Senin, 27 Oktober 2014

Bentuk Layanan Konseling Dalam Praktik Kebidanan


Komunikasi dan Konseling Kebidanan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial yang hidup dan menjalankan seluruh kehidupannya sebagai individu dalam kelompok sosial, komunitas, organisasi, maupun masyarakat yang dalam kehidupan sehari – hari tidak lepas dari kegiatan interaksi, membangun relasi, dan transaksi sosial dengan orang lain. Manusia tidak dapat menghindari komunikasi antar personal, komunikasi  dalam kelompok, komunikasi dalam organisasi dan publik, komunikasi massa.
Oleh karena itu, komunikasi sangat diperlukan dalam asuhan kebidanan guna memberikan pelayanan kebidanan yang bermutu.  Sehingga dapat menimbulkan interaksi antarpribadi yaitu antara bidan dengan klien juga keluarga klien untuk penyampaian informasi yang diperlukan dengan jelas. Dan pada akhirnya, kegiatan komunikasi selalu mendasari suatu kegiatan termasuk pelayanan kebidanan. Selain dengan komunikasi, bidan dituntut untuk mengetahui pengaruh berbagai fase kehidupan ini pada cara seseorang memandang masalah dan kesulitannya. Sehingga bidan harus memahami macam – macam klien dalam asuhannya.
1.2  Tujuan
1.      Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada remaja.
2.      Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada calon ibu.
3.      Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada ibu hamil.
4.      Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada ibu bersalin.
5.      Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada ibu nifas.
6.      Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada ibu meneteki.
7.      Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada menopause.
8.      Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada lansia.
9.      Untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan pada akseptor KB.


1.3  Tujuan
1.        Bagaimana komunikasi kebidanan yang diakukan pada remaja?
2.        Bagaimana komunikasi kebidanan yang diakukan pada calon ibu?
3.        Bagaimana komunikasi kebidanan yang diakukan pada ibu hamil?
4.        Bagaimana komunikasi kebidanan yang diakukan pada ibu bersalin?
5.        Bagaimana komunikasi kebidanan yang diakukan pada ibu nifas?
6.        Bagaimana komunikasi kebidanan yang diakukan pada ibu meneteki?
7.        Bagaimana komunikasi kebidanan yang diakukan pada menopause?
8.        Bagaimana komunikasi kebidanan yang diakukan pada lansia?
9.        Bagaimana komunikasi kebidanan yang diakukan pada akeptor KB?





BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Konseling remaja dan kesehatan reproduksi remaja
Merujuk pada Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Remaja adalah mereka yang berusia 10 sampai 18 tahun. Sedangkan, menurut World Health Organization (WHO), yang di maksud remaja adalah laki – laki dan perempuan berusia 18 sampai 24 tahun.
Istilah reproduksi mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidupnya. Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi remaja. Saat ini, sebagian besar remaja sudah aktif secara seksual, aktivitas seksual yang tidak sehat dapat menyebabkan remaja terpapar berbagai masalah kesehatan reproduksi. Setiap tahun sekitar 15 juta usia 15 – 19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi dan hamper 100 juta tertular infeksi menular seksual (IMS). Empat puluh persen dari kasus HIV terjadi pada remaja usia 15-24 tahun dan setiap hatinya 7.000 remaja terinfeksi HIV.
Masalah tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor di antaranya menikah dan melakukan hubungan seksual pada usia dini, akses pendidikan dan pekerjaan, ketidaksetaraan gender, kekerasan seksual, dan pengaruh media masa (Outlok, Volume 16, Januari 2000).
Dua puluh delapan persen dari 222,6 juta total penduduk Indonesia merupakan kelompok usia muda (10-24 tahun). Di pedesaan, 31 % perempuan menikah pada usia 16 – 18 tahun, 10,4% melahirkan anak pertama pada usia 15 – 19 tahun (SDKI, 2002 - 2003), dan 12,5% remaja mengaku pernah melakukan hubungan seksual pra-nikah.

