza hanya ukurannya agak lebih besar.
b.      Cara infeksi
-          Cara bakteri menginfeksi penyakit
Bakteri ini masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang lecet dan menimbulkan terjadinya ulcus pada alat kelamin yang pinggirnya tidak rata dan terasa sakit bila dipijit dan biasanya terdapat beberapa ulcus.
-          Penyebaran
Tempat infeksi yang umum pada pria adalah sulkus koronanius, meatus atau glans penis, sedangkan pada wanita adalah vulva, labia, uretra, paha, vagina atau serviks. Chancroid merupakan faktor risiko untuk penyebaran heteroseksual dan HIV. Ulkus kelamin menyebabkan wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV setelah hubungan heteroseksual dengan pria yang terinfeksi dan sebaliknya adanya ulkus pada wanita dengan infeksi HIV jauh lebih meningkatkan kemungkinan pasangannya tertular.
-          Penularan.
Penularan penyakit ini melalui hubungan seksual terutama pada kelompok social ekonomi rendah yang sering melacur dengan insiden pada pria lebih tinggi dibandingkan dengan wanita.

c.       Gejala
Pada pria bagian ulkus terasa sangat nyeri, terutama bila dipijit. Masa inkubasi antara 4-7 hari dan mulai muncul sebagai papula dengan eritema yang dalam waktu 2-4 hari menjadi pustule, tererosi, dan ulserasi. Selain itu juga gejala lainnya adalah luka lebih dari satu yang sangat nyeri, tanpa radang jelas. Dan juga terdapat benjolan di lipatan paha yang sangat sakit dan mudah pecah. Lesi kebanyakan multiple, jarang soliter, biasanya pada daerah genital, jarang pada ekstragenital.

d.      Penyakit yang ditimbulkan
Ulkus mole adalah penyakit infeksi pada alat kelamin yang akut, setempat dan disebabkan oleh strptobacillus ducrey (Haemophillus ducreyi) dengan gejala klinis yang khas berupa ulkus nekrotik yang nyeri pada tempat inokulasi, dan sering disertai penanahan kelenjar getah bening regional. Limfadenitis tang terjadi pada infeksi H.ducreyi diikuti dengan respon inflamasi sehingga terjadi supurasi. Penyakit ini banyak terdapat pada dearah-daerah dengan tingkat sosio ekonomi rendah. Sampai saat ini penyakitnya masih timbul hanya di daerah tropika. 
e.       Diagnosa
1.      Pemeriksaan Sediaan Hapus
Bahan diambil dari tepi ulkus yang tergaung, dibuat hapusan pada gelas alas, kemudian dibuat pewarnaan gram, Unna-Pappenhein, Wright, atau Giemsa. 
2.      Biakan kuman
Bahan diambil dari pus bubo atau lesi. 
3.      Tekhnik imunofluoresense untuk menemukan antibodi
4.      Biopsi
Pada lesi, organisme terdapat dalam makrofag netrofil atau bebas berkelompok dalam jaringan interstitial.
5.      Tes kulit ito-reenstierna
Sekarang tidak lagi dipakai karena tidak spesifik
6.      Autoinokulasi
Bahan diambil dari lesi yang tersangka, diinokulasikan pada kulit sehat daerah lengan bawag atau paha penderita yang digores lebih dahulu. Pada tempat tersebut akan timbul ulkus mole. Sekarang cara ini tidak dipakai lagi.
f.       Pengobatan
Obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati penyakit ini adalah Sulfonamid. Sulfonamid diketahui efektif untuk chancroid pada tahun 1938 dan sebelum timbulnya strain yang menghasilkan beta laktamase, ampisilin juga efektif. Resistensi melalui plasmid terjadi pada ampisilin, sulfonamid, kloramfenikol, tetrasiklin, streptomisin dan kanamisin. Akhir-akhir ini obat yang lebih efektif untuk mengobati penyakit ini adalah Azitromisin.
g.      Pencegahan
Menghindari atau tidak melakukan hubungan seksual (heteroseksual) secara sembarangan.


2.3    Bordetella pertussis

a.         Pengertian
Bordetella pertussis itu adalah bakteri penyebab penyakit menular akut yang menyerang pernafasan alias batuk rejan atau batuk seratus hari yang mengandung beberapa komponen yaitu Peitusis Toxin (PT), Filamentous Hemagglutinin (FHA), Aglutinogen, endotoksin, dan protein lainnya.
Ciri organisme ini : pendek, gram negative, dan dengan pewarnaan toluidin biru dapat terlihat granula bipolar metakromatik. Bakteri ini aerob murni dan membentuk asam tapi tidak membentuk gas dari glukosa dan laktosa. Untuk biakan isolasi primer B pertussis dapat digunakan Bordet Gengou 9agar kentang-darah-gliserol) yang mengandung Penisilin 0,5 µg/mL.
Terdapat dua mekanisme bagi B pertussis untuk berganti menjadi bentuk yang non hemolitik, dan bentuk tidak virulen yang tidak menghasilkan toksin. Modulasi fenotipik yang reversible terjadi bila B pertussis tumbuh dalam kondisi lingkungan tertentu. (misalnya suhu 280 C melawan suhu 370 C, adanya MgSO4, dll.)
b.      Cara Infeksi
Infeksi berlangsung selama 6 minggu, dan berkembang melalui 3 tahapan:
1.         Tahap kataral ( mulai terjadi secara bertahap dalam waktu 7-10 hari setelah terinfeksi). Gejalanya menyerupai flu ringan :
o    bersin-bersin
o    mata berair
o    nafsu makan berkurang
o    lesu
o    batuk (pada awalnya hanya timbul di malam hari kemudian terjadi sepanjang hari)
2.         Tahap paroksismal (mulai timbul dalam waktu 10-14 hari setelah timbulnya gejala awal). 5-15 kali batuk diikuti dengan menghirup nafas dalam dengan nada tinggi. Batuk bisa disertai pengeluaran sejumlah besar lendir yang biasanya ditelan oleh bayi/ anak-anak atau tampak sebagai gelembung udara di hidungnya. Batuk atau lendir yang kental sering merangsang terjadinya muntah. Serangan batuk bisa diakhiri oleh penurunan kesadaran yang bersifat sementara.
3.         Tahap Konvalesen (mulai terjadi dalam waktu 4-6 minggu setelah gejala awal). Batuk semakin berkurang, muntah juga berkurang, anak tampak merasa lenih baik. Kadang batuk terjadi selama berbulan-bulan, biasanya akibat iritasi saluran pernafasan.

c.         Penyakit yang ditimbulkan
Batuk rejan merupakan penyakit yang disebabkan oleh B pertussis. Penyakit ini biasanya berlangsung selama 6 minggu atau lebih, oleh karna itu biasa disebut batuk seratus hari. Batuk pertussis ditandai dengan batuk hebat yang khas dan biasanya diakhiri dengan suara pernafasan yang melengking. Penyakit ini menular melalui udara, yaitu melalui percikan ludah dari pasien diwaktu bersin atau meludah yang dihirup orang yang sehat dan kekebalan tubuhnya rendah. Gejala timbul dalam waktu 7-10 hari setelah terinfeksi. Bakteri menginfeksi lapisan tenggorokan, trakea dan saluran udara sehingga pembentukan lendir semakin banyak. Pada awalnya lendir encer, tetapi kemudian menjadi kental dan lengket.

d.        Pengobatan
Pemberian Eritromisin pada stadium kataral akan membantu pencegahan dan pembasmian mikroorganisme. Sedangkan pengobatan pada stadium paroksismal jarang mengubah gejala klinik. B pertussis peka terhadap obat antimikroba in vitro. Jika penyakitnya berat, penderita biasanya dirawat di Rumah Sakit dan ditempatkan di kamar yang tenang dan tidak terlalu terang. Keributan juga bisa merangsang serangan batuk. Dapat pula dilakukan pengisapan lendir dari tenggorokan. Pada kasus yang berat, oksigen diberikan langsung ke paru-paru melalui selang yang dimasukkan ke trakea. Diberikan cairan melalui infuse untuk menggantikan cairan yang hilang karena muntah pada bayi dan karena biasanya tidak dapat makan akibat batuk. Gizi yang baik sangat penting, dan sebaiknya makanan diberikan dalam porsi kecil tapi sering.
e.       Pencegahan
Pemberian 3 suntikan vaksin pertussis ( biakan tidak murni) dalam konsentrasi tepat pada bayi sangat perlu. Biasanya diberikan dengan kombinasi dengan toksoid difteria dan tetanus (DPT). Eritromisin profilaktik dapat diberikan pada bayi yang belum divaksin atau orang dewasa yang kontak dengan penyakit ini
2.4    Staphylococcus pyogenes
a.    Pengertian
Streptococcus pyogenes adalah salah satu jenis bakteri Streptococcus beta hemolitikus grup A, yaitu Streptococcus yang dapat menyebabkan terjadinya hemolisis sel darah merah yang disertai dengan pelepasan hemoglobin. Streptococcus pyogenes adalah bakteri Gram positif, non-spora, bersifat fakultatif anaerob, dan selnya berbentuk bulat dengan diameter 0.6-1 μm. Biasanya struktur tersusun dalam bentuk rantai yang panjangnya beragam atau pasangan sel.
Streptococcus pyogenes mudah tumbuh dalam media BAP. Penambahan glukosa dalam konsentrasi 0.5% akan meningkatkan pertumbuhannya, tetapi menyebabkan penurunan daya lisisnya terhadap sel darah merah. Dalam lempeng agar yang diinkubasi pada suhu 37°C selama 18-24 jam akan membentuk koloni kecil abu-abuan,bentuknya bulat, pinggir rata pada permukaan media, koloni tampak seperti setitik cairan.
Streptococcus bersifat anaerob fakultatif, hanya beberapa jenis yang bersifat anaerob obligat. Pada perbenihan biasa, pertumbuhannya kurang subur jika ke dalamnya tidak ditambahkan darah atau serum. Streptococcus hemolyticus meragi glukosa dengan membentuk asam laktat yang dapat  menghambat pertumbuhannya. Tumbuhnya akan subur bila diberi glukosa berlebih dan diberikan bahan yang dapat menetralkan asam laktat yang terbentuk.Tes katalase negatif untuk Streptococcus, ini dapat membedakan dengan Staphylococcus di mana tes katalase positif.
Berdasarkan sifat hemolitiknya pada lempeng agar darah,bakteri ini dibagi dalam:
-          hemolisis tipe alfa, membentuk warna kehijau-hijauan dan hemolisis sebagian disekeliling koloninya, bila disimpan dalam peti es zona yang paling luar akan berubah menjadi tidak berwarna.
-          Hemolisis tipe beta, membentuk zona bening di sekeliling koloninya, tak ada sel darah merah yang masih utuh, zona tidak bertambah lebar setelah disimpan dalam peti es.
-          Hemolisis tipe gamma, tidak menyebabkan hemolisis.Untuk membedakan hemolisis yang jelas sehingga mudah dibeda-bedakan maka dipergunakan darah kuda atau kelinci dan media tidak boleh mengandung glukosa. Streptococcus yang memberikan hemolisis tipe alfa juga disebut Streptoccocus viridans. Yang memberikan hemolisis tipe beta disebut Streptococcus hemolyticus dan tipe gamma sering disebut sebagai Streptococcus anhemolyticus.

b.      Patogenesis
Infeksi streptokokus timbulnya dapat dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor, antara lain sifat biologik kuman, cara host memberikan respons, dan cara masuknya kuman kedalam tubuh. Penyakit yang ditimbulkan oleh kuman streptokokus dapat dibagi dalam beberapa kategori.
1.      Penyakit yang terjadi karena invasi
Pada setiap kasus dapat terjadi selulitis yang cepat meluas secara difus ke jaringan sekitarnya dan saluran getah bening, tetapi peradangan setempatnya sendiri hanya terjadi secara ringan. Dari saluran getah bening infeksinya cepat meluas ke dalam peredaran darah, sehingga terjadi bakteremia
-       Erysipelas
Erysipelas merupakan suatu infeksi kulit akut dan saluran limfa yang di sebabkan oleh bakteri Streptokokkus pyogenes . Erysipel biasanya bermula dari luka kecil dan muncul di bagian wajah, tangan dan kaki. Penderita nampak sakit berat dengan demam tinggi. Pada pemeriksaan ditemukan lekositosis, lebih dari 15.000 lekosit. Titer ASO meningkat setelah 7-10 hari. Kuman tidak ditemukan dalam pembuluh darah, tetapi di dalam cairan getah bening dari pinggir lesi yang sedang meluas, terutama dalam jaringan subkutan.
Pada penyakit ini dapat terjadi bakteremia yamg menyebabkan infeksi metastatik di lain organ. Dengan pemakaian antibiotika mortalitasnya dapat ditekan, tetapi pada bayi, orang tua yang debil dan pada penderita yang mendapat pengobatan dengan kortikosteroid, penyakit ini dapat berkembang demikian cepat sehingga berakibat fatal.
Penyakit ini cenderung untuk kambuh di tempat yang sama, sehingga terjadi sumbatan pada saluran getah bening yang bersifat menahun. Kulit setempat tumbuh secara tidak teratur, sehingga terjadi elephantiasis nostras verrucosa. Jika lokalisasinya di bibir dapat terjadi macrocheilia, suatu pembengkakan bibir yang bersifat persiten.

-       Sepsis puerpuralis
Kuman streptokokus masuk ke dalam uterus sehabis persalinan. Septikimia terjadi karena luka yang terkena infeksi, yaitu berupa endometritis.

-       Sepsis
Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah dan jaringan lain. Sepsis terjadi karena luka bekas operasi atau karena trauma, terkena infeksi oleh kuman streptokokus. Ada yang menyebut penyakit ini sebagai surgical scarlet fever.

2.    Penyakit yang terjadi karena infeksi lokal
-Radang tenggorok
            Disebabkan oleh streptococcus beta hemolyticus. pada bayi dan anak kecil timbul sebagai nasofaringitis subakut dengan sekret serosa dan sedikit demam dan  infeksinya cenderung meluas ke telinga tengah, prosesus mastoideus dan selaput otak. Kelenjar getah bening cervical biasanya membesar. Penyakitnya dapat berlangsung berminggu-minggu. Pada anak-anak yang lebih besar daripada orang dewasa, penyakitnya berlangsung lebih akut dengan nasofaringitis dan tonsilitis yang hebat, selaput lendir hiperemis dan membengkak dengan eksudat yang purulen. Kelenjar getah bening cervicalmembesar dan nyeri, biasanya disertai demam tinggi. Duapuluh persen dari infeksi ini tidak menimbulkan gejala (asimptomatik).
Jika kuman dapat membuat dapat membuat toksin eritrogenik, dapat timbul scarlet fever rash. Pada scarlet fever rash kuman terdapat dalam faring, tetapi toksin eritrogenik yang dihasilkannya menyebabkan terjadinya kemerah-merahan yang difus. Eritema mulai timbul di leher, meluas ke tubuh, kemudian menyebar ke ekstremitas.

-            Impetigo
Pada impetigo lokalisasi infeksi sangat superfisial, dengan pembentukan vesicopustulae di bawah stratum korneum. Terutama terdapat pada anak kecil, penyebaran terjadi per continuitatum. Bagian kulit yang mengelupas diliputi oleh crusta yang berwarna kuning madu. Penyakit ini sangat menular pada anak-anak dan biasanya disebabkan oleh Streptococcus dan  Staphylococcus. Infeksi kuman streptokokus tipe 49 dan 57 pada kulit sering menyebabkan timbulnya nephritis post streptococcalis.
c.       Diagnosa
Biasanya, usap tenggorokan dibawa ke laboratorium untuk diuji. Pewarnaan Gram diperlukan untuk memperlihatkan Gram-positif, coccus, dalam bentuk rantai. Kemudian, organisme di agar darah dikultur dengan tambahan cakram antibiotik basitrasin untuk memperlihatkan koloni beta-hemolisis dan sensitivitas (zona inhibisi sekitar cakram) antibiotik. Lalu dilakukan uji katalase, yang harus menunjukkan reaksi negatif untuk semua Streptococcus. Streptococcus pyogenes bersifat negatif untuk uji cAMP dan hipurat. Identifikasi serologi atas organisme itu melibatkan uji untuk adanya polisakarida spesifik grup A dalam dinding sel bakteri menggunakan tes Phadebact. Karena uji tindak pencegahan juga dilakukan untuk memeriksa penyakit penyakit seperti, namun tak terbatas pada, sifilis, dan nekrosis avaskular, dan kaki pekuk.

d.      Pencegahan
            Sejumlah bakteri streptococcus misal, streptococcus viridians dan enterococcus, merupakan sebagian dari flora normal pada tubuh manusia. bakteri ini hanya akan menimbulkan penyakit jika terdapat diluar tempat-tempat di mana mereka biasanya berada, misalnya pada katup jantung. Untuk mencegah kemungkinan terjadinya hal itu, terutama pada sewaktu melakukan tindakan-tindakan opratif pada traktus urinarius dimana sering menyebabkan terjadinya bakteremia temporer, pemberian obat-obatan antibiotika sangat diperlukan untuk mencegah atau untuk pengobatan dini terhadap infeksi streptococcus beta hemolytikus grup A pada penderita yang diketahui mempunyai kelainan katup jantung.
Sumber infeksi kuman streptococcus dapat berasal dari penderita atau carrier. Penularannya terjadi secara droplet dari traktus respiratorius atau dari kulit.



Cara control terpenting adalah
1.      Pada penderita dengan infeksi streptococcus grup A pada traktus respiratorius ataupun kulit harus diberikan antibiotic secara intensif.
2.      Pada penderita yang pernah mendapat serangan demam rheuma harus diberikan antibiotikadalam dosis profilaksi
3.      Untuk mencegah penyebaran streptococcus dapat dilakukan dengan cara mencegah pengotoran oleh debu, ventilasi yang baik, ringan udara, sinar ultra violet, dan pemakaian aerosol.

e.    Penanganan
Terapi pilihan adalah penisilin, namun, bila tidak siap tersedia penisilin, sayatan kecil pada daerah yang terinfeksi akan menghilangkan dan bengkak dan rasa tak nyaman hingga bantuan medis yang cocok dapat dicari. Tidak ada kejadian resistensi penisilin yang dilaporkan hingga hari ini, meski sejak tahun 1985 sudah banyak laporan toleransi penisilin.
Makrolid, kloramfenikol, dan tetrasiklin bisa digunakan jika strain yang diisolasi nampak sensitif, namun lebih umum terjadi resistensi.
2.5    Staphylococcus Aureus
f.       Pengertian
Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram Positif, tidak bergerak, tidak berspora dan mampu membentuk kapsul, berbentuk kokus dan tersusun seperti buah anggur. Ukuran Staphylococcus berbeda-beda tergantung pada media pertumbuhannya. Apabila ditumbuhkan pada media agar, Staphylococcusmemiliki diameter 0,5-1,0 mm dengan koloni berwarna kuning. Dinding selnya mengandung asam teikoat, yaitu sekitar 40% dari berat kering dinding selnya. Asam teikoat adalah beberapa kelompok antigen dari Staphylococcus. Asam teikoat mengandung aglutinogen dan N-asetilglukosamin.
Staphylococcus aureus adalah bakteri aerob dan anaerob, fakultatif yang mampu menfermentasikan manitol dan menghasilkan enzim koagulase, hyalurodinase, fosfatase, protease dan lipase. Staphylococcus aureus mengandung lysostaphin yang dapat menyebabkan lisisnya sel darah merah. Toksin yang dibentuk oleh Staphylococcus aureus adalah haemolysin alfa, beta, gamma delta dan apsilon. Toksin lain ialah leukosidin, enterotoksin dan eksfoliatin. Enterotosin dan eksoenzim dapat menyebabkan keracunan makanan terutama yang mempengaruhi saluran pencernaan. Leukosidin menyerang leukosit sehingga daya tahan tubuh akan menurun. Eksofoliatin merupakan toksin yang menyerang kulit dengan tanda-tanda kulit terkena luka bakar.
Staphylococcus aureus   adalah bakteri bola berpasang-pasangan atau berkelompok seperti buah anggur dengan diameter antara 0,8 mikron-1,0 mikron, non motil, tidak berspora dan bersifat gram positif. Namun kadang-kadang ada yang bersifat gram negatif yaitu pada bakteri yang telah difagositos atau pada biakan tua yang hampir mati.
Menurut SNI 01-3141-1998, jumlah cemaran mikroba total yang diperbolehkan maksimal 1 x 106 CFU/ml susu dan sel somatik maksimal 4 x 104 sel/ml susu.
Menurut SNI 01-3553-1996 jumlah mikroba aerob maksimal dalam air yang layak minum adalah 1,0 x 105 CFU/ml dan E.coli patogen 0 CFU/100 ml. SNI 01-6366-2000 mensyaratkan pemeriksaan TPC perlu dilakukan untuk mengetahuikualitas susu. Jumlah TPC >106 cfu/ml menyebabkan mikroba cepat berkembang dan toksin sudah terbentuk.
g.      Cara Infeksi
Staphylococcus aureus banyak bakteri yang dapat hidup di tubuh orang. Banyak orang yang sehat membawa Staphylococcus aureus tanpa terinfeksi. Fakta, 25-30 % atau 1/3 bagian tubuh kita terdapat bakteri Staphylococcus aureus. Yang terdapat pada permukaan kulit, hidung, tanpa menyebabkan infeksi. menyebabkan infeksi. Ini dikenal sebagai koloni bakteri. Jika sengaja dimasukan dalam tubuh melalui luka akan menyebabkan infeksi. Biasanya sedikit dan tidak membutuhkan perawatan khusus, Kadang-kadang, Staphylococcus aureus dapat menyebabkan masalah serius seperti luka atau pneumonia (radang paru-paru)
Penularan terjadi karena mengkonsumsi produk makanan yang mengandungenterotoksin staphylococcus. terutama yg diolah dengan tangan, baik yang tidak segera dimasak dengan baik ataupun karena proses pemanasan atau penyimpanan yang tidak tepat. Jenis makanan tersebut seperti pastries, custard, saus salad, sandwhich, daging cincang dan produk daging. Bila makanan tersebut dibiarkan pada suhu kamar untuk beberapa jam sebelum dikonsumsi, maka staphylococcus yang memproduksi toksin akan berkembang biak dan akan memproduksi toksin tahan panas.
Masa inkubasi mulai dari saat mengkonsumsi makanan tercemar sampai dengan timbulnya gejala klinis yang berlangsung antara 30 menit sampai dengan 8 jam, biasanya berkisar antara 2-4 jam.

h.    Gejala
Staphylococcus aureus menginfeksi siapa saja tanpa pandang bulu., terutama pada tubuh yang lemah sistem imunnya. Infeksi pada kulit atau luka luar biasanya berakibat pada penahanan, misalnya bisul atau luka bernanah lainnya. Area infeksi berwarna merah, bengkak dan terasa sakit bila disentuh.
                        Dalam kondisi parah, pembengkakan tersebut berkembang menjadi empetigo (pengerasan dari kulit) atau cellitus (peradangan pada jaringan bawah kulit). Infeksi juga bisa terjadi pada ibu menyusui berupa peradangan payudara, bisul dan nanah pada puting, yang berpotensi menularkan bakteri kepada bayi.
                        Bakteri yang masuk ke dalam aliran darah juga bisa bersarang di dalam paru-paru  menyebabkan organ tersebut bernanah dan infeksi klep jantung (endocarditis) yang bisa mengakibatkan gagal jantung. Infeksi pada sel tulang berakibat peradangan berat osteomyletis.
            Bakteri yang mengontaminasi makanan, saat tertelan akan menimbulkan gangguan pencernaan dengan gejala mual, muntah, (benar-benar muntah atau tampak seperti muntah  tetapi tidak mengeluarkan apapun), kram perut, lemas, diare, dan dehidrasi. Gejala muncul sekitar 1-6 jam sejak tertelan. Gejala tersebut berlangsung selama 1-3 hari. Pada kasus yang lebih berat, gejala tersebut disertai dengan sakit kepala, kram otot, tekanan darah, dan denyut nadi tidak teratur.

i.        Patogenesis
Infeksi S. aureus diasosiasikan dengan beberapa kondisi patologi, diantaranya bisul, jerawat, pneumonia, meningitis, dan arthritits. Sebagian besar penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini memproduksi nanah, oleh karena itu bakteri ini disebut piogenik. S. aureus juga menghasilkan katalase, yaitu enzim yang mengkonversi H2O2 menjadi H2O dan O2, dan koagulase, enzim yang menyebabkan fibrin berkoagulasi dan menggumpal. Koagulase diasosiasikan dengan patogenitas karena penggumpalan fibrin yang disebabkan oleh enzim ini terakumulasi di sekitar bakteri sehingga agen pelindung inang kesulitan mencapai bakteri dan fagositosis terhambat.
j.      Diagnosa
Specimen ditanam pada media isolasi Blood Agar Plate dan mannitol Salt Agar Plate
-          Masuk incubator 370 C,  selama 24 jam
Hari 2 :
-          Koloni yang tersangka staphylococcus dari Blood Agar Platen dan Mannitol Salt Agar dibuat praeparat, dilakukan pewarnaan gram
-          Kalau betul staphylococcus Gram (+), kemudian ditanam pada media Loeffler Serum, Nutrien agar, D-Nase agar dan mannitol.
-           Semuanya masukan ke incubator 370 C, selama 24 jam
Hari 3 :
-          Diamati dan dicatat pertumbuhan di media
-          Loeffler serum : berwarna kuning
-          Nutrien agar :dikerjakan Coagulase test atau staphylase test
-          D-Nase agar : dikerjakan D-Nase test
-          Gula mannitol : asam, dikerjakan catalase test
-          Kemudian hasil pengamatan media dan test-test tersebut dibandingkan dibandingkan dengan sifat-sifat cultural dan biochemisnya serta tabel, untuk ditemukan dignosa.
Hari 4
Amati hasil media Muller Hinton agar untuk uji sensitivitas. Dan Inkubasi 370C, 24 jam
 Uji Sensitivitas : Diameter zona hambat
-  Sensitif : > 16mm
-  Intermediet : > 13-15mm
-  Resisten : > 13mm
k.    Pengobatan
Pengobatan  terhadap  infeksi S.  aureus dilakukan  melalui  pemberian antibiotik,  yang  disertai  dengan  tindakan  bedah,  baik  berupa  pengeringan  abses maupun  nekrotomi.  Pemberian  antiseptik  lokal  sangat  dibutuhkan  untuk menangani  furunkulosis  (bisul)  yang  berulang.  Pada  infeksi  yang  cukup berat, diperlukan  pemberian  antibiotik  secara  oral  atau  intravena, seperti  penisilin, metisillin,  sefalosporin,  eritromisin,  linkomisin,  vankomisin,  dan  rifampisin. Sebagian  besar  galur Stafilokokus  sudah  resisten  terhadap  berbagai  antibiotik tersebut,  sehingga  perlu  diberikan  antibiotik  berspektrum  lebih  luas  seperti  kloramfenikol, amoksilin, dan tetrasiklin.
l.      Pencegahan
Untuk pengendalian Staphylococcus aureus ( mencakup MRSA) melalui human-to-human, walaupun beberapa dokter hewan sudah menemukan yang dapat menyebabkan infeksi ke host, dengan pencemaran lingkungan. Penekanan pada  cuci tangan basis dasar teknik kemudian efektif mencegah transmisi Staphylococcus aureus. Penggunaan sarung tangan dapat sehingga mengurangi kontak skin-to-skin.
Penggunaan Alkohol telah terbukti sanitizer melawan MRSA. Quaternary ammonium dapat digunakan bersama dengan alkohol untuk membersihkan dan mencegahan infeksi nosocomial. Nonprotein amino L-Homoarginine asam adalah suatu penghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus seperti halnya Candida albicans, hal ini diasumsikan untuk;menjadi suatu antimetabolite arginine. BBC melaporkan bahwa suatu penyemprotan alat penguap beberapa kotoran minyak ( mencakup pohon teh oil) ke dalam atmospir mengurangi 90% peningkatan bakteri di udara dan mengendalikan MRSA yang dapat menyebabkan infeksi/peradangan.













BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Bakteri merupakan salah satu makhluk hidup yang jumlahnya banyak disekitar kita. Bakteri pun berada di mana-mana. Di tempat yang paling dekat dengan kita pun juga terdapat bakteri contohnya saja tas, buku, pakaian, dan banyak hal lainnya. Maka dari itu bakteri merupakan penyebab penyakit yang cukup sering terjadi. Karena banyaknya manusia yang mengabaikan penyakit tersebut karena terkadang gejala awal yang diberikan ada gelaja awal yang biasa saja. Maka dari itu alangkah baiknya jika kita masyarakat dapat mengetahui bagaimana cara bakteri itu menginfeksi dan gejala-gejala apa yang akan dberikannya.
Beberapa contoh bakteri yang menyebabkan penyakit adalah Hameophylus influenza, Hameophylus ducreyi, Bordetella pertussis, Staphylococcus pyogenes, Staphylococcus aureus.














DAFTAR PUSTAKA
http://www.berbagimanfaat.com/2010/11/penyakit-menular-seksual.html

http://indahdjumati95.blogspot.com/2013/01/makalah-tentang-staphylococcus-aureus_5518.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Staphylococcus_aureus
http://kevinrudhy.blogspot.com/2013/01/streptococcus-pyogenes_13.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar