Komunikasi dan Konseling Kebidanan
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Manusia
adalah makhluk sosial yang hidup dan menjalankan seluruh kehidupannya sebagai
individu dalam kelompok sosial, komunitas, organisasi, maupun masyarakat yang
dalam kehidupan sehari – hari tidak lepas dari kegiatan interaksi, membangun
relasi, dan transaksi sosial dengan orang lain. Manusia tidak dapat menghindari
komunikasi antar personal, komunikasi dalam kelompok, komunikasi
dalam organisasi dan publik, komunikasi massa.
Oleh
karena itu, komunikasi sangat diperlukan dalam asuhan kebidanan guna memberikan
pelayanan kebidanan yang bermutu. Sehingga dapat menimbulkan
interaksi antarpribadi yaitu antara bidan dengan klien juga keluarga klien
untuk penyampaian informasi yang diperlukan dengan jelas. Dan pada akhirnya,
kegiatan komunikasi selalu mendasari suatu kegiatan termasuk pelayanan
kebidanan. Selain dengan komunikasi, bidan dituntut untuk mengetahui pengaruh
berbagai fase kehidupan ini pada cara seseorang memandang masalah dan
kesulitannya. Sehingga bidan harus memahami macam – macam klien dalam
asuhannya.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada
remaja.
2. Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada calon
ibu.
3. Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada ibu
hamil.
4. Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada ibu
bersalin.
5. Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada ibu
nifas.
6. Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada ibu
meneteki.
7. Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada
menopause.
8. Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada
lansia.
9. Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada
akseptor KB.
1.3 Tujuan
1.
Bagaimana
komunikasi kebidanan yang diakukan pada remaja?
2.
Bagaimana
komunikasi kebidanan yang diakukan pada calon
ibu?
3.
Bagaimana
komunikasi kebidanan yang diakukan pada ibu
hamil?
4.
Bagaimana
komunikasi kebidanan yang diakukan pada ibu
bersalin?
5.
Bagaimana
komunikasi kebidanan yang diakukan pada ibu
nifas?
6.
Bagaimana
komunikasi kebidanan yang diakukan pada ibu
meneteki?
7.
Bagaimana
komunikasi kebidanan yang diakukan pada menopause?
8.
Bagaimana
komunikasi kebidanan yang diakukan pada lansia?
9.
Bagaimana
komunikasi kebidanan yang diakukan pada akeptor
KB?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Konseling
remaja dan kesehatan reproduksi remaja
Merujuk pada Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak, Remaja adalah mereka yang berusia 10 sampai 18
tahun. Sedangkan, menurut World Health Organization (WHO), yang di maksud
remaja adalah laki – laki dan perempuan berusia 18 sampai 24 tahun.
Istilah reproduksi mempunyai arti suatu proses
kehidupan manusia dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidupnya.
Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem,
fungsi dan proses reproduksi remaja. Saat ini, sebagian besar remaja sudah
aktif secara seksual, aktivitas seksual yang tidak sehat dapat menyebabkan
remaja terpapar berbagai masalah kesehatan reproduksi. Setiap tahun sekitar 15
juta usia 15 – 19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi dan hamper 100 juta
tertular infeksi menular seksual (IMS). Empat puluh persen dari kasus HIV
terjadi pada remaja usia 15-24 tahun dan setiap hatinya 7.000 remaja terinfeksi
HIV.
Masalah tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor di
antaranya menikah dan melakukan hubungan seksual pada usia dini, akses pendidikan
dan pekerjaan, ketidaksetaraan gender, kekerasan seksual, dan pengaruh media
masa (Outlok, Volume 16, Januari
2000).
Dua puluh delapan persen dari 222,6 juta total
penduduk Indonesia merupakan kelompok usia muda (10-24 tahun). Di pedesaan, 31
% perempuan menikah pada usia 16 – 18 tahun, 10,4% melahirkan anak pertama pada
usia 15 – 19 tahun (SDKI, 2002 - 2003), dan 12,5% remaja mengaku pernah
melakukan hubungan seksual pra-nikah.
Melihat
permalasahan remaja. Kualitas sumber daya manusia
suatu bangsa, salah satunya ditentukan oleh anak – anak dan remaja. Remaja
merupakan aset bangsa yang sangat menentukan bagaimana kualitas bangsa di masa
mendatang baik kulitas kepribadian, kesehatan, maupun pendidikannya. Saat ini,
masalah pendidikan dan kesehatan remaja menjadi topic pembicaraan diberbagai
kalangan.
Remaja di hadapkan pada beragam persoalan kesehatan
yang memengaruhi dan membahayakan kualitas remaja putri, narkoba, IMS termasuk
HIV, aborsi dan kekerasan. Sebenarnya, permasalahan tersebut tidak akan terjadi
jika remaja dibekali informasi atau pengetahuan yang jelas dan akurat. Bidan,
sebagai salah satu tenaga kesehatan dan anggota masyarakat, bertanggung jawab
terhadap permasalahan yang dihadapi remaja. Untuk itu, peranan bidan sebagai
konselor akan sangat membantu dalam penanganan masalah remaja. Menjadi tugas
bidan untuk memberikan bimbingan dan konseling, sehingga dapat membantu
meningkatkan derajat kesehatan reproduksi remaja.
Topik konseling remaja yang dapat diberikan bidan
meliputi hal – hal berikut :
1.
Remaja dan kesehatan reproduksi remaja
2.
Seksualitas
3.
Pengenalan organ reproduksi laki – laki
dan perempuan
4.
Proses terjadinya kehamilan, kehamilan
yang tidak dikehendaki,
dan aborsi yang tidak aman.
5.
Metode – metode pencegahan kehamilan
6.
Infeksi menular seksual dan HIV/AIDS
7.
Isu gender
8.
Narkoba dan zat adiktif
9.
Kesehatan masyarakat
10.
Hubungan dengan pasagan sebelum dan
sesudah menikah
11.
Kekerasan pada remaja
2.2
Konseling
pada Calon ibu
Secara naluriah wanita punya insting/naluri keibuan,
dan sudah sewajarnya tumbuh dan berkembang pada setiap ibu, akan tetapi tidak
selamanya terjadi demikian karena perkembangan nilai keibuan dapat terganggu.
Dalam melakukan komunikasi kepada calon ibu perlu memperhatikan.
Anak gadis sebagai calon ibu, fungsi seksual telah
Nampak yaitu fungsi reproduksi dan fungsi erotis. Wanita/gadis yang telah
mengalami menstruasi menunjukkan kematangan fungsi seksualnya, ini merupakan
pengalaman psikis dan banyak gejala yang muncul. Akan tetapi ada beberapa
peristiwa yang menjijikan.
Bila tidak di ikuti informasi terapeutik pada calon
ibu dengan lebih menitikberakan kepada :
a. Memberikan
penjelasan secara fisiologis peristiwa yang disebut menstruasi.
b. Memberikan
bimbingan tenntang perawatan diri sehubungan dengan peristiwa menstruasi.
c. Memberi
bimbingan tentang persiapan perkawinan, dihubungkan dengan NKKBS/kelurga
berkualitas.
d. Persyaratan
– persyaratan kesehatan yang sangat menentukan sebagai calon ibu.
e. Memberikan
pemahaman dan upaya penyesuaian diri terhadap perubahan fisik dan emosi dan
peran yang pernah terjadi.
f. Menikah
dan membentuk keluarga baru membutuhkan konseling.
2.3
Konseling
Pada Masa Antenatal atau Konseling Pada Ibu Hamil
Konseling yang diberikan oleh bidan pada trimester pertama dan
kedua adalah pemberian informasi tentang perubahan yang terjadi pada
perkembangan janin sesuai usia kehamilan, serta perubahan yang terjadi pada ibu
sendiri dan pencegahannya. Konseling pada trimester ketiga berfokus pada
intervensi yang diberikan pada klien adalah keadaan janin dalam rahim, posisi
janin yang berkaitan dengan letak janin persiapan persalinan baik yang letak
normal ataupun yang tidak normal didahului dengan penjelasan tanda persalinan
normal dan resiko tinggi. Bidan juga memberikan informasi tentang tempat
bersalin sesuia dengan kondisi normal dan patologis. Bidan juga memberi
informasi tentang hal yang berkaitan dengan laktasi dan pemberian ASI.
Konseling pada masa antenatal pertama ditujukan pada
ibu dengan kehamilan pertama, dalam hal itu budan perlu menginformasikan
beberapa hal:
1.
Trimester
I
a.
Perubahan
fisiologis
Perrubahan fisik yang dialami pada
masa antenatal trimester pertama adalah:
1) Mual
yang dapat disertai muntah umumnya terjadi pada awal kehamilan dan reda pada
kehamilan empat bulan. Keadaan ini paling mungkin merupakan reaksi sistemik
terhadap peningkatan esterogen dan atau penurunan glukosa dalam darah.
Konseling :
a) Menganjurkan
pada ibu untuk makan 6 x sehari dalam jumlah sedikit setiap hari.
b) Menganjurkan
pada ibu untuk mmakan beberapa keping biskuit sebelum bangun tidur.
c) Menganjurkan
pada ibu menghindari makanan atau situasi yang memperburuk rasa mual.
2) Hidung
tersumbat dan epistaksis terjadi disebabkan edema masal akibat kenaikan kadar
esterogen.
Konseling :
a) Menganjurkan
pada ibu untuk banyak minum air hangat.
b) Menganjurkan
pada ibu untuk meletakkan anduk hangat dan memijit didaerah sekitar hidung.
3) Sering
berkemih yang disebabkan uterus yang bertambah besar yang menekan kandung
kemih, terlihat pada trimester pertama dan selanjutnya pada trimester ketiga.
Konseling :
a) Menganjurkan
pada ibu untuk berkemih sekurang-kurangnya setiap dua jam.
b) Menganjurkan
pada ibu untuk meningkatkan asupan cairan.
4) Nyeri
tekan pada payudara terjadi pada awal kehamilan dan berlangsung terus selama
kehamilan karena perubahan hormonal.
Konseling :
Menganjurkan pada ibu untuk
menggunakan BH yang menyokong dan tidak terlau menekan.
5) Terjadi
hiperpalisipasi, kemungkinan ini terjadi sebagai reaksi lokal terhadap pengarus
esterogen.
Konseling :
a) Menganjurkan
pada ibu untuk menggunakan pembersih mulut.
b) Menganjurkan
pada ibu untuk mengunyah permen karet atau mengisap permen yang keras.
6) Leokorea
(peningkatan keluaran vagina berwarna putih) berasal dari peningkatan aktivitas
sel-sel epitel vagina saat mempersiapkan distensi selama proses kelahiran.
Konseling :
Menganjurkan pada ibu untuk
menggunakan pakaian dalam dari katun dan tidak terlalu ketat serta mengganti
setiap kali sehabis mandi.
7) Sakit
kepala karena tekanan emosi, ketegangan mata, pembengkakan vaskuler dan
kongesti sinus akibat stimulasi hormonal.
Konseling :
a) Menganjurkan
pada ibu untuk menghindari ketegangan mata.
b) Menganjurkan
pada ibu untuk meletakkan kain lembab pada dahi.
c) Menjelaskan
pada ibu penyebab dari sakit kepala.
b.
Perubahan psikologis
Perubahan psikologis pada ibu hamil
bukan merupakan gangguan psikologis atau kejiwaan, tetapi merupakan bentuk
perubahan fisiologis pada ibu hamil. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan
fisik. Kecenderungan ibu hamil pada trimester pertama merasakan
ketidaknyamanan, perasaan ingin marah, tidak menentu yang tidak diketahui
penyebabnya.
2.
Trimester
II
a.
Perubahan
fisiologis
1) Nyeri
epigastrium yang disebabkan oleh regurgitasi isi lambung yang bersifat asam
kedalam esofagus, bisa disebabkan ketengangan dan muntah pada trimester ketiga.
Konseling:
a) Menganjurkan
pada ibu untuk makan sedikit tapi sering.
b) Menganjurkan
pada ibu untuk menghindari makanan secara berlebihan dan makanan yang pedas,
berlemak, dan gorengan.
2) Edema
mata kaki karena penurunan curah balik pada ekstermitas bagian bawah.
Konseling :
a) Menganjurkan
pada ibu untuk meninggikan kaki saat istirahat dan jaringan berdiri terlalu
lama.
b) Menganjurkan
pada ibu untuk menghindari pakaian yang ketat pada setengah bagian badan.
3) Varices
vena karena sirkulasi yang buruk dan melemahnya dinding pembuluh darah.
Konseling :
a) Menganjurkan
pada ibu untuk berjalan kaki dipagi hari secara teratur
b) Menganjurkan
pada ibu untuk tidak melipat kaki pada saat duduk.
c) Menganjurkan
pada ibu untuk menghindari pemakaian stoking dilutut tapi gunakan stoking
penyokong.
4) Hemoroid
bisa terjadi karena tekanan uterus kehamilan pada spina yang mengganggu
sirkulasi vena,
Konseling :
a) Menganjurkan
pada ibu untuk banyak mengonsumsi sayur dan buah agar tidak terjadi konstipasi,
b) Menganjurkan
ibu untuk tidak mengedan yang berlebihan saat BAB.
5) Konstipasi
disebabkan oleh penurunan peristaltik usus dan pergeseran usus karena uterus
hamil, tidak memadainya asupan cairan atau penggunaan suplemen besi.
Konseling :
a) Menganjurkan
pada ibu untk mengkonsumsi sayur dan buah agar tidak terjadi konstipasi.
b) Menganjurkan
pada ibu tidak mengedan yang berlebihan saat BAB.
6) Nyeri
punggung akibat perubahan postur tubuh yang berhubungan dengan peningkatan
lekuk vertebra lumbasakral pembesaran uterus.
Konseling :
a) Menganjurkan
pada ibu untuk tidak mengangkat beban yang berat.
b) Menganjurkan
pada ibu untuk tidak menggunakan sepatu hak yang tinggi.
7) Keram
kaki bisa disebabkan spasme otot grastoknemios, kemungkinan karena kalsium yang
kurang memadai.
Konseling :
Mengajarkan pada
ibu senam hamil.
8) Berkunan-kunang
karena perubahan hipertensi portural.
Konseling :
Menganjurkan pada ibu untuk
berbaring kearah kiri pada saat istitahat.
9) Nafas
pendek terjadi karena tekanan yang dikeluarkan pada diafragma uterus yang
membesar.
Konseling :
a) Menganjurkan
pada ibu untuk mengatur posisi badan agar tidak susah bernafas.
b) Menganjurkan
pada ibu untuk mneggunakan bantal di bawah kepala dan bahu.
10) Uterus
yang membesar mengakibatkan sulit tisur.
Konseling :
a) Menganjurkan
pada ibu untuk minum minuman yang hangat dan bebas kafein.
b) Mengajarkan
teknik relaksasi pada ibu.
11) Nyeri
ligamentum uterus uteri akibat perengangan dan hipertropi ligamen ini
seharusnya tidak keliru dengan nyeri persalinan.
Konseling :
a) Menganjurkan
pada ibu untuk menghindari gerakan memuntir, berdiri dengan perlahan dan
gunakan tangan untuk menyokong abdomen.
b) Menganjurkan
pada ibu untuk membungkuk kedepan untuk membebaskan diri dari rasa tidak
nyaman.
b.
Perubahan
psikologis
Ibu sudah
menenrima kehamilannya dan dapat mulai menggunakan energi dan pikirannya secara
lebih konstruktif. Pada trimester ini pula ibu dapat merasakan gerakan bayinya.
Banyak ibu merasa terlepas dari kecemasan dan rasa tidak nyaman seperti yang
dirasakannya pada trimester pertama. Pada trimester keduarelatif lebih bebas
dari ketidaknyamanan fisik, ukuran perut belum menjadi suatu masalah, lubrikasi
vagina lebih banyak dan hal yang menyebabkan kebingungan sudah surut, dia telah
berganti dari mencari perhatian ibunya menjadi mencari perhatian pasangannya,
semua faktor ini berperan pada meningkatnya libido dan kepuasan seks.
3.
Trimester
III
a. Perubahan fisiologis
1) Sakit punggung
Sakit pada punggung, karena meningkatnya berat badan bayi
dalam kandungan.
Konseling :
a) Menganjurkan
pada ibu untuk memakai
sepatu tumit rendah.
b) Menganjurkan
pada ibu untuk menghindari
mengangkat benda yang berat.
c) Menganjurkan
pada ibu untuk Berdiri
dan berjalan dengan punggung dan bahu yang tegak.
d) Menganjurkan
pada ibu untuk minta
pertolongan, untuk melakukan pekerjaan rumah sehingga tak perlu membungkuk
terlalu sering.
e) Menganjurkan
pada ibu untuk memakai
kasur yang nyaman.
2) Konstipasi
Karena tekanan rahim yang membesar kedaerah usus selain
peningkatan hormon progesterone
Konseling :
a) Menganjurkan
pada ibu untuk makan
makanan berserat buahan dan sayuran serta minum air yang banyak
b) Menganjurkan
pada ibu untuk Olahraga.
3)
Masalah tidur
Gerakan janin terutama di malam hari akan membuat sulit
untuk dapat tidur nyenyak.
Konseling :
Menganjurkan pada ibu untuk Posisi posisi tidur yang nyaman .
b. Perubahan
psikologis
Kebanyakan ibu juga akan bersikap melindungi
bayinya dan akan menghindari orang atau benda apa saja yang dianggapnya
membahayakan bayinya. Seorang ibu mungkin mulai merasa takut akan rasa sakit
dan bahaya fisik yang akan timbul pada waktu melahirkan dan merasa khawatir
akan keselamatannya. Rasa tidak nyaman akibat kehamilan timbl kembali pada trimester
ketiga dan banyak ibu yang merasa dirinya aneh dan jelek, sehingga memerlukan
perhatian lebih besar dari pasangannya, disamping itu ibu mulai merasa sedih
karena akan terpisah dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang diterima
selama hamil, terdapat perasaan mudah terluka (sensitif). Hasrat seksual tidak
setinggi pada trimester kedua karena abdomen merupakan sebuah pengahalang.
Posisi alternatif untuk hubungan seksual dan metode alternatif yang memberikan
kepuasan seksual mungkin membantu atau malah menimbulkan perasaan bersalah jika
ada ketidaknyamanan dalam berhubungan seksual. Bersikap terbuka dengan pasangan
atau konsultasi dengnag bidan atau tenaga kesehatan lain adalah hal yang
penting.
Peran bidan
dalam membantu ibu menghadapi perubahan psikologi pada masa kehamilan:
a) Menjelaskan
bahwa apa yang dirasakan ibu adalah sesuatu yang normal.
b) Mengungkapkan
bahwa setiap pengalaman kehamilan adalah unik.
c) Menjelaskan
tentang kebutuhan nutrisi, pertumbuhan bayi, tanda-tanda kelahiran, tanda-tanda
bahaya kehamilan.
d) Mendiskusikan
tentang ketidaknyamanan yang dialami oleh ibu dan cara mengatasinya.
e) Mendiskusikan
tentang rencana persalinan.
2.4
Konseling
Pada
Ibu
Melahirkan
a. Perubahan psikologis
1) Fase Laten: Pada
fase ini ibu biasanya merasa lega dan bahagia karena masa kehamilannya akan
segera berakhir. Namun, pada awal persalinan wanita basanya gelisah, gugup, cemas dan khawatir sehubungan
dengan rasa tidak nyaman karena kontraksi. Biasanya dia ingin berbicara, perlu
ditemani, tidak
tidur, ingin berjalan-jalan dan
menciptakan kontak mata. Pada wanita yang dapat menyadari bahwa proses ini
wajar dan alami akan mudah beradaptasi dengan keadaan tersebut.
2) Fase Aktif: Saat
kemajuan persalinan sampai pada fase kecepatan maksimum rasa khawatir wanita
menjadi meningkat. Kontraksi menjadi semakin kuat dan frekuensinya lebih sering
sehingga wanita tidak dapat mengontrolnya. Dalam keadaan ini wanita akan
menjadi lebih serius. Wanita tersebut menginginkan seseorang untuk
mendampinginya karena dia merasa takut tidak mampu beradaptasi dengan
kontraksinya.
Kegiatan konseling pada ibu melahirkan merupakan
pemberian bantuan pada ibu yang akan melahirkan dengan konseling mengatasi
ketidaknyamanan berkaitan dengan perubahan fisiologis dan psikologis selama
persalinan, dan
kegiatan bimbingan proses melahirkan. Tujuan aktifitas ini untuk kesejahteraan
ibu dan proses kelahirannya dapat berjalan dengan semestinya.
Langakah
dalam konseling kebidanan pada ibu melahirkan:
1.
Menjalin hubungan yang mengenakkan
(rapport) dengan klien
Bidan menerima klien apa adanya dan
memberikan dorongan verbal yang positif.
2.
Kehadiran
Merupakan bemtuk tindakan aktif
keterampilan yang meliputi mengatasi semua kekacauan/kebingungan, memberikan perhatian total pada
klien. Bidan dalam memberikan pendampingan klien yang bersalin difokuskan
secara fisik dan psikologis.
3.
Mendengarkan
Bidan selalu mendengarkan dan
memperhatikan keluarga klien.
4.
Sentuhan dalam pendampingan klien yang
bersalin.
Sentuhan bidan
terhadap klien akan memberikan rasa nyaman dan dapat membantu relaksasi
Misalnya : Ketika kontraksi pasien merasakan
kesakitan, bidan
memberikan sentuhan pada daerah pinggang klien. Sehingga pasien akan merasakan
nyaman.
5.
Memberikan informasi tentang kemajuan
persalinan
Merupakan upaya
untuk memberikan rasa percaya diri pada klien, bahwa
klien dapat menyelesaikan persalinannya.
6.
Memandu persalinan dengan memandu
Misalnya : Bidan menganjurkan kepada klien
untuk meneran pada saat his berlangsung
7.
Mengadakan kontak fisk dengan klien
Misalnya : mengelap keringat, mengipasi, memeluh
pasien, menggosok punggung klien
8.
Memberikan pujian kepada klien atas
usaha yang telah dilakukannya
Misalnya : Bidan mengatakan: “Bagus ibu, pintar sekali menerannya”.
9.
Memberikan ucapan selamat kepada klien
atas kelahiran putranya dan mengatakan ikut bahagia
2.5
Konseling
pada ibu nifas
Masa
nifas adalah masa setelah melahirkan. Pada masa nifas, ibu biasanya merasa
lelah, pendampingan harus tetap diberikan oleh bidan karena 12 jam pertama masa
nifas dapat terjadi perdarahan yang dapat menyebabkan kematian ibu. Setelah
melakukan pemeriksaan, lakukan komunikasi interpersonal dan konseling dengan
ibu tentang informasi yang berkaitan dengan masa nifas. Ciptakan suasana yang
nyaman dan bina hubungan baik dengan ibu agar ibu merasa nyaman. Konseling yang
dapat dilakukan pada ibu nifas diantaranya sebagai berikut.
·
Konseling untuk Ibu :
1.
Proses
masa nifas
2.
Keluhan
umum 1 – 72 jam masa nifas
3.
Tanda
– tanda kegawatan masa nifas pada ibu
a)
Perdarahan
karena sisa plasenta belum lahir
b)
Perdarahan
karena kontraksi uterus lemah (atonia)
c)
Demam,
cairan darah berbau dari jalan lahir
d)
Tanda
komplikasi masa nifas
e)
Kebersihan
ibu
f)
Kolostrum
dan pemberian ASI
g)
Teknik
menyusui
h)
Kebutuhan
nutrisi ibu pada masa nifas
i)
Aktivitas
ibu pada masa nifas
j)
Hubungan
senggama masa nifas dan program KB
k)
Perubahan
emosi ibu
l)
Perencanaan
kunjungan rumah
·
Konseling untuk Bayi
1.
Tanda
– tanda kegawatan masa nifas pada bayi (depresi bayi)
2.
Kebersihan
bayi
3.
Perawatan
tali pusat
4.
Imunisasi
5.
Status
kesehatan bayi
6.
Penilaian
pertumbuhan dan perkembangan bayi
2.6
Konseling
pada Ibu Meneteki
a.
Perubahan
fisiologis
Kelenjar susu mulai bekerja yang dipengaruhi hormone
– hormone maka mulailah masa menyusui.
b.
Perubah
psikologis
Ibu merasa terpisah dengan bayinya. Gejolak emosi
yang muncul : ibu cemas dengan keselamatan bayinya, cemas tidak dapat memberi
ASI dan perawatan cukup, tetapi ada juga yang sebaliknya benci kepada anaknya.
Kondisi yang mencemaskan dimana ibu takut menyusui
bayinya, takut payudara jadi jelek, masalah lain karena ASI tidak keluar, takut
bayi kurang makan/ASI.
c.
Pelaksanaan
Komunikasi
Komunikasi ditekankan kepada peranan ibu untuk
memberikan air susunya kepada bayi sebagai wujud pertalian kasih saying.
2.7
Konseling
Menopause dan Klimakterium
a.
Perubahan
fisiologis
Kadang – kadang muncul gangguan yang menyertai
akibat menurunnya hormone estrogen dan progresteron, seperti haid tidak
teratur, keringat dingin, rasa panas di wajah (hot flash), jantung berdebar –
debar, sakit saat berhubungan seks (dispareuni) dll.
b.
Perubahan
Psikologis
Ibu merasa cemas, takut akan masalah –
masalah/keluhan – keluhan yang terjadi.
c.
Pelaksanaan
Komunikasi :
a. Menjelaskan
bahwa menopause adalah salah satu siklus kehidupan wanita.
b. Deteksi
dini terhadap kelainan yang berhubungan dengan gangguan reproduksi pada usia
subur maupun klimakterium.
c. Memberikan
informasi tempat – tempat pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan cek
kesehatan khususnya kesehatan reproduksi.
d. Membantu
klien dalam mengambil keputusan
e. Komunikasi
pada menopause harus memperhatikan sifat – sifat dari menopause itu sendiri
agar pesan yang di sampaikan dapat dicerna dengan baik.
f. Karena
fungsi dari organ tubuhnya mulai berkurang maka komunikasi bias menggunakan
alat bantu untuk mempermudah dalam memahami pesan yang disampaikan.
g. Komunikasi
bisa
menggunakan beberapa pendekatan di antaranya :
1) Pendekatan
biologis : yaitu menitik beratkan pada perubahan – perubahan bilogis yang
terjadi pada menopause sepert anatomi fisiologi serta kondisi patologi yang
bersifat mutipel dan kelainan fungsional pada menopause.
2) Pendekatan
psikologis : yaitu menitik beratkan pada pemeliharaan dan pengembangan fungsi –
fungi kognitif, afektif, kontaif dan kepribadian secara optimal.
3) Pendekatan
social budaya yaitu : menitik beratkan pada masalah social budaya yang
mempengaruhi menopause.
2.8
Konseling
pada Lanjut Usia (Lansia)
Individu
usia lanjut umumnya memiliki sikap yang lemah, baik lemah terhadap kondisi
fisik maupun lemah menyesuaikan dengan lingkungannya. Yang perlu digaris bawahi
disini adalah bahwa meraih usia panjang tidak hanya persoalan untuk menjaga
fisik pada lansia, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mental seseorang
dalam menyikapi rentang hidupnya. Seperti halnya usia lanjut disini mereka
harus mampu menyikapi rentang hidupnya dengan berusaha memahami keadaan yang
ada pada dirinya.
Konseling
yang dilakukan pada lansia bergantung pada tipe psikologis lansia yang akan
dibagi menjadi lima tipe, antara lain
1. Tipe kepribadian konstrukstif (construction personality), tipe ini tidak perlu
konseling tetapi konselor dibutuhkan sebagai pendamping bagi yang membutuhkan,
namun jika beliau masih memiliki anak dan pasangan hidup berarti ia sudah cukup
memiliki pendamping sebaiknya jangan dipaksakan,
2. Tipe kepribadian tergantung (dependent personality), disini konselor dapat
membangkitkan keinginan konseli untuk berbuat sesuatu bagi orang lain atau
mungkin memberikan penyuluhan tentang makanan yang sehat bagi lansia, sebab
konseling disini berguna agar lansia memahami bahwa kemampuan dan pengalamannya
masih bermanfaat bagi orang lain,
3. Ttipe kepribadian mandiri (independent personality), konselor bekerja dengan
labih banyak mendengarkan sebelum perlahan mengubah persepsi lansia yang tidak
suka menjadi tua dan pensiun, sehingga ia bisa menerima hal tersebut,
4. Tipe kepribadian bermusuhan (hosility personality), tipe ini paling sulit didekati,
mungkin konselor hanya berguna sebagai pendamping seperti pada tipe
konstruktif,
5. Tipe kepribadian kritik diri (self hate personality), konseling disini berguna untuk
memberikan support bagi lansia, yang mana
konseling bertujuan untuk menghilangkan persepsi yang negatif tentang diri
konseling.
Mencoba
memberikan pelayanan yang tepat untuk lansia adalah salah satu cara untuk
membantu lansia agar dapat menerima keadaannya yang sesungguhnya ia jalani,
dengan begitu jika lansia dapat memahami dirinya maka ia akan berusaha untuk
dapat menyesuaikan diri dengan kondisi fisik, sosial-psikologisnya dengan
tepat. Dengan memperlakukan lansia sesuai keinginannya hal ini tidak menutup
kemungkinan bahwa lansia perlahan-lahan akan lebih dapat menerima diri.
Keadaan
yang ada pada lansia cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara
umum maupun kesehatan secara khusus, baik kesehatan fisik maupun kesehatan
jiwa. Oleh karena itu diperlukan penyuluhan kepada lansia agar dapat menerima
keadaan dengan mencari sisi positif dari kemampuan dan pengalaman yang ada pada
konseli (lansia), agar ia berpikir bahwa ia masih berguna dan dibutuhkan orang
lain.
2.9
Konseling
keluarga Berencana (KB)
Salah satu aspek penting dalam meningkatkan
keberhasilan program KB dan kesehatan reproduksi perempuan adalah dengan
melakukan konseling. Dengan konseling, bidan dapat membantu klien untuk memilih
dan memtuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan. Jika menggunakan teknik
konseling yang baik dan memberikan informasi yang tepat, maka klien akan lebih
yakin dan merasa lebih puas dalam menentukan jenis kontrasepsi yang akan
digunakan.
Untuk mencapai tujuan konseling dalam pelayanan KB,
bidan sebagai konselor harus mempunyai sikap sebagai berikut.
1.
Memperlakukan klien dengan baik. Sikap
yang dibutuhkan bidan untuk dapat memperlakukan klien dengan baik diantaranya
sabar, menghargai setiap klien, membina rasa saling percaya (trust), terbuka
dan tidak menganggap remeh klien.
2.
Interaksi dengan klien. Pada saat
melakukan interaksi dengan klien, bidan sebagai konselor harus mendengarkan apa
yang disampaikan klien. Gunakan teknik mendengar efektif dan bersikap empati.
Misalnya, ibu dengan usia dan jumlah anak yang cukup atau mungkin lebih, datang
ke bidan menghendaki informasi mengenai metode kontrasepsi yang akan digunakan,
bidan tidak boleh secara langsung melakukan penilaian (judgement) terhadap ibu
karena selama ini tidak menggunakan kontrasepsi apapun, bidan sebagai konselor
harus memberikan informasi mengenai metode operasi (tubektomi dan vasektomi).
3.
Menghindari pemberian informasi yang
berlebihan. Penjelasan diperlukan klien untuk menentukan pilihan (informed
choice). Penjelasan dengan menggunakan bahasa yang dimengerti klien dan
memfokuskan (focusing) akan lebih bermanfaat daripada menjelaskan semua jenis
kontrasepsi. Pemberian informasi yang terlalu banyak akan menyebabkan
ketidakmengertian dan kesulitan klien untuk mengingat informasi, sehingga klien
sulit untuk menentukan pilihan. Bidan, sebagai konselor, harus mempersilahkan
klien untuk berdiskusi, bertanya, dan mengajukan pendapat.
4.
Menyediakan metode yang diinginkan
klien. Dalam proses konseling KB, bidan harus mengkaji apakah klien sudah
mengerti mengenai jenis kontrasepsi, cara penggunaan, serta keuntungan dan
kerugiannya. Proses konseling dimulai dengan memperkenalkan klien pada berbagai
jenis kontarsepsi yang tersedia atau yang ada dalam proram KB. Bidan mendukung
klien untuk berpikir dan memberi kesempatan kepada klien untuk melihat
persamaan dan membandingkan berbagai jenis kontrasepsi yang ada agar klien
lebih mudah mengambil keputusan.
5.
Membantu klien mengerti dan mengingat.
Penggunaan alat peraga (contoh model) berbagai jenis kontrasepsi akan sangat
membantu klien untuk mengerti tentang berbagi jenis alat kontrasepsi. Bidan
dapet menggunakan lembar balik (flip charts), poster, pamflet, halaman bergambar, model dari Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), ataupun menciptakan sendiri
model untuk melakukan proses konseling tentang KB. Alat peraga boleh dibawa
pulang oleh klien dengan harapan klien dapat membaca dan mempelajarinya
dirumah.
v Langkah-langkah konseling KB (SATU TUJU)
Dalam memberikan konseling
khususnya bagi calon klien baru, hendaknya dapat diterapkan enam langkah yang
dikenal dengan kata kunci SATU TUJU. Penerapan SATU TUJU tidak perl dilakukan
secara beurutan karena petugas harus meyesuaikan diri dengan kebutuhan klien.
Beberapa klien membutuhkan lebih banyak perhatian pada langkah yang satu
dibandingkan dengan langkah yang lainnya.
Kata kunci SATU TUJU adalah :
SA : berikan Salam kepada klien secara terbuka dan
sopan.
T : Tanyakan kepada klien informasi tentang
dirinya.
U :
Uraikan kepada klien mengenai
pilihannya dan beritahu
apa pilihan reproduksi
yang paling mungkin, termasuk
pilihan
beberapa jenis kontrasepsi.
TU : bantulah klien menentukan pilihannya.
J : Jelaskan secara lengkap bagaimana
menggnakan
kontrasepsi
pilihannya.
U : perlunya
dilakukan kunjungan ulang.
Gallen dan Leitenmaier (1987)
memberikan satu akronim yang dapat dijadikan panduan bagi petugas klinik KB
untuk melakukan konseling. Akronim tersebut adalah GATHER yang merupakan
singkatan dari :
G
– Greet
Memberikan salam, memperkenalkan diri dan membuka
komunikasi.
A
– Ask atau Assess
Menanyakan keluhan atau keluhan atau kebutuhan
pasien dan menilai apakah keluhan/keinginan yang disampaikan memang sesuai
dengan kondisi yang dihadapi.
T
– Tell
Beritahu bahwa persoalan pokok yang dihadapi oleh
pasien adalah seperti yang tercermin dari hasil tukar informasi dan harus
dicarikan upaya penyelesaian masalah tersebut.
H
– Help
Bantu pasien untuk memahami masalah utamanya dan
masalah itu yang harus diselesaikan. Jelaskan beberapa cara yang dapat
menyelesaikan masalah tersebut, termasuk keuntungan dan keterbatasan dari
masing-masing cara tersebut.
E
– Explain
Jelaskan bahwa cara yang terpilih telah
diberikan/dianjurkan dan hasil yang diharapkan mungkin bisa segera terlihat
atau diobservasi beberapa saat hingga menampakkan hasil seperti yang
diharapkan.
R
– Refer atau Return visit
Rujuk atau fasilitas ini tidak dapat memberikan
pelayanan yang sesuai atau atau buat jadwal kunjungan ulang apabila pelayanan
terpilih telah memberikan perhatian
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Konseling
kebidanan adalah suatu proses pembelajaran, pembinaan hubungan baik, pemberian
bantuan, dan bentuk kerja sama yang dilakukan secara professional(sesuai dengan
bidangnya) oleh bidan kepada klien untuk memecahkan masalah, mengatasi hambatan
perkembangan, dan memenuhi kebutuhan klien.
Tujuan
konseling diarahkan sebagai layanan yang membantu masalah yang dihadapi
klien.Oleh karna itu, bidan sebagai konselor harus berusaha mengambangkan
potensi yang ada agar dapat digunakan klien secara efektif
3.2
Saran
a. Agar mahasiswa dapat menggali ilmu
lebih dalam lagi dalam memahami teori sehingga dapat diterapkan di lahan
praktek.
b. Supaya mahasiswa lebih disiplin
serta mengefisienkan waktu dalam menjalankan tugasnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ade
Rahmatillah. 2012. Diaskes dari
Tyastuti,
Siti, dkk. 2008. Komunikasi & Konseling
Dalam Pelayanan Kebidanan.
Yogyakarta: Fitramaya
Wulandari,
Diah. 2009. Komunikasi & Konseling Dalam Praktik Kebidanan.
Yogyakarta: Nuha Medika
Yunita,
Rita, dkk. 2009. Komunikasi Konseling Dalam Kebidanan. Jakarta:
Salemba Medika
BalasHapusSex Story
best Sex Story
Sex and Love Story
Sex Story
Nude Lady's Hot Photo, Nude Boobs And Open Pussy
Sexy Actress, Model (Bollywood, Hollywood)