Melihat permalasahan remaja. Kualitas sumber daya manusia suatu bangsa, salah satunya ditentukan oleh anak – anak dan remaja. Remaja merupakan aset bangsa yang sangat menentukan bagaimana kualitas bangsa di masa mendatang baik kulitas kepribadian, kesehatan, maupun pendidikannya. Saat ini, masalah pendidikan dan kesehatan remaja menjadi topic pembicaraan diberbagai kalangan.
Remaja di hadapkan pada beragam persoalan kesehatan yang memengaruhi dan membahayakan kualitas remaja putri, narkoba, IMS termasuk HIV, aborsi dan kekerasan. Sebenarnya, permasalahan tersebut tidak akan terjadi jika remaja dibekali informasi atau pengetahuan yang jelas dan akurat. Bidan, sebagai salah satu tenaga kesehatan dan anggota masyarakat, bertanggung jawab terhadap permasalahan yang dihadapi remaja. Untuk itu, peranan bidan sebagai konselor akan sangat membantu dalam penanganan masalah remaja. Menjadi tugas bidan untuk memberikan bimbingan dan konseling, sehingga dapat membantu meningkatkan derajat kesehatan reproduksi remaja.
Topik konseling remaja yang dapat diberikan bidan meliputi hal – hal berikut :
1.        Remaja dan kesehatan reproduksi remaja
2.        Seksualitas
3.        Pengenalan organ reproduksi laki – laki dan perempuan
4.        Proses terjadinya kehamilan, kehamilan yang tidak dikehendaki,
dan aborsi yang tidak aman.
5.        Metode – metode pencegahan kehamilan
6.        Infeksi menular seksual dan HIV/AIDS
7.        Isu gender
8.        Narkoba dan zat adiktif
9.        Kesehatan masyarakat
10.    Hubungan dengan pasagan sebelum dan sesudah menikah
11.    Kekerasan pada remaja


2.2          Konseling pada Calon ibu
Secara naluriah wanita punya insting/naluri keibuan, dan sudah sewajarnya tumbuh dan berkembang pada setiap ibu, akan tetapi tidak selamanya terjadi demikian karena perkembangan nilai keibuan dapat terganggu. Dalam melakukan komunikasi kepada calon ibu perlu memperhatikan.
Anak gadis sebagai calon ibu, fungsi seksual telah Nampak yaitu fungsi reproduksi dan fungsi erotis. Wanita/gadis yang telah mengalami menstruasi menunjukkan kematangan fungsi seksualnya, ini merupakan pengalaman psikis dan banyak gejala yang muncul. Akan tetapi ada beberapa peristiwa yang menjijikan.
Bila tidak di ikuti informasi terapeutik pada calon ibu dengan lebih menitikberakan kepada :
a.       Memberikan penjelasan secara fisiologis peristiwa yang disebut menstruasi.
b.      Memberikan bimbingan tenntang perawatan diri sehubungan dengan peristiwa menstruasi.
c.       Memberi bimbingan tentang persiapan perkawinan, dihubungkan dengan NKKBS/kelurga berkualitas.
d.      Persyaratan – persyaratan kesehatan yang sangat menentukan sebagai calon ibu.
e.       Memberikan pemahaman dan upaya penyesuaian diri terhadap perubahan fisik dan emosi dan peran yang pernah terjadi.
f.       Menikah dan membentuk keluarga baru membutuhkan konseling.

2.3          Konseling Pada Masa Antenatal atau Konseling Pada Ibu Hamil
Konseling yang diberikan oleh bidan pada trimester pertama dan kedua adalah pemberian informasi tentang perubahan yang terjadi pada perkembangan janin sesuai usia kehamilan, serta perubahan yang terjadi pada ibu sendiri dan pencegahannya. Konseling pada trimester ketiga berfokus pada intervensi yang diberikan pada klien adalah keadaan janin dalam rahim, posisi janin yang berkaitan dengan letak janin persiapan persalinan baik yang letak normal ataupun yang tidak normal didahului dengan penjelasan tanda persalinan normal dan resiko tinggi. Bidan juga memberikan informasi tentang tempat bersalin sesuia dengan kondisi normal dan patologis. Bidan juga memberi informasi tentang hal yang berkaitan dengan laktasi dan pemberian ASI.
Konseling pada masa antenatal pertama ditujukan pada ibu dengan kehamilan pertama, dalam hal itu budan perlu menginformasikan beberapa hal:
1.      Trimester I
a.      Perubahan fisiologis
Perrubahan fisik yang dialami pada masa antenatal trimester pertama adalah:
1)      Mual yang dapat disertai muntah umumnya terjadi pada awal kehamilan dan reda pada kehamilan empat bulan. Keadaan ini paling mungkin merupakan reaksi sistemik terhadap peningkatan esterogen dan atau penurunan glukosa dalam darah.
Konseling :
a)      Menganjurkan pada ibu untuk makan 6 x sehari dalam jumlah sedikit setiap hari.
b)      Menganjurkan pada ibu untuk mmakan beberapa keping biskuit sebelum bangun tidur.
c)      Menganjurkan pada ibu menghindari makanan atau situasi yang memperburuk rasa mual.
2)      Hidung tersumbat dan epistaksis terjadi disebabkan edema masal akibat kenaikan kadar esterogen.
Konseling :
a)      Menganjurkan pada ibu untuk banyak minum air hangat.
b)      Menganjurkan pada ibu untuk meletakkan anduk hangat dan memijit didaerah sekitar hidung.
3)      Sering berkemih yang disebabkan uterus yang bertambah besar yang menekan kandung kemih, terlihat pada trimester pertama dan selanjutnya pada trimester ketiga.
Konseling :
a)      Menganjurkan pada ibu untuk berkemih sekurang-kurangnya setiap dua jam.
b)      Menganjurkan pada ibu untuk meningkatkan asupan cairan.
4)      Nyeri tekan pada payudara terjadi pada awal kehamilan dan berlangsung terus selama kehamilan karena perubahan hormonal.
Konseling :
Menganjurkan pada ibu untuk menggunakan BH yang menyokong dan tidak terlau menekan.
5)      Terjadi hiperpalisipasi, kemungkinan ini terjadi sebagai reaksi lokal terhadap pengarus esterogen.
Konseling :
a)      Menganjurkan pada ibu untuk menggunakan pembersih mulut.
b)      Menganjurkan pada ibu untuk mengunyah permen karet atau mengisap permen yang keras.
6)      Leokorea (peningkatan keluaran vagina berwarna putih) berasal dari peningkatan aktivitas sel-sel epitel vagina saat mempersiapkan distensi selama proses kelahiran.
Konseling :
Menganjurkan pada ibu untuk menggunakan pakaian dalam dari katun dan tidak terlalu ketat serta mengganti setiap kali sehabis mandi.
7)      Sakit kepala karena tekanan emosi, ketegangan mata, pembengkakan vaskuler dan kongesti sinus akibat stimulasi hormonal.
Konseling :
a)      Menganjurkan pada ibu untuk menghindari ketegangan mata.
b)      Menganjurkan pada ibu untuk meletakkan kain lembab pada dahi.
c)      Menjelaskan pada ibu penyebab dari sakit kepala.

b.      Perubahan psikologis
Perubahan psikologis pada ibu hamil bukan merupakan gangguan psikologis atau kejiwaan, tetapi merupakan bentuk perubahan fisiologis pada ibu hamil. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan fisik. Kecenderungan ibu hamil pada trimester pertama merasakan ketidaknyamanan, perasaan ingin marah, tidak menentu yang tidak diketahui penyebabnya.

2.      Trimester II
a.      Perubahan fisiologis
1)      Nyeri epigastrium yang disebabkan oleh regurgitasi isi lambung yang bersifat asam kedalam esofagus, bisa disebabkan ketengangan dan muntah pada trimester ketiga.
Konseling:
a)      Menganjurkan pada ibu untuk makan sedikit tapi sering.
b)      Menganjurkan pada ibu untuk menghindari makanan secara berlebihan dan makanan yang pedas, berlemak, dan gorengan.
2)      Edema mata kaki karena penurunan curah balik pada ekstermitas bagian bawah.
Konseling :
a)      Menganjurkan pada ibu untuk meninggikan kaki saat istirahat dan jaringan berdiri terlalu lama.
b)      Menganjurkan pada ibu untuk menghindari pakaian yang ketat pada setengah bagian badan.
3)      Varices vena karena sirkulasi yang buruk dan melemahnya dinding pembuluh darah.
Konseling :
a)      Menganjurkan pada ibu untuk berjalan kaki dipagi hari secara teratur
b)      Menganjurkan pada ibu untuk tidak melipat kaki pada saat duduk.
c)      Menganjurkan pada ibu untuk menghindari pemakaian stoking dilutut tapi gunakan stoking penyokong.
4)      Hemoroid bisa terjadi karena tekanan uterus kehamilan pada spina yang mengganggu sirkulasi vena,
Konseling :
a)      Menganjurkan pada ibu untuk banyak mengonsumsi sayur dan buah agar tidak terjadi konstipasi,
b)      Menganjurkan ibu untuk tidak mengedan yang berlebihan saat BAB.
5)      Konstipasi disebabkan oleh penurunan peristaltik usus dan pergeseran usus karena uterus hamil, tidak memadainya asupan cairan atau penggunaan suplemen besi.
Konseling :
a)      Menganjurkan pada ibu untk mengkonsumsi sayur dan buah agar tidak terjadi konstipasi.
b)      Menganjurkan pada ibu tidak mengedan yang berlebihan saat BAB.
6)      Nyeri punggung akibat perubahan postur tubuh yang berhubungan dengan peningkatan lekuk vertebra lumbasakral pembesaran uterus.
Konseling :
a)      Menganjurkan pada ibu untuk tidak mengangkat beban yang berat.
b)      Menganjurkan pada ibu untuk tidak menggunakan sepatu hak yang tinggi.
7)      Keram kaki bisa disebabkan spasme otot grastoknemios, kemungkinan karena kalsium yang kurang memadai.
Konseling :
Mengajarkan pada ibu senam hamil.
8)      Berkunan-kunang karena perubahan hipertensi portural.


Konseling :
Menganjurkan pada ibu untuk berbaring kearah kiri pada saat istitahat.
9)      Nafas pendek terjadi karena tekanan yang dikeluarkan pada diafragma uterus yang membesar.
Konseling :
a)      Menganjurkan pada ibu untuk mengatur posisi badan agar tidak susah bernafas.
b)      Menganjurkan pada ibu untuk mneggunakan bantal di bawah kepala dan bahu.
10)  Uterus yang membesar mengakibatkan sulit tisur.
Konseling :
a)      Menganjurkan pada ibu untuk minum minuman yang hangat dan bebas kafein.
b)      Mengajarkan teknik relaksasi pada ibu.
11)   Nyeri ligamentum uterus uteri akibat perengangan dan hipertropi ligamen ini seharusnya tidak keliru dengan nyeri persalinan.
Konseling :
a)      Menganjurkan pada ibu untuk menghindari gerakan memuntir, berdiri dengan perlahan dan gunakan tangan untuk menyokong abdomen.
b)      Menganjurkan pada ibu untuk membungkuk kedepan untuk membebaskan diri dari rasa tidak nyaman.

b.      Perubahan psikologis
Ibu sudah menenrima kehamilannya dan dapat mulai menggunakan energi dan pikirannya secara lebih konstruktif. Pada trimester ini pula ibu dapat merasakan gerakan bayinya. Banyak ibu merasa terlepas dari kecemasan dan rasa tidak nyaman seperti yang dirasakannya pada trimester pertama. Pada trimester keduarelatif lebih bebas dari ketidaknyamanan fisik, ukuran perut belum menjadi suatu masalah, lubrikasi vagina lebih banyak dan hal yang menyebabkan kebingungan sudah surut, dia telah berganti dari mencari perhatian ibunya menjadi mencari perhatian pasangannya, semua faktor ini berperan pada meningkatnya libido dan kepuasan seks.

3.      Trimester III
a.       Perubahan fisiologis
1)      Sakit punggung
Sakit pada punggung, karena meningkatnya berat badan bayi dalam kandungan.
Konseling :
a)      Menganjurkan pada ibu untuk memakai sepatu tumit rendah.
b)      Menganjurkan pada ibu untuk menghindari mengangkat benda yang berat.
c)      Menganjurkan pada ibu untuk Berdiri dan berjalan dengan punggung dan bahu yang tegak.
d)     Menganjurkan pada ibu untuk minta pertolongan, untuk melakukan pekerjaan rumah sehingga tak perlu membungkuk terlalu sering.
e)      Menganjurkan pada ibu untuk memakai kasur yang nyaman.
2)      Konstipasi
Karena tekanan rahim yang membesar kedaerah usus selain peningkatan hormon progesterone
Konseling :
a)      Menganjurkan pada ibu untuk makan makanan berserat buahan dan sayuran serta minum air yang banyak
b)      Menganjurkan pada ibu untuk Olahraga.


3)      Masalah tidur
Gerakan janin terutama di malam hari akan membuat sulit untuk dapat tidur nyenyak.
Konseling :
Menganjurkan pada ibu untuk Posisi posisi tidur yang nyaman .

b.      Perubahan psikologis
Kebanyakan ibu juga akan bersikap melindungi bayinya dan akan menghindari orang atau benda apa saja yang dianggapnya membahayakan bayinya. Seorang ibu mungkin mulai merasa takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul pada waktu melahirkan dan merasa khawatir akan keselamatannya. Rasa tidak nyaman akibat kehamilan timbl kembali pada trimester ketiga dan banyak ibu yang merasa dirinya aneh dan jelek, sehingga memerlukan perhatian lebih besar dari pasangannya, disamping itu ibu mulai merasa sedih karena akan terpisah dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang diterima selama hamil, terdapat perasaan mudah terluka (sensitif). Hasrat seksual tidak setinggi pada trimester kedua karena abdomen merupakan sebuah pengahalang. Posisi alternatif untuk hubungan seksual dan metode alternatif yang memberikan kepuasan seksual mungkin membantu atau malah menimbulkan perasaan bersalah jika ada ketidaknyamanan dalam berhubungan seksual. Bersikap terbuka dengan pasangan atau konsultasi dengnag bidan atau tenaga kesehatan lain adalah hal yang penting.
Peran bidan dalam membantu ibu menghadapi perubahan psikologi pada masa kehamilan:
a)      Menjelaskan bahwa apa yang dirasakan ibu adalah sesuatu yang normal.
b)      Mengungkapkan bahwa setiap pengalaman kehamilan adalah unik.
c)      Menjelaskan tentang kebutuhan nutrisi, pertumbuhan bayi, tanda-tanda kelahiran, tanda-tanda bahaya kehamilan.
d)     Mendiskusikan tentang ketidaknyamanan yang dialami oleh ibu dan cara mengatasinya.
e)      Mendiskusikan tentang rencana persalinan.

2.4          Konseling Pada Ibu Melahirkan
a.      Perubahan psikologis
1)      Fase Laten: Pada fase ini ibu biasanya merasa lega dan bahagia karena masa kehamilannya akan segera berakhir. Namun,  pada awal persalinan wanita basanya gelisah, gugup, cemas dan khawatir sehubungan dengan rasa tidak nyaman karena kontraksi. Biasanya dia ingin berbicara,  perlu ditemani, tidak tidur, ingin berjalan-jalan dan menciptakan kontak mata. Pada wanita yang dapat menyadari bahwa proses ini wajar dan alami akan mudah beradaptasi dengan keadaan tersebut.
2)      Fase Aktif: Saat kemajuan persalinan sampai pada fase kecepatan maksimum rasa khawatir wanita menjadi meningkat. Kontraksi menjadi semakin kuat dan frekuensinya lebih sering sehingga wanita tidak dapat mengontrolnya. Dalam keadaan ini wanita akan menjadi lebih serius. Wanita tersebut menginginkan seseorang untuk mendampinginya karena dia merasa takut tidak mampu beradaptasi dengan kontraksinya.
Kegiatan konseling pada ibu melahirkan merupakan pemberian bantuan pada ibu yang akan melahirkan dengan konseling mengatasi ketidaknyamanan berkaitan dengan perubahan fisiologis dan psikologis selama persalinan, dan kegiatan bimbingan proses melahirkan. Tujuan aktifitas ini untuk kesejahteraan ibu dan proses kelahirannya dapat berjalan dengan semestinya.



Langakah dalam konseling kebidanan pada ibu melahirkan:
1.        Menjalin hubungan yang mengenakkan (rapport) dengan klien
Bidan menerima klien apa adanya dan memberikan dorongan verbal yang positif.
2.        Kehadiran
Merupakan bemtuk tindakan aktif keterampilan yang meliputi mengatasi semua kekacauan/kebingungan, memberikan perhatian total pada klien. Bidan dalam memberikan pendampingan klien yang bersalin difokuskan secara fisik dan psikologis.
3.        Mendengarkan
Bidan selalu mendengarkan dan memperhatikan keluarga klien.
4.        Sentuhan dalam pendampingan klien yang bersalin.
Sentuhan bidan terhadap klien akan memberikan rasa nyaman dan dapat membantu relaksasi
Misalnya : Ketika kontraksi pasien merasakan kesakitan, bidan memberikan sentuhan pada daerah pinggang klien. Sehingga pasien akan merasakan nyaman.
5.        Memberikan informasi tentang kemajuan persalinan
Merupakan upaya untuk memberikan rasa percaya diri pada klien, bahwa klien dapat menyelesaikan persalinannya.
6.        Memandu persalinan dengan memandu
Misalnya : Bidan menganjurkan kepada klien untuk meneran pada saat his berlangsung
7.        Mengadakan kontak fisk dengan klien
Misalnya : mengelap keringat,  mengipasi,  memeluh pasien, menggosok punggung klien
8.        Memberikan pujian kepada klien atas usaha yang telah dilakukannya
Misalnya : Bidan mengatakan: “Bagus ibu, pintar sekali menerannya”.
9.        Memberikan ucapan selamat kepada klien atas kelahiran putranya dan mengatakan ikut bahagia

2.5       Konseling pada ibu nifas
Masa nifas adalah masa setelah melahirkan. Pada masa nifas, ibu biasanya merasa lelah, pendampingan harus tetap diberikan oleh bidan karena 12 jam pertama masa nifas dapat terjadi perdarahan yang dapat menyebabkan kematian ibu. Setelah melakukan pemeriksaan, lakukan komunikasi interpersonal dan konseling dengan ibu tentang informasi yang berkaitan dengan masa nifas. Ciptakan suasana yang nyaman dan bina hubungan baik dengan ibu agar ibu merasa nyaman. Konseling yang dapat dilakukan pada ibu nifas diantaranya sebagai berikut.
·         Konseling untuk Ibu :
1.      Proses masa nifas
2.      Keluhan umum 1 – 72 jam masa nifas
3.      Tanda – tanda kegawatan masa nifas pada ibu
a)      Perdarahan karena sisa plasenta belum lahir
b)      Perdarahan karena kontraksi uterus lemah (atonia)
c)      Demam, cairan darah berbau dari jalan lahir
d)     Tanda komplikasi masa nifas
e)      Kebersihan ibu
f)       Kolostrum dan pemberian ASI
g)      Teknik menyusui
h)      Kebutuhan nutrisi ibu pada masa nifas
i)        Aktivitas ibu pada masa nifas
j)        Hubungan senggama masa nifas dan program KB
k)      Perubahan emosi ibu
l)        Perencanaan kunjungan rumah

·         Konseling untuk Bayi
1.      Tanda – tanda kegawatan masa nifas pada bayi (depresi bayi)
2.      Kebersihan bayi
3.      Perawatan tali pusat
4.      Imunisasi
5.      Status kesehatan bayi
6.      Penilaian pertumbuhan dan perkembangan bayi

2.6          Konseling pada Ibu Meneteki
a.      Perubahan fisiologis
Kelenjar susu mulai bekerja yang dipengaruhi hormone – hormone maka mulailah masa menyusui.
b.      Perubah psikologis
Ibu merasa terpisah dengan bayinya. Gejolak emosi yang muncul : ibu cemas dengan keselamatan bayinya, cemas tidak dapat memberi ASI dan perawatan cukup, tetapi ada juga yang sebaliknya benci kepada anaknya.
Kondisi yang mencemaskan dimana ibu takut menyusui bayinya, takut payudara jadi jelek, masalah lain karena ASI tidak keluar, takut bayi kurang makan/ASI.
c.       Pelaksanaan Komunikasi
Komunikasi ditekankan kepada peranan ibu untuk memberikan air susunya kepada bayi sebagai wujud pertalian kasih saying.

2.7          Konseling Menopause dan Klimakterium
a.      Perubahan fisiologis
Kadang – kadang muncul gangguan yang menyertai akibat menurunnya hormone estrogen dan progresteron, seperti haid tidak teratur, keringat dingin, rasa panas di wajah (hot flash), jantung berdebar – debar, sakit saat berhubungan seks (dispareuni) dll.
b.      Perubahan Psikologis
Ibu merasa cemas, takut akan masalah – masalah/keluhan – keluhan yang terjadi.
c.       Pelaksanaan Komunikasi :
a.       Menjelaskan bahwa menopause adalah salah satu siklus kehidupan wanita.
b.      Deteksi dini terhadap kelainan yang berhubungan dengan gangguan reproduksi pada usia subur maupun klimakterium.
c.       Memberikan informasi tempat – tempat pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan cek kesehatan khususnya kesehatan reproduksi.
d.      Membantu klien dalam mengambil keputusan
e.       Komunikasi pada menopause harus memperhatikan sifat – sifat dari menopause itu sendiri agar pesan yang di sampaikan dapat dicerna dengan baik.
f.       Karena fungsi dari organ tubuhnya mulai berkurang maka komunikasi bias menggunakan alat bantu untuk mempermudah dalam memahami pesan yang disampaikan.
g.      Komunikasi bisa menggunakan beberapa pendekatan di antaranya :
1)      Pendekatan biologis : yaitu menitik beratkan pada perubahan – perubahan bilogis yang terjadi pada menopause sepert anatomi fisiologi serta kondisi patologi yang bersifat mutipel dan kelainan fungsional pada menopause.
2)      Pendekatan psikologis : yaitu menitik beratkan pada pemeliharaan dan pengembangan fungsi – fungi kognitif, afektif, kontaif dan kepribadian secara optimal.
3)      Pendekatan social budaya yaitu : menitik beratkan pada masalah social budaya yang mempengaruhi menopause.

2.8       Konseling pada Lanjut Usia (Lansia)
Individu usia lanjut umumnya memiliki sikap yang lemah, baik lemah terhadap kondisi fisik maupun lemah menyesuaikan dengan lingkungannya. Yang perlu digaris bawahi disini adalah bahwa meraih usia panjang tidak hanya persoalan untuk menjaga fisik pada lansia, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mental seseorang dalam menyikapi rentang hidupnya. Seperti halnya usia lanjut disini mereka harus mampu menyikapi rentang hidupnya dengan berusaha memahami keadaan yang ada pada dirinya.
Konseling yang dilakukan pada lansia bergantung pada tipe psikologis lansia yang akan dibagi menjadi lima tipe, antara lain
1.      Tipe kepribadian konstrukstif (construction personality), tipe ini tidak perlu konseling tetapi konselor dibutuhkan sebagai pendamping bagi yang membutuhkan, namun jika beliau masih memiliki anak dan pasangan hidup berarti ia sudah cukup memiliki pendamping sebaiknya jangan dipaksakan,
2.      Tipe kepribadian tergantung (dependent personality), disini konselor dapat membangkitkan keinginan konseli untuk berbuat sesuatu bagi orang lain atau mungkin memberikan penyuluhan tentang makanan yang sehat bagi lansia, sebab konseling disini berguna agar lansia memahami bahwa kemampuan dan pengalamannya masih bermanfaat bagi orang lain,
3.      Ttipe kepribadian mandiri (independent personality), konselor bekerja dengan labih banyak mendengarkan sebelum perlahan mengubah persepsi lansia yang tidak suka menjadi tua dan pensiun, sehingga ia bisa menerima hal tersebut,
4.      Tipe kepribadian bermusuhan (hosility personality), tipe ini paling sulit didekati, mungkin konselor hanya berguna sebagai pendamping seperti pada tipe konstruktif,
5.      Tipe kepribadian kritik diri (self hate personality), konseling disini berguna untuk memberikan support bagi lansia, yang mana konseling bertujuan untuk menghilangkan persepsi yang negatif tentang diri konseling.
Mencoba memberikan pelayanan yang tepat untuk lansia adalah salah satu cara untuk membantu lansia agar dapat menerima keadaannya yang sesungguhnya ia jalani, dengan begitu jika lansia dapat memahami dirinya maka ia akan berusaha untuk dapat menyesuaikan diri dengan kondisi fisik, sosial-psikologisnya dengan tepat. Dengan memperlakukan lansia sesuai keinginannya hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa lansia perlahan-lahan akan lebih dapat menerima diri.
Keadaan yang ada pada lansia cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan secara khusus, baik kesehatan fisik maupun kesehatan jiwa. Oleh karena itu diperlukan penyuluhan kepada lansia agar dapat menerima keadaan dengan mencari sisi positif dari kemampuan dan pengalaman yang ada pada konseli (lansia), agar ia berpikir bahwa ia masih berguna dan dibutuhkan orang lain.

2.9       Konseling keluarga Berencana (KB)
Salah satu aspek penting dalam meningkatkan keberhasilan program KB dan kesehatan reproduksi perempuan adalah dengan melakukan konseling. Dengan konseling, bidan dapat membantu klien untuk memilih dan memtuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan. Jika menggunakan teknik konseling yang baik dan memberikan informasi yang tepat, maka klien akan lebih yakin dan merasa lebih puas dalam menentukan jenis kontrasepsi yang akan digunakan.
Untuk mencapai tujuan konseling dalam pelayanan KB, bidan sebagai konselor harus mempunyai sikap sebagai berikut.
1.        Memperlakukan klien dengan baik. Sikap yang dibutuhkan bidan untuk dapat memperlakukan klien dengan baik diantaranya sabar, menghargai setiap klien, membina rasa saling percaya (trust), terbuka dan tidak menganggap remeh klien.
2.        Interaksi dengan klien. Pada saat melakukan interaksi dengan klien, bidan sebagai konselor harus mendengarkan apa yang disampaikan klien. Gunakan teknik mendengar efektif dan bersikap empati. Misalnya, ibu dengan usia dan jumlah anak yang cukup atau mungkin lebih, datang ke bidan menghendaki informasi mengenai metode kontrasepsi yang akan digunakan, bidan tidak boleh secara langsung melakukan penilaian (judgement) terhadap ibu karena selama ini tidak menggunakan kontrasepsi apapun, bidan sebagai konselor harus memberikan informasi mengenai metode operasi (tubektomi dan vasektomi).
3.        Menghindari pemberian informasi yang berlebihan. Penjelasan diperlukan klien untuk menentukan pilihan (informed choice). Penjelasan dengan menggunakan bahasa yang dimengerti klien dan memfokuskan (focusing) akan lebih bermanfaat daripada menjelaskan semua jenis kontrasepsi. Pemberian informasi yang terlalu banyak akan menyebabkan ketidakmengertian dan kesulitan klien untuk mengingat informasi, sehingga klien sulit untuk menentukan pilihan. Bidan, sebagai konselor, harus mempersilahkan klien untuk berdiskusi, bertanya, dan mengajukan pendapat.
4.        Menyediakan metode yang diinginkan klien. Dalam proses konseling KB, bidan harus mengkaji apakah klien sudah mengerti mengenai jenis kontrasepsi, cara penggunaan, serta keuntungan dan kerugiannya. Proses konseling dimulai dengan memperkenalkan klien pada berbagai jenis kontarsepsi yang tersedia atau yang ada dalam proram KB. Bidan mendukung klien untuk berpikir dan memberi kesempatan kepada klien untuk melihat persamaan dan membandingkan berbagai jenis kontrasepsi yang ada agar klien lebih mudah mengambil keputusan.
5.        Membantu klien mengerti dan mengingat. Penggunaan alat peraga (contoh model) berbagai jenis kontrasepsi akan sangat membantu klien untuk mengerti tentang berbagi jenis alat kontrasepsi. Bidan dapet menggunakan lembar balik (flip charts), poster, pamflet, halaman bergambar, model dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), ataupun menciptakan sendiri model untuk melakukan proses konseling tentang KB. Alat peraga boleh dibawa pulang oleh klien dengan harapan klien dapat membaca dan mempelajarinya dirumah.

v  Langkah-langkah konseling KB (SATU TUJU)
Dalam memberikan konseling khususnya bagi calon klien baru, hendaknya dapat diterapkan enam langkah yang dikenal dengan kata kunci SATU TUJU. Penerapan SATU TUJU tidak perl dilakukan secara beurutan karena petugas harus meyesuaikan diri dengan kebutuhan klien. Beberapa klien membutuhkan lebih banyak perhatian pada langkah yang satu dibandingkan dengan langkah yang lainnya.
Kata kunci SATU TUJU adalah :
SA              : berikan Salam kepada klien secara terbuka dan sopan.
T                 : Tanyakan kepada klien informasi tentang dirinya.
U                 : Uraikan kepada klien mengenai pilihannya dan beritahu
  apa pilihan reproduksi yang paling mungkin, termasuk
  pilihan beberapa jenis kontrasepsi.
TU              : bantulah klien menentukan pilihannya.
J                  : Jelaskan secara lengkap bagaimana menggnakan
  kontrasepsi pilihannya.
U                 : perlunya dilakukan kunjungan ulang.

Gallen dan Leitenmaier (1987) memberikan satu akronim yang dapat dijadikan panduan bagi petugas klinik KB untuk melakukan konseling. Akronim tersebut adalah GATHER yang merupakan singkatan dari :
G – Greet
Memberikan salam, memperkenalkan diri dan membuka komunikasi.
A – Ask atau Assess
Menanyakan keluhan atau keluhan atau kebutuhan pasien dan menilai apakah keluhan/keinginan yang disampaikan memang sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
T – Tell
Beritahu bahwa persoalan pokok yang dihadapi oleh pasien adalah seperti yang tercermin dari hasil tukar informasi dan harus dicarikan upaya penyelesaian masalah tersebut.
H – Help
Bantu pasien untuk memahami masalah utamanya dan masalah itu yang harus diselesaikan. Jelaskan beberapa cara yang dapat menyelesaikan masalah tersebut, termasuk keuntungan dan keterbatasan dari masing-masing cara tersebut.
E – Explain
Jelaskan bahwa cara yang terpilih telah diberikan/dianjurkan dan hasil yang diharapkan mungkin bisa segera terlihat atau diobservasi beberapa saat hingga menampakkan hasil seperti yang diharapkan.
R – Refer atau Return visit
Rujuk atau fasilitas ini tidak dapat memberikan pelayanan yang sesuai atau atau buat jadwal kunjungan ulang apabila pelayanan terpilih telah memberikan perhatian


BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Konseling kebidanan adalah suatu proses pembelajaran, pembinaan hubungan baik, pemberian bantuan, dan bentuk kerja sama yang dilakukan secara professional(sesuai dengan bidangnya) oleh bidan kepada klien untuk memecahkan masalah, mengatasi hambatan perkembangan, dan memenuhi kebutuhan klien.
Tujuan konseling diarahkan sebagai layanan yang membantu masalah yang dihadapi klien.Oleh karna itu, bidan sebagai konselor harus berusaha mengambangkan potensi yang ada agar dapat digunakan klien secara efektif

3.2  Saran
a.       Agar mahasiswa dapat menggali ilmu lebih dalam lagi dalam memahami teori sehingga dapat diterapkan di lahan praktek.
b.      Supaya mahasiswa lebih disiplin serta mengefisienkan waktu dalam menjalankan tugasnya.


DAFTAR PUSTAKA

Ade Rahmatillah. 2012. Diaskes dari

Tyastuti, Siti, dkk. 2008. Komunikasi & Konseling  Dalam Pelayanan Kebidanan.
Yogyakarta: Fitramaya

Wulandari, Diah. 2009. Komunikasi & Konseling Dalam Praktik Kebidanan.
Yogyakarta: Nuha Medika

Yunita, Rita, dkk. 2009. Komunikasi Konseling Dalam Kebidanan. Jakarta:
Salemba Medika

1 komentar: